Cerpen: Susu Cokelat


Susu Cokelat
Oleh :  tyataya

            Seminggu setelah Bapak meninggal di pekarangan rumah karena serangan jantung, Ibu menjadi sering melamun dan sesekali aku melihat ada butiran-butiran air bening yang keluar dari sudut matanya. Setiap kali aku bertanya mengapa, Ibu selalu menggelengkan kepalanya dengan berat dan matanya sayu-sayu akan terpedar mengikuti lekuk wajahnya yang terlihat semakin keriput itu. Aku tahu diam-diam air mata itu selalu mengalir membasahi mukena Ibu. Setiap selesai sholat isya Ibu akan tersungkur dalam balutan lampu kami yang remang-remang, ia merintih, punggungnya semakin melengkung dan senyumnya semakin pudar.

            Ibu berdoa begitu khusyuk sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaanku. Aku berdiri dibalik pintu kayu rombeng yang gagang pintunya sudah rusak. Dari balik pintu ini aku bisa melihat wajah Ibu yang tenggelam dalam mukena kusamnya. Ibu berdoa begitu panjang. Mungkin salah satu doa yang disebut Ibu adalah agar Ibu sehat dan bisa menafkahiku dan Adikku.
            Adikku—Raina namanya—sebelum Bapak pergi aku sudah berjanji padanya untuk menjaga Raina, karena Raina punya penyakit yang menurutku aneh—harusnya itu penyakit orang kaya bukan orang pas-pasan seperti keluargaku. Raina menderita penyakit kelenjar getah bening, Penyakit itu membuat Raina kehilangan masa kanak-kanaknya. Harusnya, Raina bisa bermain sepuasnya bersama teman-teman sebayanya, bukan malah terbaring di kamar yang pengap sambil menatap langit-langit kamar yang hampir roboh. Harusnya ia menjalani pengobatan secara intensif, tapi semenjak Bapak meninggal. Raina berhenti berobat. Ibu mengobatinya sendiri dengan ramuan-ramuan tradisional saja. Dan sesekali membawa Raina ke dukun.
            “Ibu sudah enggak punya uang lagi, uangnya hanya cukup untuk makan kita.” Katanya suatu hari saat aku mendesak agar Raina dilarikan ke rumah sakit karena penyakitnya sering kambuh, Anehnya, Raina seperti Ibu yang terlihat pasrah menjalani takdir yang sedang merenggut kebahagiaan kami. “Tapi Bu—“ Elakku sedikit tak mau kalah.
            “Ah, sudahlah En, kalau Raina di rawat di rumah sakit dan diobati dengan obat-obatan mahal, kamu akan berhenti sekolah.” Timpal Ibu sedikit cemas.
            Aku termenung cukup lama saat Ibu mulai menjelaskan problematika hidup kami sekarang dan mengatakan kalimat tambahan ‘berhenti bersekolah’ sesuatu yang mungkin saja merenggut senyumanku juga. Ya memang dengan pekerjaan Ibu yang hanya tukang cuci dari rumah ke rumah. Tentu saja penghasilan dari mencuci pakaian atau apa saja yang bisa di cuci oleh Ibu tidak akan cukup untuk membiayai pengobatan Raina.           
            “Mungkin aku juga bisa membantu, Bu, aku bisa bekerja!” Seruku penuh dengan keyakinan, padahal aku tidak tahu apa yang harus dikerjakan anak kelas tiga SMP. Ibu menatap mataku lekat. Seolah sedang menyelisik, bisa apa kau ini?
***
            Bukan tanpa sebab mengapa aku memutuskan untuk membantu Ibu mencari uang, selain karena aku butuh uang untuk membayar SPP. Aku juga butuh uang untuk mengobati Raina yang kini kondisinya sudah semakin parah. Aku ingat, terakhir kali Raina tersenyum saat aku membelikannya susu cokelat. Sekarang, melihat kondisi Raina yang terbaring lemah di kasur butut membuat hatiku mengilu.
            “Dik, Kakak sebentar lagi akan punya uang banyak, kamu mau kakak belikan apa?” Tanyaku berusaha menghibur Raina yang setiap hari hanya berkutat dengan obat-obatan aneh.
            “Susu cokelat, kak. Aku mau susu cokelat. Jawabnya lemah.
            “Iya, nanti Kakak belikan susu cokelat yang banyak, ya.”
            Aku benar-benar menjadi sesuatu yang sama sekali tidak aku bayangkan sebelumnya. Awalnya, Ibu menyarankanku untuk bekerja yang ringan-ringan saja. Seperti membersihkan kebun Pak Haji Soleh dari ulat-ulat bulu. Mengantarkan susu pada Bu Enok yang suaminya kawin lagi. Atau sekedar menjajakan koran di terminal cicaheum. Tapi.. Kau tahu? Aku menolak saran Ibu dan lebih memilih mengikuti instingku sendiri yang mungkin ini terdengar sinting. Aku lebih memilih menjadi pengamen di jalan. Entahlah, menurutku itu menarik, dan keren.
            Sering aku melihat banyak anak jalanan yang mengamen di lampu-lampu merah. Mereka begitu menikmati kehidupan mereka, aku sempat melihat mereka menghitung uang hasil dari mengamennya, lumayan banyak. Pikirku saat itu. Mungkin aku juga bisa lebih dari mereka karena aku punya sedikit suara yang bagus.
            Aku tidak mengundur-ngundur pekerjaan baruku. Setelah pulang sekolah sekitar jam 13.00 WIB aku berganti pakaian. Aku mengacak-ngacak isi lemariku yang hanya diisi tumpukan baju yang bisa dihitung oleh jari. Aku mencari pakaian yang sedikit lebih baik yang kumiliki. Setidaknya ini pengalaman pertamaku bekerja, aku harus memakai pakaian terbaik, bukan pakaian dekil dan kumal. Dengan begitu orang-orang kaya itu tahu betapa seriusnya aku menjalani pekerjaanku. Ah, tapi sayang aku tidak punya dasi dan sepatu hitam.
            Aku meraih kecrek yang kubuat sendiri dari tutup-tutup minuman yang terbuat dari kaleng bekas, setelahnya aku menggepengkan tutup-tutup itu, lalu tumpukannya aku pahat dengan paku. Hasilnya? Tutup-tutup dari kaleng itu bila kugoyang-goyangkan akan saling beradu menghasilkan bunyi yang—menurutku merdu.
            Aku memulainya dari terminal cicaheum. Lampu merah pertama. Aku menyiapkan seluruh tenaga dan suaraku untuk bernyanyi. Semerdu mungkin, harus semerdu mungkin. Ulangku berkali-kali dalam hati. Angkot jurusan cicaheum-ledeng telah kunaiki, sebelumnya aku minta izin dulu pada tukang supir angkot, kebetulan saat itu penumpangnya sedang penuh dan jalanan dalam keadaan macet. “Ah! Beruntung!” Pekikku. Meski lelehan keringat membanjiri kening dan bajuku, aku tidak pantang menyerah. Aku mulai menggoyang-goyangkan kecrek  pada tanganku sendiri dan mulai bernyanyi. Aku menyanyikan satu buah lagu dari Haji Roma Irama yang berjudul keramat, karena aku sering mendengar dulu Bapak begitu mencintai lagu itu. Katanya lagu itu pengingat agar aku tidak salah dalam meminta doa.
            Aneh, kenapa orang-orang yang ada di dalam angkot menatapku seolah aku adalah sampah yang menjijikkan. Mereka memalingkan wajah-wajahnya, pada jendela angkot atau beralih memutar musik di HP canggih mereka dengan menggunakan headset, Padahal, aku sudah memakai baju terbaik. Bernyanyi semerdu dan sekencang mungkin agar para penumpang mendengar betapa seriusnya aku mencari uang. Dan di detik terakhir saat lampu mulai berubah menjadi warna Orange—-pertanda bahwa sebentar lagi mobil angkot angkat melaju. Aku melepaskan topiku membalikkannya sehingga terlihat bagian belakang topi itu sudah bolong-bolong. Aku mengulurkan tangan dan mengedarkan topi itu ke arah para penumpang. Mataku menatap satu persatu penumpang yang berada di angkot itu. Mereka tidak menatapku. Hai, aku manusia. Aku juga manusia. Tidakkah kalian melihat keberadaanku yang terpojok di depan pintu keluar angkot? Kumohon, Tuan, barangkali di saku celanamu itu ada uang receh yang berhari-hari kau lupakan, atau.. Nyonya, di dompet mewahmu ada uang receh yang di pakai untuk mengerok suami-suami Nyonya ketika terkena masuk angin. Mungkin uang receh itu sudah berkarat, ah tak apa, aku bisa menerimanya, Raina—Adikku, ingin beli susu cokelat.
            Lampu hijau telah menyala, topiku tetap kosong. Hatiku bergetar hebat mendapati penumpang-penumpang yang berada di depanku menatapku kembali dengan tatapan penuh menjijikkan. Akhirnya kakiku melangkah turun dari angkot menghirup udara panas dan bau asap mobil dan motor yang berseliweran. Aku menyisi ke tepi jalan, duduk sebentar untuk beristirahat, menunggu kembali lampu merah selanjutnya. Berharap lampu merah selanjutnya membawa keberuntungan padaku.
            Dari seberang jalan aku bisa melihat anak-anak jalanan yang sudah lama tinggal dan bergelut di jalanan begitu riang terbahak-bahak bersama temannya, ah, mungkin mereka mendapatkan uang. Lalu tanpa bisa aku cegah air mata telah mengalir begitu saja di sudut mataku.
            “Hai, anak baru, ya?”
            Aku tersentak, kedua tanganku segera menghapus air mata yang sudah membasahi pipiku. Masih dalam posisi duduk aku mengangkat kepalaku melihat seseorang yang sudah berdiri dengan tegak di depanku. Matanya bulat dan bersinar, tubuhnya ceking sekali. Rambutnya acak-acakan. Dan ia tidak memakai alas kaki. Aku bisa melihat baju yang ia kenakan sudah berubah warna dan  kusam juga sedikit robek-robek di bagian lengannya. Ia tersenyum sekali lagi padaku. “Boleh aku duduk di sini?” Tanyanya tanpa ragu-ragu.
            “Ya.” Kataku akhirnya.
            “Terimakasih, namaku Isti.” Isti mengulurkan tangannya ke arahku. Buru-buru aku membalas uluran itu seraya berkata. “Aku Eina.”
            “Salam kenal! Kalau mau jadi pengamen harus kuat mental, ya. Karena kamu akan menemukan macam-macam orang di jalanan. Jadi, jangan cengeng.”
            Ah, mungkin tadi Isti melihatku menangis. “Akan kucoba.” Jawabku kemudian.
            Isti benar. Semua jenis orang berada di jalanan. Mereka mengejar waktu, mencari peluang juga terkadang saling berlomba. Kukira orang-orang yang berdandan mewah dan memakai sepatu tinggi-tinggi juga berdasi itu adalah orang-orang yang paling dermawan.
            “Eh! Ayo kita ngamen lagi, sudah lampu merah!” Seru Isti seraya menunjuk ke arah lampu merah yang sudah menyala. “Kamu harus menyanyi dengan tulus. Anggap saja orang-orang yang melihatmu dengan sinis itu tidak pernah ada, semoga beruntung!” Isti berlari riang ke arah kerumunan mobil. Lalu aku bisa melihat tubuhnya yang ceking menyelip di antara deretan mobil.
            Tidak ingin kalah dengan semangat Isti, aku ikut berlari ke arah kerumunan mobil itu, dengan mengikuti saran Isti yang sebenarnya sederhana. Mungkin tadi aku terlalu gugup dan terbawa emosi. Aku tidak tahu sekarang Isti sedang berada di angkot mana, aku berada di angkot Cicaheum-Ledeng lagi. Tapi, aku tahu saat ini Isti sedang bernyanyi dengan tulus tanpa menghiraukan orang-orang sinis itu. Begitu pun aku sekarang, aku benar-benar lepas bernyanyi. Tersenyum dengan senyum terbaik yang pernah kumiliki. Para penumpang yang berada di angkot tersebut terlihat keheranan melihat aku yang penuh semangat.
            Lampu berubah menjadi orange. Aku melepaskan topiku dan mengedarkannya pada para penumpang yang tidak terlalu penuh. Dari balik tangan-tangan mereka keluar receh dan uang kertas. Aku mengulurkan topiku ke tempat duduk bagian depan karena di sana ada dua penumpang yang sepertinya pasangan suami istri. Mataku terbelalak melihat uang lima puluh ribu keluar dari dompetnya dan jatuh tepat pada topiku. “Terimakasih, Pak.” Ucapku spontan. Laki-laki itu tersenyum mengangguk.
            Aku menghempaskan tubuhku ke pohon yang cukup rindang, menyisi dari hiruk-pikuk jalanan yang semakin padat. Aku sudah mengamen kira-kira lima kali lampu merah, pantas, baju terbaikku kini penuh dengan keringat. Kulitku semakin hitam karena terbakar sinar matahari, Ah, tak apa, ini untuk Ibu dan Raina. Desisku dalam hati.
            Aku mengeluarkan uang hasil mengamen dari balik topiku. Alhamdulillah, hasilnya sungguh di luar dugaan. Aku masih mengingat dengan jelas senyuman Bapak itu sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu. Mungkin Bapak itu bukan manusia. Mungkin saja dia malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan hidupku.
            Padahal kalaupun Bapak itu tidak memberiku uang dan hanya sekedar tersenyum ramah tanpa melihatku dengan tatapan menjijikkan pun, aku sudah bahagia. Kau tahu? pengamen itu manusia biasa yang juga ingin mendapatkan sifat saling menghargai. Coba saja kau tanyakan pada anak-anak jalanan seusia ku, Pasti tidak ada yang mau bekerja panas-panasan, melawan panasnya aspal dan baunya asap-asap kendaraan. Mereka—anak jalanan yang selalu dianggap sebelah mata juga ingin bersekolah. Tentu saja! Mereka juga ingin bersekolah dengan layak, coba saja kau tanya anak-anak jalanan itu tentang sebuah cita-cita. Mereka akan tersenyum getir. Cita-cita mereka sudah direnggut oleh kaum yang mengutamakan perutnya sendiri.
            Menurutku mengamen adalah pekerjaan yang berat, sekarang aku baru tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan. Kau pikir, mudah bernyanyi di depan umum. Menyumbangkan suara yang payah, penyanyi-penyanyi papan atas yang selalu mendapatkan pujian karena suara dan penampilannya yang memukai. Padahal, aku juga sudah memakai baju terbaik, bernyanyi semerdu mungkin dengan setulus hati. Menurunkan egoku. Tapi, hanya mendapatkan ketidakpedulian juga tatapan-tatapan menjijikkan. Mungkin karena itulah aku sudah merasa bahagia jika Bapak itu hanya tersenyum dan berkata “maaf”.
            Setelah seharian aku mengamen, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah, menemui Ibu dan Raina dan mengatakan bahwa tadi aku bertemu dengan malaikat yang baik hati. Raina pasti akan tersenyum melihat aku yang membawa susu cokelat untuknya.
            Tiba-tiba kakiku melambat saat melihat orang-orang berkerumun di rumah kontrakkan ku yang sempit. Kakiku terus berjalan dan langsung mencari Ibu, kulihat Ibu sedang duduk sambil terisak-isak.
            “Bu, ada apa?” Tanyaku.
            Ibu menghambur memelukku. Pelukkan yang mengingatkanku saat Ibu kehilangan Bapak. Nafasku berhenti untuk sesaat, isi kepalaku dipenuhi petir yang saling bersautan. Tubuhku bergetar hebat. Tapi aneh Kenapa hatiku merasa lega melihat Raina yang tertidur dengan lelap di sana. Tanpa bergerak dan tanpa tersenyum padaku.  Aku lega Raina tidak akan merasakan penderitaan lagi. Juga, bagaimana rasanya menjadi seorang pengamen jalanan. Tuhan mencintainya.
Pikiranku melayang pada sore yang basah saat Raina meminta susu cokelat. “Kak, Raina mau susu cokelat. Susu cokelat itu enak, rasanya manis. Enggak kaya minuman yang tiap hari Raina minum. Rasanya pahit.”
Ah, Mungkin di Surga Raina bisa minum susu cokelat sepuasnya[*]
***


Komentar

share!