Kjuihu


Kjuihu
Oleh: April

Siang itu, aku yang hendak menyeberang, berdiri menghadap jalan beraspal di depan gerbang sekolah yang tidak pernah sepi dilalui kendaraan. Meski hampir 3 tahun berlalu, aku masih juga membutuhkan waktu yg sedikit lebih lama untuk mencapai sisi seberang.


"Pril, buruan!" Seorang teman yang sudah lebih dulu berada di seberang terlihat sekali mulai kesal menunggu. "Lo mau nyeberang jalan doang, bukan nyeberang lautan!" 

"Iya, sabar." Aku mulai melangkah dengan cepat menyeberangi sisi kanan, kemudian berhenti sejenak ketika sebuah mobil lewat di sisi kiri. 

Aku menoleh ke sisi kiri, kembali kulangkahkan kaki begitu melihat jarak yg masih cukup jauh antara posisiku dengan sebuah sepeda motor. 

Aku tidak begitu yakin, tapi mataku terlalu hapal dengan figur itu. Pemilik sepeda motor itu menggenakan seragam sekolah yg kukenal, namun bukan milik sekolahku. Meski sisi kepalanya tertutup helm, aku tidak perlu meyakinkan diri begitu jauh saat pemilik motor itu sedikit mengurangi kecepatan sepeda motornya.

Ah, benar dia.

Mataku dengan mata pemilik motor itu saling menatap, hanya itu yang kami lakukan, sampai aku sudah berada di sisi seberang dan ia yang sudah jauh melewatiku. 

"Loh, Pril, bukannya itu tadi...?" 

"Iya, tadi itu dia." Kujawab pertanyaan temanku sebelum ia sempat menyebut nama pemilik motor yg barusan saling bertatapan denganku.

Aku terdiam memandang dirinya yang sudah begitu jauh, begitu menyayangkan apa yang terjadi barusan. 

Harusnya salah satu dari kami setidaknya saling menyapa, hai atau memanggil nama satu sama lain, sudah cukup. Harusnya saling melemparkan senyuman, juga sudah cukup. 

Harusnya begitu, sampai kusadari salah satu dari kami tidak akan pernah melakukan itu. 

Karena saat itu, baru kembali kusadari, kami sudah terlalu asing untuk satu sama lain.



Komentar

share!