Cerpen: Ayah






          Ayah
(oleh Al-abbas Sangadji)



                        Hidupku berubah saat aku memiliki seorang istri, apa lagi kini ia sedang mengandung bibit anakku. Setiap hari aku selalu ingin terbangun pagi, memastikan istri dan calon anakku terbangun dengan nyaman, membuat air hangat agar anak berkulit tipis diperut itu tidak kedinginan.

            Semenjak istriku memberi tahuku bahwa ia mengandung, aku amat bersemangat menjalani hidupku. Walau terkadang aku sadar bahwa aku hanya seorang tukang bersih-bersih yang mungkin tidak akan bisa membuat mereka bahagia atas harta.
            Aku terbangun jam 4:00, yang pertama aku lakukan adalah merebus air, untuk membuat teh agar istri yang teramat aku cinta dapat menikmati hangatnya pagi dengan minuman yang aku buat. Bukan hanya itu, aku bereskan setiap sudut rumah disetiap harinya, agar pada saatnya tiba, saat dimana anak ku terlahir di dunia yang tidak indah, ia bisa merasakan sedikit keindahan dengan kerapihan yang ada.
            Aku adalah Sabari, orang tuaku menamakan itu agar aku menjadi orang yang sabar dalam hal apapun, bukan nama yang hebat, bahkan teramat kampung bagi sebagian orang.
            Istriku bernama Izma, wanita berkerudung yang amat manis, lembut hatinya, baik tutur katanya. Aku masih tidak menyangka bahwa ia memilihku yang hanya memiliki motor butut, dan gaji yang begitu pas-pasan,  bahkan amat jauh dari kata UMR.
            Teramat jauh dari kata bahagia jika makna bahagia adalah sekedar harta atau tahta. Bagi Izma, bisa berada didekapku adalah anugrah yang indah. Meski banyak kekurangan, ia selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Wanita manis berlesung pipi itu tidak pernah mendorongku untuk pergi ke mall mewah, atau makan di tempat mahal. Amat sederhana kami, bahkan satu telur dadar untuk berdua amat mewah bagi kami, lebih-lebih ada uang untuk membeli kecap yang dapat mempermanis suasana kesederhanaan.
            Begitu pun dengan rumah yang kami tinggali, amat kumuh, bahkan saat hujan tiba atap-atap yang ada bukan membantu untuk menjadi pelindung dari derasnya air, tetapi malah ikut menghujani kami. Iya atap-atap itu seperti hujan yang turun ke bawah menghantam aku dan Izma yang mencoba berteduh di bawahnya.
            “Apakah tidak apa-apa hidup denganku yang penuh dengan kemiskinan, Iz?”
            “Sabari suamiku, aku tidak pernah belajar teori-teori ekonomi, aku bodoh akan hal itu. Jadi aku tidak tahu, apakah dirimu itu kaya atau miskin.” Kata Izma menegarkan hati suaminya yang dirundung gelisah
            Kecup hangat pun mendarat di dahi wanita itu, senyum simpul pun keluar dari keduanya. Mereka bahagia!
            Bulan-bulan terus berjalan, perut Izma pun semakin membesar, kini ia pun tidak boleh bekerja keras oleh Sabari, bahkan mencuci pun diambil alih oleh Sabari.
            “Kalian berdua adalah belahan jiwaku, membuatku semangat disetiap harinya, akan ku jaga kalian, karena kalian adalah harta terbesar yang aku miliki.” Kata Sabari dalam hati.
            Mereka hidup dalam bahagia, tidak pernah mengingat luka. Karena apabila luka itu mencoba untuk muncul, mereka selalu ingat, “aku mencintainya hari ini, pun begitu dengan esok.”
            Setiap malam sebelum tidur, Sabari mencuci kaki sang Istri. Hanya satu harapnya, ia hanya ingin surga kecil untuk sang anak terlihat bersih dan indah. Dengan amat telaten Sabari membersihkan setiap sudut yang ada. Terkadang Izma terkesima atas apa yang dilakukan oleh sang Suami, amat jarang laki-laki seperti ini di era modern dimana mereka lebih mementing nafsu semata tanpa sebuah rasa cinta yang nyata.
            Peluk-peluk hangat untuk Sabari tidak pernah lupa diberikan Izma pada saat-saat yang tepat, amat tidak ingin ditinggal, karena cintanya kepada Sabari yang buruk rupa itu sangat teramat besar.
Memasuki, 9 bulan masa kehamilan, Sabari mulai sibuk mencari pinjaman ke sana ke mari untuk menutupi uangnya yang tidak seberapa itu. Bahkan ia juga mengurangi jatah makan siangnya agar setiap lembar itu dapat dikumpulkan olehnya. Sampai-sampai badannya pun semakin kecil karena kekurangan makan.
Bukan hanya itu, ia juga menambah pekerjaannya. Dari tukang bersih-bersih, ia juga merambah menjadi kuli angkut dipasar di sore harinya setelah pulang bekerja. Semua ia lakukan semata-mata agar apa yang ia cita-citakan berjalan mulus. Tidak pernah ia mengingat kata “menyerah”. Hanya ada kalimat “Semangat, semangat, semangat!” yang terus berputar-putar di atas kepalanya.
Meskipun badannya teramat lelah ia tidak pernah lupa untuk terus melakukan perlakuan terbaik untuk sang Istri, menyiapkan air hangat, untuk mandi dan membuat teh. Untuk mencuci surga di telapak kaki.
“Maafkan aku yang amat merepotkan ini, kamu jadi seperti tidak terurus, kamu begitu berantakan suamiku.” Kata Izma yang mengkhawatirkan suaminya.
Senyum pun keluar dari wajah Sabari, walau di dalam senyum itu terdapat kecemasan yang begitu besar, “dapatkah aku membahagiakan mereka dikemudian hari?” kata Sabari di dalam lubuk hatinya.
“Aku tidak apa-apa, kamu tidak usah memikirkan aku dahulu. Keselamatan jiwa, dan bayi kita adalah hal utama untuk sekarang.” Kata Sabari, sembari mengelus kepala sang istri, lalu mendekapnya, selanjutnya mendaratlah kecup hangat di dahi wanita itu.
“Terima kasih Tuhan, kau berikan lelaki yang tidak rupawan dan juga tidak hartawan, namun ia amat membuatku bahagia...” Rasa syukur di hati Izma.
Wajah Sabari yang tadinya sudah hitam, sekarang lebih hitam lagi. Tubuhnya yang begitu kurus, sekarang lebih kurus lagi. Kerja keras, kerja keras, tanpa pernah mengurus dirinya sendiri. Rambut ikalnya pun begitu bau matahari karena sinar mataharilah yang kini menjadi teman akrabnya.
Sore ketika itu, suasana pasar tempat Sabari mencari rezeki tambahan begitu biasa, namun setelah menjadi bising karena ada orang yang berteriak-teriak.
“Sabari... Sabari....” Kata orang itu, ia mencari Sabari..
Sabari yang tengah sibuk mengangkat kardus pun terkaget-kaget bukan kepalang. Bahkan kardus-kardus yang ada dipikulannya pun terjatuh, membuat pemilik toko marah.
“Kalo kerja pakai otak, jangan otak kamu tinggal di rumah..”
“Maaf pak, saya tidak sengaja.”
Sabari masih terheran-heran, ia tidak terkenal seantero kampung, bahkan ia tidak pernah membuat sebuah masalah, tetapi mengapa ada seseorang yang mencarinya? ”Apakah ingin menagih hutangku?” Ia terus kepikiran atas apa yang terjadi.
Namun sosok lelaki yang mencarinya pun menemuinya, ia tergesa-gesa menarik napas.
“Ri, bini mu, Ri....” nada panik.
“Kenapa biniku?” Sabari pun ikut panik.
“Dia mau melahirkan anakmu, Ri, udah dibawa warga ke puskesmas desa, lebih baik kamu menyusul sekarang...”
Tanpa menjawab, kaki Sabari pun berlari menuju puskesmas. Rasa bangga hadir di dada laki-laki sederhana itu, tetes-tetes air mata pun terjatuh, ia amat terharu akan apa yang terjadi. Tuhan membuat skenario amat indah untuk hidupnya, rasa syukur pun dipanjatkan olehnya melalui hati kecilnya itu.
Sampailah Sabari di depan halaman puskesmas tersebut, warga yang mengantarkan sang istri pun menyambut.
“Cepat masuk, Ri, istrimu sudah di dalam, cepat!”
Sabari pun langsung memasuki ruang bersalin yang begitu sederhana itu, kakinya begitu lelah, napasnya tergesa-gesa, namun ia tidak berhenti untuk menambahkan semangat sang istri.
“Aku di sini, kamu tidak boleh lemah Izma, aku bersamamu....”
“Ayo ibu dorong terus...”
Doa-doa terperanjat untuk nyawa dua orang, nyawa Izma dan anaknya.
Tangis haru pun pecah di ruang bersalin itu, suara bayi yang amat merdu itu pun muncul di dunia, begitu merdu.
“Selamat ya pak, anaknya perempuan, cantik seperti sang ibu.”
Lalu digendonglah bayi tersebut oleh Sabari dan dibawanya untuk mendekat ke tempat tidur Izma. Suara merdu si bayi, dibalaskan dengan suara merdu adzan dari Sabari. Izma yang masih begitu lemas hanya tersenyum kecil, lalu tidak sadarkan diri.
Dengan suara panik, Sabari pun memanggil dokter, dokter pun datang dengan segara dan  memeriksa apa yang terjadi pada Izma.
Dengan wajah yang tidak percaya, dokter pun mencoba menguatkan Sabari.
“Ini hanya sebagian kecil dari cobaan Tuhan. Ibu dari sang anak telah menghadap Tuhan, kemungkinan besar kehabisan darah karena melahirkan anaknya...”
Sabari yang masih menggendong anaknya pun lemas tidak berdaya. Wanita yang amat ia cintai pergi tanpa suara pamit, amat tega meninggalkannya dengan sang anak.
Tahun-tahun pun berjalan, rotasi bumi bergerak begitu cepat, membuat peristiwa menyedihkan Sabari terlewatkan. Putrinya pun sudah beranjak besar, sudah kelas 6 ia. Hampa hidup Sabari tanpa adanya istri yang mendampinginnya.
Pagi-pagi buta, seperti biasanya ia menjadi seorang ayah pun juga menjadi seorang ibu untuk anaknya, saat ia tengah merapihkan tempat tidur, ia menemukan secarik kertas.
“Sabari yang aku cintai, saat aku sedang menulis ini engkau tengah tertidur lelap disebelahku. Badanmu begitu rapuh namun mencoba untuk kuat untuk diriku, serta anakmu. Terima kasih tidak akan pernah cukup untuk perjuanganmu dalam menopang keluarga kecil ini. Maafkan diriku yang hanya bisa membuatmu lelah atas semuanya, aku menyusahkanmu bukan? Terima kasih, kamu adalah laki-laki terkuat yang aku temukan. Tidak pernah aku temukan tangis dari matamu, hanya selalu menemukan senyum-senyum tabah dari orang yang memiliki banyak kekurangan. Aku sangat bangga atas dirimu, tidak salah aku memilihmu. Dariku, Izma, istri yang amat kau cintai.”
Kertas ditangan Sabari pun sudah dipenuhi tetes air mata haru. Di dalam hati ia berkata.
“Mungkin aku merasakan kesepian tanpa hadirmu, namun aku amat bahagia, aku bahagia karena ada wanita yang menerima kekuranganku ini, tenanglah kamu di sana sayang.”


Komentar

share!