Tidak Biasa



Tidak Biasa
Oleh: Vannesa Augustine

Aku tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang sekiranya biasa dapat menyimpan makna yang begitu dalam. Bagi seseorang yang terlahir sempurna; pagi, siang, petang, dan malam adalah sesuatu yang dilalui setiap hari. Tak ada hari tanpa fajar dan tak ada hari tanpa senja. Semua itu adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Hilang satu, maka dapat dipastikan bahwa Bumi tak lagi berputar pada porosnya.


Semua itu adalah peristiwa yang biasa, yang sudah berjuta-juta kali aku alami dan lihat. Tetapi baru kali ini, aku tidak hanya melihat.

Aku memperhatikan.

Aku mengamati.

Aku mensyukuri.

Tiap warna yang menghiasi langit; biru, putih, jingga, kuning. Hijaunya rerumputan dan dedaunan di sekelilingku. Sejuknya terpaan angin. Harumnya bunga-bunga. Dan hangatnya cahaya mentari yang baru saja terbangun dari tidurnya. Aku tak pernah menyadari betapa indah semuanya itu.
Dan kau, yang sedang duduk di belakangku pun tertawa girang ketika aku menceritakan semua itu. Tawamu begitu ringan dan ceria. Merdu seperti lonceng angin di musim panas. Aku berbalik ke arahmu, dan tak bisa menahan senyum.

Kau yang tak akan pernah bisa memahami hal mendasar seperti spektrum warna pun bisa terlihat begitu bahagia. Meski duniamu hitam. Akan selamanya hitam dan gelap. Lalu bagaimana denganku? Yang setiap harinya mampu melihat warna-warna ini? Apakah aku sudah bahagia?
Dengan apa yang kumiliki, dengan semua peristiwa “biasa” yang setiap hari kualami? Jika bukan karenamu, mungkin aku tidak akan pernah tahu....bahwa semua hal yang “biasa” ini bisa jadi bagaikan mimpi untuk orang-orang sepertimu.



Komentar

share!