Ngopi Doeloe: Menulis pakai smartphone, apakah efektif?



Oleh: Sayogand


Saya mengikuti banyak webinar tentang dunia kepenulisan. Di era digital dan gadget saat ini, saya melihat banyak sekali revolusi perilaku para penulis. Dulu, para penulis harus pakai pesawat terbang agar bisa bertemu penggemarnya dan berbagi ilmu. Sekarang, cukup dengan sosial media segalanya jadi instan. Dulu, para penulis harus pakai mesin tik untuk mengetik naskah. Sekarang, cukup dengan smartphone segalanya jadi instan.

Saya jadi ingat betapa mesin tik menempa orang-orang tahun 80-an. Karena tak punya fitur menghapus, para penulis melahirkan tulisan-tulisan yang lebih tegas dan bertanggung jawab. Mereka tak mau mengetik sebelum pikiran mereka matang dan mantap. Kini, karena mengetik sangat mudah, banyak orang menulis tanpa mematangkan pikirannya dulu. Yang penting nulis dulu, mikir belakangan, kan bisa dihapus.

Ternyata teknologi smartphone yang kini menjadi primadona bagi para penulis. Banyak penulis muda mengatakan bahwa smartphone adalah gadget paling ideal untuk menulis di era mobile karena mudah dibawa kemana-mana, dan begitu muncul ide, langsung berkarya di tempat. Namun, benarkan efektif?

sumber gambar: Techradar.com
 
Tahun 2014, pertama kali saya memiliki smartphone, saya sangat terobsesi agar bisa menulis di smartphone karena praktis. Namun saya malah mendapatkan satu kendala: lama. Bukan lama mengetiknya, tetapi saya jadi sering mengetik sesuatu yang tidak penting hingga poin-poin pentingnya tidak terekspos. Biasanya saya menulis satu judul hanya setengah jam, ini bisa satu jam. Mana saya tahu kalau sistem ini akan menjadi tren setahun kemudian?

Telaah demi telaah, ternyata memang kehidupan orang Indonesia semakin mobile. Tetapi tidak semakin produktif. Orang Indonesia senang berseliweran di jalanan, kesana kemari tanpa menghasilkan sesuatu yang senilai dengan tenaga yang ia korbankan. Ini akibat dari menjamurnya kendaraan pribadi sehingga biaya perjalanan menjadi sangat murah dan praktis.

Berbeda dengan orang Indonesia, orang luar negeri lebih senang memakai transportasi umum. Mereka pergi kalau ada perlunya saja, karena untuk sekali jalan, ada biayanya. Karena ada biaya dan tidak praktis, mereka jadi terbiasa berpikir sebelum melangkah. Sama seperti filosofi mesin tik.

Semakin ke sini, dengan adanya smartphone, orang Indonesia semakin senang memegang prinsip “menulis dulu, publikasi dulu, mikirnya nanti setelah ada yang mengkritik”. Boros tenaga sekali ya?

Mungkin smartphone bisa membuat kita menulis dimanapun. Tetapi untuk apa menulis pikiran mentah?

Bukan mau promosi, tapi saya suka pemikiran Apple: Note it on iPhone, Write it on MacBook.


Menurut kalian, apakah efektif menulis di smartphone? Yuk share di kolom komentar!

Komentar

share!