Ngopi Doeloe: Sastra Islam vs Sastra Sekuler


Sastra Islam vs Sastra Sekuler
Oleh: Sayogand

Bicara soal sastra, banyak sekali perdebatan yang muncul. Salah satu perdebatan yang menurut saya menarik adalah perdebatan tentang pengklasifikasian sastra. Beberapa pihak mengatakan bahwa sastra sebaiknya jangan diklasifikasikan. Biarlah sastra tumbuh apa adanya dengan tetap menjadi sastra apapun gaya dan bentuknya. Namun di lain pihak, ada yang mengkritik mengapa sastra yang tumbuh di Indonesia hanya sastra umum saja? Sedangkan di berbagai negara, sudah muncul berbagai pengklasifikasian sastra. Salah satu sastra yang terkenal adalah sastra Hindu.


Sastra Hindu menghidupkan pemikiran berbagai kalangan. Kalau sastra hindu saja ada, mengapa sastra Islam tidak ada?

Perdebatan ini begitu kuat lahir di awal tahun 2000-an. Berbagai tokoh kritikus sastra memiliki pendapat yang berbeda-beda. Putu Arya Tirtawirya dalam bukunya “Antologi Esai dan Kritik Sastra”, mengatakan bahwa sastra adalah sastra, tidak perlu dikotak-kotakkan dan membuat pening. Bahkan Edy A. Effendy, seorang sastrawan pernah menulis esai sastra yang mengusung judul “Menolak Sastra Islam”.

Logika sederhananya, sastra yang bergaya islam, memiliki visi yang berbeda dengan sastra umum atau sastra sekuler. Sastra sekuler memiliki acuan bahwa sastra adalah bentuk ekspresi diri alias karya tulis ekspresionis. Sedangkan sastra Islam, menurut Harun Daud, memiliki acuan bahwa sastra adalah bentuk tulisan yang membantu mengarahkan manusia pada ilmu yang menyelamatkan. Dengan kata lain, sastra islam bersifat Qurani atau berdasar pada ajaran Al-Quran.

Tonggak yang berbeda inilah yang membuat kritikus sastra ramai memperdebatkan apakah perlu dimunculkan sastra islam di Indonesia. Bila ada, siapa pasarnya? Siapa pelaku seninya?

Belakangan ini mulai muncul gaya-gaya baru dalam dunia kepenulisan islam. Yakni munculnya karya-karya sastra entah itu berupa cerpen ataupun novel yang berlatarkan pesantren dan menceritakan kisah hidup seorang ustadz. Namun, apakah seperti itu yang disebut sastra islam? Atau itu adalah sastra sekuler yang “kebetulan” menceritakan tentang ustadz dan pesantren?

Menurut Helvy Tiana Rosa dalam bukunya “Segenggam Gumam”, sastra islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan ditambah dengan wawasan keisalaman yang luas. Sehingga penilaian karya tersebut sastra islam atau bukan, tidak hanya dilihat dari isi tulisannya, melainkan juga dilihat dari pribadi dan pengalaman pengarang, proses pembuatan karya sastra, hingga dampaknya pada masyarakat yang menikmati karya sastra tersebut.

Menurut saya, sastra yang terlihat sekuler, bisa jadi sebenarnya sastra islam. Dan begitupun sebaliknya. Tapi meski kadang melebur, mereka tidak pernah bisa benar-benar bersatu. Peleburan ini yang membuat masyarakat pening dan malas memikirkannya. Ini yang membuat statement “sastra itu sastra, tak ada pengkotak-kotakan dalam sastra” tertanam dalam benak masyarakat dari dulu hingga sekarang.

Tak ada paksaan bagi pengarang untuk harus menjadi penulis sastra islam ataupun sastra sekuler. Seperti yang kita tahu, Allah tidak pernah memaksa manusia untuk memeluk agama islam. Tak ada paksaan dalam agama. Begitupun dengan menulis. Seorang sastrawan sebenarnya berhak untuk memilih jalannya sendiri, ingin menganut sastra “freedom of expression” atau sastra yang merupakan bentuk lain dari kreasi dakwah kebenaran. Jika memang sulit mengedukasi masyarakat, setidaknya kita edukasi para sastrawan agar mereka tahu sastra macam apa yang mereka anut selama ini.
Allahu a’lam.


Kamu punya pendapat tentang sastra islam dan sastra sekuler? Yuk share di kolom komentar!


Komentar

share!