Ngopi Doeloe: Berbagi Kata, Berbagi Makna


Berbagi Kata, Berbagi Makna

            Orang yang sabar tidak akan pernah berkata “sabar itu ada batasnya.” Dan jelas aku ini adalah salah satu orang yang tidak sabar. Tidak pernah. Dalam hal apa saja. Tidak sabar saat penasaran dengan suatu hal. Tidak sabar saat ingin mengekspresikan kegelisahan. Bahkan tidak sabar untuk bertindak keras pada subjek yang menjengkelkan.
            Tapi apa daya, penulis hanya punya senjata berupa objek putih beserta tinta di atasnya. Namun tanpa disadari, senjata itu sangat berbahaya. Senjata yang dapat mengabadikan hal berharga. Senjata yang dapat mencuci otak pembacanya. Senjata yang setiap era-nya menciptakan revolusi dunia.
            Sebenarnya kata di atas hanya pembuka sharing saya saat ini, tidak usah dipikirkan. Maaf jika bahasanya baku, karena mungkin pribadi saya yang benar-benar kaku. Saya tekankan kembali, ini hanya sharing. Mari bersama membuka pikiran karena pengalaman orang tidak akan pernah lengkap sampai tutupnya umur seseorang. Berkomentar!

***
            Batas kesabaran saya habis, sehingga berani untuk menulis dan mengajak rekan-rekan untuk berpikir bersama. Mengenai: “Mengapa Anda menulis?”, “Apa yang Anda tulis?”, “Untuk siapa Anda menulis?”
            Apa yang membuat saya jengkel sehingga menyinggung hal tersebut?
            “Kertas ajaib yang dapat ditukar dengan apapun.”
            Yap. Uang. Sesekali prioritas manusia tertuju, fokus pada kertas ajaib. Sesekali saya bahagia, saat redaksi menukarkan kertas yang saya kirim dengan kertas yang ajaib itu. Sesekali saya kecewa, saat redaksi tidak membayar saya. Tapi, berulang kali saya jengkel saat mendengar “nulis gituan dibayar berapa?” atau “Kak, kalau saya ikut nulis di situ digaji nggak?” Sangat jengkel.
            Penulis bukan profesi yang hina, sehingga banyak yang ingin menjadi penulis dengan niat yang menurut saya salah. Maaf, busuk. Tahukah Anda, Darwin dengan teorinya telah merevolusi dunia? Tahukah Anda, Soekarno dengan goresan penanya telah merevolusi Indonesia? Dapat uang banyak? Tidak. Mereka hanya berbagi. Berbagi pendapat yang menurut mereka sangat berdampak pada apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca tulisan mereka.
            Tentu para rekan sekalian sering membaca buku atau tulisan orang lain, dan bisa membedakan mana tulisan berkualitas atau sekadar berkuantitas. Mana tulisan yang benar-benar untuk berbagi mana tulisan yang benar-benar untuk mengejar kertas ajaib. Saya tambahkan, atau untuk mengejar popularitas. Bisa membedakan?
            Ada dua fenomena yang harus direnungkan:
1.      Orang menulis benar, tapi niatnya salah.
Bayangkan, penulis yang sudah terkenal apalagi sering menjadi mega-best seller karyanya akan ditagih secara terus menurus hingga terjadi penurunan kualitas dari karya sebelumnya. Semata-mata karena keterpaksaan waktu dan perubahan niat. Karyanya untuk penggemarnya, atau untuk redaksi? Makan tuh redaksi. Bahkan saya lebih mengagumi anak SD yang menulis diary, daripada penulis yang seperti itu.

2.      Orang niatnya benar, tapi tulisannya salah.
Niatnya benar, untuk berbagi. Tapi tulisannya? Bahkan sekarang berita-berita di media online sudah terlalu banyak mengandung hoax, saling menjatuhkan, provokasi dan emosi. Untuk apa? Hanya untuk popularitas yang sering mereka sebut rating.

Tidak semua penulis seperti fenomena di atas. Tapi hari ini, banyak. Saya tidak munafik, saya pun butuh uang. Semua orang butuh kertas ajaib yang licik itu. Tapi benar, saya tidak tega saat hobi yang mulia ini dikotori dengan hal hina seperti itu.
Bahkan seorang HRD (orang yang biasa merekrut pegawai baru) kebanyakan tidak suka saat calon pegawai baru tersebut bertanya “saya digaji berapa?” walaupun itu haknya. Karena terlihat prioritasnya saat itu bukan untuk kerja. Kebanyakan perusahaan butuh orang yang mencintai pekerjaannya, bukan orang yang digaji besar, tapi tahun depan sudah resign dan cari perusahaan lain. Apa kita sebagai penulis mencintai pekerjaan kita? Apa prioritas kita?
Toh jika tulisan kita bagus, kertas ajaibnya akan datang sendiri pada kita, dengan ikhlas pula. Tapi sekali lagi, jangan sampai merubah niat kita yang mulia dari awal! Pilih saja: “Pembaca yang menyukai tulisan kita dan membelinya” atau “Pembaca yang membeli tulisan kita tapi tak menyukainya”?
Maaf bila tulisan ini tidak terlalu berarti, maaf bila banyak singgung dan kesalahan kata. Mari perbaiki niat. Mari berbagi kata dengan ikhlas. Berbagi kata, berbagi makna.


Salam, manusia.



2015, Nurfaqih Ilham.


Komentar

share!