Cerpen: Marshmallow


Marshmallow
(oleh: tia Setiawati)

Aku menciptakan ketakutan-ketakutanku sendiri
Lalu mengakhirnya dengan membunuhmu, membunuh cintamu.
Kemudian, aku berbahagia

          Gadis itu duduk di salah satu kursi pojok. Posisinya mengarah ke jendela membuat ia lebih leluasa melihat pemandangan di luar. Hari ini kota Bandung panas sekali. Pikirnya. Suasana di cafe itu sedang sepi pengunjung. Ia memang sering menghabiskan banyak waktu di cafe favorite-nya itu. cafe yang bertema Cafe and Library. Baginya, berada di sini seperti berada di perpustakaan. Melihat rak-rak buku yang menjulang, tersusun rapi. seolah seperti pelibur hatinya yang kian merana. Buku adalah jendela dunia. Ia bisa berbicara dengan buku kapan saja ia mau. Maka dari itu tak terhitung berapa buku yang telah dibaca gadis itu di cafe ini.
       Gadis itu menopang dagunya dengan tangan kiri. kedua bola matanya tetap mengarah pada jendela. Kopi yang dipesannya sekitar Lima belas menit yang lalu telah dingin. Aroma dari kopi yang amat ia sukai itu menguap pergi. Entah mengapa hari ini ia merasa bosan pada satu aktivitas yang berulang-ulang. Yang membuat segala gerak tubuhnya menjadi kaku. Pikirannya dipenuhi oleh satu nama yang selalu ia sebut-sebut dan ia banggakan di depan teman-temannya. Gadis itu menghela nafas. Tepat sebulan yang lalu kekasihnya memberikan hadiah Anniversary satu tahun hubungan mereka.
            “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sayang.” Katanya. Malam itu benar-benar menjadi malam yang penuh kebahagiaan bagi gadis itu, O. Dear betapa cinta bisa membuat siapa saja menjadi tidak waras. Membuat siapa saja rela mengorbankan hidupnya hanya untuk mencari satu kebahagiaan fatamorgana. semuanya telah gadis itu dapatkan. Kekasih, sahabat-sahabat yang selalu ada di sisinya, juga orang tuanya yang selalu memanjakannya. Katakanlah. Bagian mana lagi yang belum lengkap dalam kisah hidupnya? Seharusnya gadis itu bersyukur sebanyak-banyaknya agar Tuhan tidak geram memandangnya.
Seperti rotasi bumi yang terus berputar menggulirkan siang dan malam. Kehidupan pun seperti itu. akan ada masa di mana kau harus menangis sendirian. Mendekap lututmu sendiri, menyaksikan satu persatu orang yang kau cintai pergi.
 Gadis itu menghela nafas sekali lagi. kali ini nafasnya semakin berat. Sebutir air bening mengalir hangat di pipinya. Balon gas warna-warni dalam hidupnya satu persatu telah terbang. Kekasihnya semakin hari semakin berbeda. Janji yang dulu diucapkan kekasihnya hanyalah bualan semata. Tapi tetap saja gadis itu tidak pernah bisa membohongi hatinya. Ia masih teramat mencintai kekasihnya dan berharap kekasihnya akan segera berubah seperti dulu lagi.
            “Maaf, Alaya. Kau sudah lama menungguku?” Ujar seorang lelaki yang  berdiri membelakangi Alaya, lelaki itu memakai jaket abu. Bibirnya melengkung senyuman tulus, mengekspresikan permintaan maaf. Lalu lelaki itu merebahkan tubuhnya. Tanpa melepaskan jaket abu-abunya.
            “Kau ini, selalu membuatku menunggu!” Keluh Alaya
Gadis itu—Bernama Alaya. Telah hampir setengah jam ia menunggu kedatangan laki-laki itu. membiarkan kopinya mendingin bersama kenangan-kenangan masa lalu. Untunglah laki-laki itu tidak melihat Alaya menangis. Alaya meminta penjelasan pada laki-laki itu tentang bagaimana bisa laki-laki itu terlambat hampir satu jam. Tapi laki-laki itu hanya tersenyum melihat ocehan Alaya. Lalu dengan santai laki-laki itu memberikan marshmallow berbentuk hati.
            “Kesukaanmu, kali ini aku sengaja membeli yang berbentuk hati. Cocok dengan hatimu yang sedang berbunga-bunga, bukankah begitu?”
            Alaya tersenyum getir mendengar kalimat laki-laki itu. O betapa ia sesekali ingin menjadi seorang pemberontak, menyeruakan segala beban yang kini menggelayuti hidupnya. Tapi sejatinya seorang perempuan hanyalah menunggu, menunggu dan terus menunggu hingga habislah air matanya karena rindu. Pengorbanan. juga pengabaian. Betapa Alaya sangat membutuhkan lengan kokoh untuk sekedar berbagi duka. Dan hanya pada laki-laki  inilah Alaya sanggup memintanya.
            “Masalah lagi, Alaya?” rupanya laki-laki itu cepat membaca kegusaran Alaya hanya dalam sekali tatapan. “Berceritalah, aku tidak akan menertawakanmu.” Imbuhnya.
Berceritalah, aku tidak akan menertawakanmu.
     Berbusa-busa Alaya menjelaskan tentang  problematika asmara yang tengah berputar-putar seperti gangsing dalam kepalanya. Tentang kekasihnya yang mulai berubah. Juga tentang dirinya yang tidak ingin kehilangan kekasihnya.  Alaya sadar ini adalah resiko keputusannya yang saat itu memutuskan untuk menerima Azin sebagai kekasih pertamanya. Tidak ada yang bisa memikat hati Alaya kecuali; Azin. Dan hanya Azin. Menurut Alaya, Azin adalah pangeran yang selama ini didambakannya. Siapa yang rela melepaskan lelaki Multi talenta itu? lelaki yang selalu berhasil membuat hati Alaya berbunga-bunga.
            Suatu sore di bawah sinar senja yang berkilauan, Azin memegang tangan Alaya lembut, membiarkan tubuh mungil Alaya larut dalam dekapannya. Membisikan kalimat ajaib yang membuat gadis itu terus bertekuk lutut.
“Kamu adalah calon istriku di masa depan.” Begitu katanya.
            Hingga di suatu hari Alaya didatangi seorang perempuan berparas bak seorang ratu, angkuh namun memikat, perempuan itu meminta Alaya untuk menjauhi Azin, perempuan itu mengaku bahwa Azin adalah kekasihnya. Betapa sakitnya hati Alaya saat Azin mengakuinya.
            Alaya tak kuasa lagi membendung tangisnya.
                        “Menangis sajalah, aku tidak akan melarangmu.” Ujar laki-laki itu.
                        “Aku ingin mengakhiri hubungan ini” Air mata Alaya berlinangan
                        “Iya.”
                        “Azin, ia telah tega mengkhianatiku.”
                        “Iya.”
                        “aku membenci laki-laki!!!”
                        “iya.”
            Alis laki-laki itu bertautan, lipatan di keningnya semakin bertambah.
                        “Kau membenciku?”
                        “Kecuali, kau. Bima.” Alaya menghapus air matanya. Alaya merasa lega karena telah menumpahkan segala keluh kesahnya pada Bima.
***
            Namanya Bimasakti, tapi teman-temannya sering memanggilnya Bima. Karena terinspirasi oleh galaksi bimasakti, akhirnya kedua orang Tua Bima menamainya Bimasakti. Bima adalah orang yang supel sekaligus misterius. Karena itulah Alaya merasa nyaman berteman dengan Bima. Kemisteriusannya mengundang saraf-saraf kebahagiaan pada kehidupan Alaya.
 Setiap hari dalam seminggu Bima selalu membelikan Alaya marshmallow, bagi Alaya sesuatu yang berulang-ulang yang tidak membosankan adalah mengunyah marshmallow. Setiap kali jajanan itu masuk ke dalam mulutnya akan ada sensasi kebahagiaan yang Alaya rasakan, kebahagiaan yang silih berganti seperti kenangan bersama Azin, masa kecilnya yang dihabiskan bermain layangan, atau tentang orang tuanya yang menciuminya ketika Alaya masuk peringkat ke tiga besar saat memasuki kelas 1 SD. Betapa kenangan itu hilir mudik,  menari-nari indah di dalam setiap kunyahan marshmallow. Aneh memang, tapi itulah fakta lain dari Alaya dan marshmallow-nya
            “Kenapa kau tidak pacaran saja dengan Bima?” tanya salah satu teman Alaya.
            “Kau ini bicara apa? Aku tidak mungkin berpacaran dengan Bima. Lagi pula aku hanya mencintai Azin.” Sanggah Alaya dengan penuh percaya diri.
      Jauh.... Jauh di dasar hati Alaya ada gurat perasaan pada Bima. Perasaan yang meskipun Alaya menggalinya  sampai ke batas antara cinta dan benci yang bersemayam dalam kalbu manusia. Tetap saja, Alaya tak menemukan alasan mengapa perasaan itu berdiam diri di sana. Karena setiap kali Alaya bertemu Azin. Lelaki itu selalu berhasil membuat Alaya bertekuk lutut.
Mungkin karena itulah sampai sekarang Alaya merasa takut bila kehilangan kekasihnya. Dan ketakutan-ketakutan itu selalu berhasil menggoreskan tinta luka yang sebenarnya sudah menganga. Ah, cinta memang selalu membuatnya tersiksa. Hanya karena bagaimana caranya mengakhiri dan menjelaskan pada semua orang tentang sebuah hubungan yang kandas di tengah jalan. Sesulit itukah menanggung malu di depan mereka?
 Pada Akhirnya jurang itu akan kau temukan dalam perjalan bunuh dirimu. Ketakutan yang selama ini Alaya cemaskan telah terjadi. Siang itu, Azin mengirimkan pesan singkat pada Alaya. Kurang lebih isinya seperti ini :
                        Aya, kumohon setelah ini jangan bertanya lagi apapun. Aku mencintaimu, tapi
                                Aku lebih memilih Jessika. Perempuan yang tempo hari datang padamu itu.
                                Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. hubungan kita sampai di sini saja.
                                Semoga kau bahagia.
Pesan singkat dari Azin sudah barang tentu meledakan tangis Alaya. Tidak adakah keadilan dalam sebuah kisah cinta? mengapa Alaya harus menanggung luka itu sendirian? Kekasihnya bahkan tidak sempat memeluknya saat memilih untuk meninggalkannya bersama perempuan lain. kepada siapa lagi Alaya harus menumpahkan kesakitannya selain pada bahu Bima.
Lagi –lagi Bima. Dan harus Bima.
                        “Menangis sajalah, aku tidak akan melarangmu.” Ujar Bima
“Azin memilih perempuan itu!”Geram Alaya
                        “Iya.”
                        “Dan meninggalkanku, sendirian.” Air mata Alaya berjatuhan
                        “Iya.”
                        “Argggghhhh........” Alaya meluapkan segala duka dan kekesalannya
                        “iya.”
                        “Aku benci laki-laki! Sungguh, aku membencinya!”
            Alis Bima bertautan, lipatan di keningnya semakin bertambah lagi.
                        “Kau membenciku?”
                        “Kecuali, kau. Bima.”
          Sebelum Alaya yang menghapus air matanya, tangan Bima sudah lebih dulu berada di pipi Alaya. Menghapus air mata Alaya yang menurut Bima sudah tidak pantas lagi diberikan untuk Azin. Kemudian Bima mengeluarkan sesuatu dari saku jaket abu-abunya sambil tersenyum polos.
            “Kali ini aku membelikan marshmallow dalam bentuk bulat, tidak ada artinya memang. Tapi semoga rasanya jauh lebih baik. Ini, untukmu, Aya”
 Alaya mengunyah marshmallow itu dengan mata terpejam. Sedetik berlalu... Ajaib! Bima benar. rasanya memang jauh lebih baik. Alaya tidak menemukan lagi kenangan kebahagiaan bersama Azin. Dalam setiap kunyahan kelembutan tekstur marshmallow itu, Alaya menemukan senyuman Bima. Mempesona.
Cinta memang selalu tak terduga. mungkinkah hati Alaya sebenarnya milik Bima? Alaya rasa marshmallow dalam mulutnya memberikan jawabannya.
{**)


Komentar

share!