Janji di Batas Senja

Janji di Batas Senja
Oleh: Alia


Untuk kesekian kalinya, senja itu aku kembali berakhir di sini. Tenggelam di antara ilalang yang semakin tinggi dan terlindung bayang pohon besar di belakangku. Sibuk memandang hiruk pikuk manusia yang melangkah keluar dari pintu stasiun. Sudah terlalu banyak manusia yang berjalan melewatiku tapi sama sekali tak ada dia di antara mereka.


Memperhatikan mereka jeli-jeli hingga tak ada yang terlewat. Lagi-lagi ia tak pulang hari ini. Entah sudah berapa lama sejak terakhir aku melihatnya. Rasanya lama sekali sampai-sampai aku tak bisa menghitungnya.  Satu bulan mungkin. Dua bulan. Atau mungkin sudah setahun sejak ia pergi dengan keretanya. Mereka bilang dia tak akan pernah pulang. Dia sudah pergi terlalu jauh. Tapi ia hanya pergi dengan keretanya, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Kuantar ia sampai ke pintu itu dan aku pun pulang setelahnya. Takal ada yang berbeda. Tapi mengapa mereka berkata bahwa ia tak akan kembali.

Aku tak mengerti. Memangnya kemana ia pergi? Sejauh itukah sampai begitu lama baginya untuk kembali? Mengapa ia tak mengajakku bersamanya? Bukankah ia berjanji akan pulang menemuiku?
Aku tak mengerti.

"Kau masih menunggunya?" Pria itu datang lagi. Seorang teman miliknya yang tak begitu kukenal. Wajahnya ramah dan tangannya hangat. Tangannya lagi-lagi menyentuh kepalaku. Mengelusnya pelan seperti biasa. Tangannya selalu terasa hangat dan aku menyukainya.

"Kenapa kau tak pulang saja?" Dia selalu bertanya seperti itu. Setiap kali ia datang ke tempat ini menemaniku menunggunya. Aku tak tahu ini sudah yang keberapa kalinya ia bertanya. Aku memang tak pernah pandai menghitung. Lagi-lagi dia mengelus kepalaku. Senyum ramahnya tak hilang sejak tadi namun kedua matanya sudah basah sejak tadi.

"Pulanglah, Hachi." Dan pelukan itu kembali ia berikan. Wajahnya sudah tenggelam di tubuhku, bahunya pun lagi-lagi bergetar. Apakah ia menangis?

Aku tak pernah melihat orang menangis. Dia selalu tersenyum kepadaku. Matanya tak pernah basah apalagi bahunya yang bergetar. Ia selalu tersenyum. Saat itu, sama seperti hari-hari yang lalu, aku hanya menempelkan wajahku di wajah pria ini. Memintanya untuk berhenti menangis dan tak lagi memintaku pulang. Aku masih akan di sini menunggunya.

Guk Guk Guk

Apakah ia mengerti kata-kataku?


Komentar

share!