Tidak Saling Mematahkan dan Menghancurkan


 Tidak Saling Mematahkan dan Menghancurkan
Oleh: Nasrul M. Rizal

Bagi orang-orang yang dipatahkan hatinya, kehidupan seakan berakhir. Merasa enggan untuk menghadapi hari esok. Tidak ada semangat untuk menyapa matahari pagi. Lebih senang meratapi malam hingga larut. Menikmati sakitnya hati. Baginya semua sudah berakhir seperti kata-kata terakhir yang membuahkan perpisahan.


Bagi orang-orang yang dihancurkan hatinya, tidak ingin lagi membagi hati. Merasa enggan untuk melangkah. Tidak ada lagi tujuan di hidupnya. Baginya  semua sudah hancur. Seperti hancurnya harapan-harapan untuk terus bersama. Seperti hancurnya janji-janji masa depan yang indah. Dihancurkan oleh sebuah penghiantan.

Aku pernah mengalami kedua hal itu. Dipatahkan dan dihancurkan sekaligus. Dipatahkan oleh perpisahan dan hancur karena alasan perpisahan itu adalah hadirnya orang lain. Semua yang aku perjuangkan sirna begitu saja. Harapan berubah menjadi angan-angan. Janji masa depan hanya sebatas kenangan. Saat itu aku enggan melangkah. Tidak ingin membuka hati meski ada yang mau mengisi.

Malam itu kita berbagi cerita. Kamu dan aku tidak jauh berbeda, kita sama-sama pernah patah dan hancur. Tanpa banyak bercerita aku paham betul bagaimana sakitnya hatimu. Berbeda denganmu, aku banyak bercerita. Kamu mendengarkan dengan seksama, tersenyum beberapa kali. Senyuman yang menandakan kalau kamu pernah mengalami hal yang sama. Aku merasa nyaman bertukar kata denganmu. Bukan karena nasib kita yang sama, tapi karena cara penerimaanmu yang berbeda dengan yang lainnya.

Sekarang kita lebih banyak bertukar kata. Bukan untuk menceritakan masa lalu, tapi masa depan kita. Kita membuat cerita baru, di mana aku dan kamu yang menjadi tokoh utamanya. Bersama, kita menggapai mimpi, merangkai masa depan. Berjanji untuk tidak saling mematahkan dan menghancurkan.



Komentar

share!