Wawancara Penulis: Just-Anny (2015)


Menulis dari Hati

Oke, ini adalah pembahasan pertama Kafe Kopi. Selamat menyimak, dan semoga ini bisa memancing kalian supaya kalian ikutan sharing di sini ya J


Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Selain karena kita bebas menentukan alur cerita, kita juga bebas dalam mengekspresikannya. Lalu muncul pertanyaan baru: lalu mengapa ada tulisan yang laku dengan yang tidak laku ya?

Mungkin kalian juga merasakan, ada beberapa penulis yang tulisannya mampu memikat hati berkali-kali, ada juga beberapa penulis yang menulis puluhan bahkan ratusan cerita dengan cerita yang seluruhnya tidak menarik bagi kita.

Ada yang beranggapan bahwa hal ini disebabkan karena selera pasar. Bisa jadi, tetapi ingat, pasar tidak bisa dituduh. Kitalah yang harus beradaptasi.

Kalau menarik-tidak menariknya sebuah karya sastra ditentukan oleh selera pasar, lalu mengapa JK Rowling mampu mengubah selera pasar dari yang tadinya cinta-cintaan berubah menjadi misteri? Ketika JK Rowling melahirkan Harry Potter, pandangan orang-orang langsung beralih ke cerita misteri. Lantas lahirlah ribuan judul misteri dengan konsep “sihir”, mirip seperti harry potter. Selera pasar berhasil dikendalikan penulis.

Ada lagi kasus lokal, yakni Habiburahman El Shirazi. Ia membuat novel campuran genre spiritual (islami) dengan cinta. Ketika novel Ayat-Ayat Cinta diterbitkan, pandangan pasar langsung berpindah. Orang-orang langsung menyukai cerita cinta islami. Lantas lahirlah ribuan judul buku dengan konsep yang sama. Selera pasar berhasil dikendalikan penulis.

Apa yang bisa kita petik dari 2 kasus di atas? Ya, berarti tidak hanya pasar yang mengendalikan penulis, tetapi penulis juga mampu mengendalikan pasar.

***

Just-Anny, salah satu penulis di Kafe Kopi, menjelaskan bahwa orang-orang akan tertarik dengan sendirinya ketika kita menulis sesuatu yang berkualitas. Tulisan berkualitas yang dimaksud adalah bukan tulisan yang kosakatanya absurd, tetapi tulisan yang bisa dijiwai oleh penulisnya.

Berarti, langkah pertama untuk melahirkan tulisan berkualitas adalah penjiwaan alias menulis dengan hati. Tulisan yang ditulis dari hati, akan mudah menyentuh hati pembacanya.

Lantas tulisan seperti apa yang bisa dijiwai oleh penulisnya?

Sekarang saya beri contoh lagi.

Bisakah kita mencintai orang yang tidak kita kenal? Tidak.

Bisakah kita memahami perasaan terdalam dari seseorang yang tidak kita kenal? Tidak.

Berarti, untuk bisa menjiwai, untuk bisa menulis dari hati, tulislah sesuatu yang paling kita kenali / pahami. Penjelasan teori filsafat ini pernah dijelaskan oleh Dewi Lestari, di salah satu karyanya, Madre.

JK Rowling banyak menulis cerita misteri karena memang dia memahami cara melogiskan sesuatu yang tidak logis.

Habiburahman El Shirazi banyak menulis cerita cinta islami karena memang dia memahami Islam, dan dia memahami cinta.

Lihat, pemahaman mendalam, akan membuat orang melihat tulisan kita seperti tulisan berkualitas.

***

Sekitar 6 tahun yang lalu saya pernah menulis novel tentang kisah cinta anak SMA. Di situ diceritakan bahwa Si Lelaki ini adalah anak dari keluarga super kaya dengan rumah besar dan punya banyak koleksi helikopter. Tetapi Sang Ayah adalah tukang melamun, Sang Ibu juga digambarkan doyan santai-santai, dan Sang Anak kesehariannya bergaul dengan anak-anak miskin di sekolah biasa.

Dan akhirnya naskah itu ditolak mentah-mentah oleh penerbit.

Mengapa? Ya, saya tidak tahu bagaimana kehidupan orang kaya kelas eksekutif. Seharusnya kehidupan mereka elegan, berkelas, dan kehidupan mereka didampingi banyak asisten berseragam.
Saya menulis apa yang tidak saya pahami. Saya tidak bisa menjiwainya. Sehingga tulisan saya jadi terasa tidak berkualitas, padahal novel itu penuh bahasa puitis.

Sampai sini paham ya?

Melalui hasil wawancara dengan Anny, dan dikolaborasikan dengan pengalaman saya, saya ingin penulis Kafe Kopi paham cara menulis sesuatu yang berkualitas. Tulislah sesuatu yang paling kalian pahami, sehingga kalian mampu menulis dengan hati. Kalau belum ada, tingkatkan wawasan kalian dengan cara rajin-rajin membaca dan mengamati.


Yang punya pengalaman, atau punya ilmu tentang dunia kepenulisan, Yuk ceritakan di sini! Tidak perlu merasa malu atau mencoba menutup-nutupi ilmu yang sudah dimiliki, karena sesungguhnya enggan berbagi adalah keangkuhan J


Komentar

share!