Editor Speak: Menunggu di Jembatan


Sudah dua tahun lebih Kafe Kopi fokus menayangkan karya-karya sastra dari seluruh penjuru negeri. Dimulai dari konsep “kolaborasi antar penulis” yang kami usung pada tahun 2015, kami terus bergerak menjadi wadah bagi para penulis yang ingin tulisannya dibaca oleh ribuan orang.

Meski begitu, akhir-akhir ini, wadah para penulis semakin banyak, semakin bervariasi, dan semakin melebur juga keunikannya yang mengakibatkan akhir-akhir ini banyak penulis memilih kembali ke era konvensional: kirim saja lah ke penerbit.

Sebelum saya lanjutkan, izinkan saya mengucap salam terlebih dahulu,

Assalamualaikum Wr Wb


Pertama kali pikiran saya tergugah setelah membaca buku “Syukur Tiada Akhir”, sebuah buku biografi Jakoeb Oetama yang ternyata berisi seluruh pemikiran Sang Legenda media Indonesia. Pak Jakoeb memiliki pemikiran bahwa di masa depan, hiburan yang sepenuhnya hiburan tidak akan laku lagi. Untuk kesekian kalinya kami bimbang dalam menentukan haluan: apakah lebih baik kami teruskan Kafe Kopi? Atau lebih baik kami ubah? Atau lebih baik kami tutup?

Untuk meminimalisir risiko, kami memilih untuk berdiri sejenak di jembatan. Di setiap langkahnya, kami perhatikan, apakah kami harus mundur atau kami teruskan keputusan kami.

Kami melihat media-media lain. Terlihat jelas fakta dari teori Pak Jakoeb bahwa yang akan terus berjaya adalah media yang mengedukasi, bukan media yang just entertaining. Justru sekarang muncul satu gaya baru dalam industri media: edutaintment. Edukasi yang menghibur. Begitu julukannya.

Kini kami memilih untuk mengarah ke sana. Kami akan memperbanyak konten-konten edukasi yang juga terselip hiburan di dalamnya.


Jangan kaget bila website Kafe Kopi jadi lebih segar dan menyegarkan pikiran. Ini semua gara-gara Pak Jakoeb.


Salam,

Sayoga R.P

Pemimpin Redaksi Kafe Kopi

Komentar

share!