Review buku: Andrea Hirata - Ayah



Review buku: Andrea Hirata - Ayah
Wednesday, September 27, 2017
11:29 AM

Resensi oleh: SayogaNd

Source: Google
Judul buku: Ayah
Tahun terbit: 2015 (cetakan kelima)
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 392 hal

Sinopsis:

Cerita dimulai dari kisah masa kecil sang tokoh utama, yakni Sabari. Seorang anak orang miskin di pulai belitong yang merupakan putra seorang ayah yang pekerja keras namun puitis. Meski begitu, sifatnya tersebut ternyata tidak menurun kepada Sabari sama sekali. Sabari justru tumbuh bersama anak-anak bandel di sekolah yang membuatnya dicap sebagai anak lugu yang pemalas. Hanya satu mata pelajaran yang merupakan suatu kebanggaan Sabari, yakni bahasa Indonesia. Nilainya selalu 9,5. Seharusnya memang 10, tetapi sang guru merasa bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan saja.

Semuanya berubah ketika Sabari bertemu dengan seorang wanita tukang contek yang sangat cantik bernama Marlena. Sejak saat pertama mereka bertemu, Sabari begitu mengagumi Marlena hingga menuliskan beribu puisi untuknya yang setiap hari ditempel di mading sekolah. Entah ia belajar puisi darimana. Namun sayang seribu sayang, Sabari bukan orang terpandang di sekolah. Pintar tidak, kaya pun tidak. Maka sudah tentu Marlena tak sudi berteman dengan Sabari.

Seketika Sabari berubah menjadi pekerja keras. Bila minggu kemarin ia menerima nilai matematika 4, minggu depannya ia langsung menjadi jawara olimpiade matematika. Bila minggu ini ia dapat nilai olahraga terburuk di kelas, minggu depannya ia menjadi atlit lari yang berhasil menjuarai lomba lari di Belitong. Teruslah Sabari tumbuh sebagai pekerja keras yang berprestasi di sana-sini.

Meski Marlena tetap menolaknya mentah-mentah karena wajah buruk rupa yang dimiliki Sabari, namun sesuai namanya, Sabari tetap sabar mencintai Marlena dan terus tumbuh menjadi pekerja keras. Suatu ketika Marlena dihamili oleh lelaki tak bertanggung jawab, Sabari rela bertanggung jawab untuknya, membangun rumah dengan tangan sendiri, yang diimpikannya akan ditempati dirinya, Marlena, dan anaknya nanti.

Usai melahirkan, Marlena kabur entah kemana, sehingga Sabari harus membesarkan anak Marlena sendiri sembari bekerja. Meski berkali-kali dikhianati, Sabari tetap sabar mencintai Marlena dan merawat anak Marlena seperti anak sendiri. Walau harus melakukan segalanya sendirian.

***

Novel "Ayah" patut diacungi jempol. Mulai dari cover yang kalem tapi menarik, juga dengan gaya bahasa khas Andrea Hirata yang klasik dan entertaining, Andrea berhasil membawa pembaca ke dalam suasana romansa paling romantis, kisah cinta Sabari yang tak pernah padam walau beribu kali ditolak. Semangat Sabari dalam mengejar cintanya dan menjadi orang berprestasi disana-sini, menjadi motivasi tersendiri bagi pembaca untuk kembali menjadi manusia yang memperjuangkan cinta secara positif.

Momen di mana Sabari harus merawat anak Marlena sendirian, yang notabene bukan anak kandungnya, di rumah yang dibangunnya sendiri, juga menjadi titik mengharukan dari novel ini. Seorang ayah yang membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan puisi, dan untuk pertama kalinya ia merasakan cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan. Saya pribadi tidak pernah bisa membayangkan bisa menjadi manusia yang sesabar Sabari. Namun itulah uniknya Andrea Hirata, mampu menciptakan karakter-karakter yang hidup di dalam hati pembacanya.

Secara objektif, buku ini sangat direkomendasikan bagi semua orang yang ingin kembali diingatkan tentang makna cinta yang sebenarnya. Sangat menyentuh dan menginspirasi. Novel ini saya beri nilai:

95! Excellent!



Komentar

share!