The Photograph






THE PHOTOGRAPH
Karya Tina Wiarsih

Klik!

Aku mengarahkan kamera pada seseorang yang terbujur kaku dengan keadaan mengenaskan. Tubuh orang itu hancur, tidak berbentuk. Kepalanya pecah, tulang kakinya patah, dan salah satu jarinya hilang. Polisi menduga orang ini telah melakukan aksi bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 15 gedung apartement. Diduga, jari orang ini patah setelah menghantam aspal dan terlempar jauh. Polisi saat ini masih mengevakuasi TKP (Tempat Kejadian Perkara) untuk mencari potongan jari yang hilang. Bohong jika kukatakan tidak mengenal orang ini. Dia adalah Alvin, pria yang bekerja sebagai staff administrasi di perusahaan garment. Aku mengenalnya dua hari yang lalu di sebuah supermarket saat kehilangan dompet. Di tengah kebingungan memikirkan bagaimana cara membayar belanjaan, Alvin datang membawakan dompetku yang jatuh di depan pintu masuk supermarket.
Sebagai rasa terima kasih, aku mengajaknya pergi ke kedai kopi terdekat untuk kutraktir kopi sambil berbincang. Awalnya dia menolak, namun saat kukatakan ini sebagai wujud persahabatan dan penghargaan karena di dunia ini masih ada orang yang jujur seperti dirinya, akhirnya dia bersedia.
"Kau dengar tentang kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?" Dia bertanya saat kami tengah menikmati kopi hangat arrabicca dan beberapa batang rokok. Asap putih mengepul dari asbak dihadapanku.
"Pembunuhan tragis dan ada anggota tubuh yang hilang?" Tanyaku. Dia menjawabnya dengan anggukan. Tangannya meraih sebatang rokok milikku dan menempelkannya pada rokok yang terselip di bibir. Tidak lama, asap putih mulai mengepul dari bibirnya.
"Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh pembunuh itu."
"Bagian mana yang tidak kau mengerti? Bukankah itu hal wajar mengingat betapa kerasnya hidup? Orang akan menghalalkan segala cara untuk bertahan, kebutuhan hidup sudah tidak terjangkau karena harganya melambung tinggi. Bayangkan saja, para ibu rumah tangga banyak mengeluh akibat harga cabai yang terus melambung sedangkan pemasukan tidak bertambah sedikitpun.” Aku kembali menghisap rokok kemudian menghembuskan asap putih melalui bibir.
“Menurutku itu hal wajar di zaman sekarang dimana hidup menjadi begitu keras. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang," aku melanjutkan. Alvin menautkan alis, menghisap rokoknya lagi kemudian terkekeh. Mungkin dia baru sadar akan perkataanku.
"Haha… Bertahan hidup? Maksudmu bertahan hidup dengan merebut kekuasaan? Atau bertahan hidup dengan menjatuhkan seseorang untuk mendapat kekuasaan?" Tanyanya.
"Ya salah satunya itu."
“Zaman memang benar-benar sudah gila,” ucapnya. Kami berdua bungkam. Dia menikmati rokoknya sedangkan aku kembali menyeruput kopi.
"Orang memang selalu gelap mata jika berhubungan dengan harta, tahta dan wanita," lanjutnya lagi.
"Jangan lupakan satu hal," aku menambahkan. Dia menatapku dengan alis tertaut, seperti kemudian dia tersenyum menyadari apa maksudku.
"Dan hutang."
“Hutang.”
Kami berucap bersamaan, lalu tertawa di tengah kebisingan ibukota di saat malam yang dingin. Kami membicarakan apapun yang terlintas dalam pikiran masing-masing. Sampai waktu menunjukan pukul 22.00, kami memutuskan untuk pulang. Kuantar dia sampai depan apartementnya. Sekali lagi aku berterima kasih atas kebaikannya hari ini kemudian menjalankan motor menuju kediamanku. Ironis, jika mengingat hari itu adalah pertama dan terakhir kalinya kami berbincang. Ironis ketika orang sebaik dia harus mengalami nasib tragis seperti ini.
Aku terus mengarahkan kamera pada tubuhnya sampai jasad itu dimasukan ke dalam kantong jenazah, kemudian dibawa pergi dengan ambulance. Aku tetap berdiri di tempat sambil mengamati hasil bidikanku. Senyum puas tersungging ketika melihat hasilnya. Sempurna.
Aku adalah fotografer handal di bidang khusus memotret manusia bertubuh kaku, dingin, berwajah pucat dan bersimbah darah. Jika fotografer lain lebih suka memotret model cantik dan sexy, atau panorama alam, maka aku berbeda. Entahlah, ini memberi keuntungan besar padaku. Apalagi saat akhir-akhir ini banyak sekali kasus pembunuhan dan bunuh diri yang terjadi di kota ini. Kebanyakan dari mereka mati dengan tubuh mengenaskan dan kehilangan salah satu anggota tubuh.
Menurut kabar burung, pelaku pembunuhan itu berinisial R. Hal ini diketahui polisi dari gantungan kunci yang terdapat di lokasi kejadian. Polisi sangat yakin jika gantungan kunci itu milik si pelaku karena tidak ditemukan sidik jadi korban di gantungan tersebut. Dalam kasus pembunuhan berikutnya, polisi menemukan gantungan kunci yang sama selalu ada di dekat korban. Entah ini disengaja atau tidak, polisi masih menyeledikinya. Ditambah fakta waktu pembunuhan yang selalu sama, itu menguatkan dugaan jika pelaku pembunuhan berantai ini adalah orang yang sama.
Juga ada kasus bunuh diri yang menyimpan beberapa hal janggal. Dalam kasus bunuh diri pun selalu ada bagian tubuh yang hilang dengan cara tidak wajar. Seperti kasus yang terjadi beberapa minggu lalu, seorang anggota DPR yang kebetulan anak teman ayahku ditemukan tewas gantung diri di trails jendela apartementnya. Telinga kanan orang itu hilang, seperti terpotong atau tergunting. Sangat janggal jika memikirkan kenapa orang yang bunuh diri ingin memotong telinganya. Namun, para polisi bodoh itu bersikeras menetapkan kasus tersebut sebagai kasus bunuh diri.
Ah! Mungkin kota ini butuh detektif untuk mengusut berbagai kasus aneh yang terjadi belakangan ini. Aku sangat yakin bahwa ini bukan sekedar kasus bunuh diri. Ada faktor kesengajaan. Ada orang yang memanipulasi sehingga dengan mudah polisi menduga korban telah melakukan aksi bunuh diri, padahal korban telah dibunuh. Hebat sekali.
Namun, ada satu hal yang mengusikku. Sungguh aneh, dalam beberapa kasus bunuh diri, terkadang aku melihat gantungan kunci itu di dekat korban. Gantungan itu disimpan tersembunyi dan hanya aku yang bisa melihatnya. Si pelaku seperti sengaja menaruh gantungan kunci itu agar dapat dilihat olehku. Tapi aku tidak mau memikirkannya lebih dalam, aku yakin ini hanya kebetulan, atau ulah orang iseng.
Meski banyak kasus pembunuhan dan bunuh diri yang meresahkan, tapi aku bisa mendapat keuntungan. Tentu saja dengan kejadian ini banyak pundi rupiah yang masuk ke dalam dompet. Tidak sedikit wartawan majalah kriminal yang datang untuk membeli foto bidikanku dengan bayaran tinggi. Sedikit tidak adil memang, tapi inilah hidup. Terkadang kita harus memanfaatkan keadaan apapun untuk bisa bertahan hidup, bukan?
Aku bergegas saat langit mulai mendung. Kumasukan kamera ke dalam tas kamera lalu kukalungkan di leher. Saat hendak pergi, mataku menatap sosok anak muda yang sedang memandangku tepat di samping motor milikku. Aku tahu dia. Dia seorang tukang rongsokan di kota ini. Umurnya sekitar 19 tahun. Jika tidak salah namanya Ridwan. Aku menatapnya kemudian tersenyum seraya menghampiri motorku. Diluar dugaan, Ridwan membalas tatapanku tajam.
"Setiap keburukan yang tersembunyi, lambat laun pasti terurai," dia berkata, kemudian pergi. Aku memandangnya sampai hilang di tikungan. Aku mencoba memikirkan perkataannya namun tidak kutemukan maksudnya. Bisa saja berhubungan dengan runtutan peristiwa belakangan ini.
"Dasar manusia aneh!" Gumamku. Tidak ingin memikirkan itu lebih lanjut, aku menaiki motor kemudian mengendarainya sampai rumah.
***
Aku menjatuhkan tubuh di sofa panjang di ruang tengah. Kupejamkan mata untuk mengusir rasa lelah.
Satu menit….
Dua menit….
Lima menit…
                        Tidak ada hal aneh yang kulalui. Suasana di sini begitu hening, tenang dan damai. Aku masih menikmati keheningan sampai keheningan ini terasa janggal. Terlalu hening untuk sebuah rumah kecil di tengah pemukiman warga.
Aku membuka mata, namun aku melihat sesuatu yang paling tidak ingin kulihat. Bayangan itu nyata, kembali hadir dalam benakku. Sebuah mimpi buruk yang terus menghantuiku beberapa tahun ini. Masih jelas dalam mataku, seorang anak laki-laki menyaksikan pembunuhan kedua orang tuanya, dilakukan oleh rekan kerja ayahnya. Tubuh anak itu terikat. Di hadapannya terlihat ayahnya telah lemah dan rapuh, tidak mampu lagi berdiri, bahkan menyangga tubuhnya dengan lutut pun sulit. Di sebelah kanan, ibunya sudah tergeletak dengan mulut terbuka dan tubuh bersimbah darah.
Suara gelegak tawa terdengar menggema atas pembantaian sadis yang mereka lakukan. Anak itu menatap mereka satu persatu-persatu, orang yang telah membunuh ayah dan ibunya. Mereka tertawa, diselingi menenggak alkohol dan menyulut rokok. Aku mencoba untuk bergerak, melawan apa yang mereka lakukan, berusaha membuka ikatan anak itu namun usahaku sia-sia. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa menyaksikan dan mendengar gelegak tawa mereka.
“Ayaaaaaaaaah!!!!!!” Dan teriakan anak itu membangunkanku dari tidur kilat.
Aku terbangun dengan peluh membasahi tubuh. Kuusap wajahku kemudian menyingkirkan tas kamera yang tergeletak di atas dada. Kuletakkan tas kamera di atas meja kemudian membuat kopi di dapur, berharap kopi dapat menghilangkan mimpi buruk untuk kesekian kalinya. Rumahku hanyalah kontrakan kecil sederhana. Ada ruang tamu, dua kamar  dan dapur yang berdampingan dengan kamar mandi. Satu kamar kujadikan kamar tidur dan satu lagi sebagai ruang cetak, tempat aku mencetak hasil bidikanku.
Kembali ke ruang tamu untuk mengambil tas kamera sambil membawa kopi, lalu aku berjalan ke ruang cetak. Ruangan ini nberukuran 3x4 meter dengan lampu seadanya. Sengaja tidak dipasangi lampu terang karena aku lebih suka remang-remang dalam kegelapan, sama seperti kehidupanku. Sebagian foto bidikanku tergantung di tempat yang disediakan, sebagian lagi aku tempel di tembok di samping komputer. Aku melepaskan jaket setelah meletakkan cangkir kopi dan tas kamera di meja, kusampirkan jaket di sandaran kursi. Kuhempaskan tubuh dan mulai mengeluarkan kamera untuk dipindahkan ke komputer. Aku memerhatikan foto satu persatu. Terlihat foto seorang pria bernama Alam dengan 18 tusukan di tubuhnya, dia terbujur kaku dan tubuhnya bersimbah darah, yang lebih mengerikan telinga pria itu hilang. Jelas ini merupakan kasus pembunuhan. Polisi menduga sang pembunuh adalah rekan kerja korban yang bernama Radit. Keningku berkerut saat mendengar namanya.
Radit?
Masuk akal, jika dihubungkan dengan gantungan kunci si pelaku yang tertinggal. Namun, sesaat kemudian aku menggeleng. Tidak mungkin. Bukti yang dimiliki polisi tentangnya hanya sedikit, belum cukup membuktikan jika Radit seorang pembunuh. Kualihkan kursor untuk melihat foto selanjutnya, terlihat wajah seorang wanita yang juga berlumur darah. Wanita itu bernama Winda, mati karena terlindas truk. Keadaannya tak kalah mengenaskan. Tubuhnya terbujur kaku, tulang rahangnya patah dan salah satu bola matanya hilang. Polisi menduga dia tidak tertabrak, melainkan dengan sengaja menabrakan diri di tengah jalan. Haha… Polisi bodoh! Jelas-jelas wanita itu sengaja didorong oleh seseorang sebelum truk mendekat dan melindas tubuhnya. Aku masih terus memerhatikan foto-foto itu sampai akhirnya mataku terpaku pada sosok anak muda yang sedang menghadap kamera. Anak itu, anak yang sama yang kutemui tadi. Ridwan.
Kuperhatikan foto-foto yang lain. Ada Ridwan lagi. Ini tidak mungkin, dalam semua peristiwa aneh ini Ridwan selalu tertangkap oleh lensa. Artinya anak itu selalu ada di lokasi kejadian saat proses evakuasi. Aneh sekali, mungkinkah anak itu….
Ridwan?
Selalu berada di lokasi kejadian?
Aku klik beberapa kali tanda plus di layar untuk memperbesar foto Ridwan. Aku menangkap sesuatu yang sebelumnya luput diperhatikan. Tangan kanan Ridwan menggenggam sesuatu yang aku yakini adalah gantungan kunci itu, yang akhir-akhir ini selalu menjadi perhatian polisi. Tidak salah lagi, gantungan kunci itu yang selalu berada di lokasi kejadian.
Sialan tidak diragukan lagi. Pasti anak itu...!!!
Aku segera berdiri, bersiap meninggalkan tempat ini dan menemui Ridwan. Langkahku terhenti saat terdengar suara ponsel berdering. Kutatap layarnya kemudian menggeser tombol hijau.
"Halo Randy? Ini aku, Okta. Hari ini jadi bertemu, kan? Aku sudah sampai di depan rumahmu. Cepatlah keluar, aku sudah pegal menunggumu,"  Okta berbicara di seberang telepon dengan suara yang terdengar ceria. Aku tersenyum miring mendengarnya.
"Oke," jawabku singkat. Aku mengambil jaket lalu tiba-tiba sesuatu terjatuh dari saku jaket. Aku mengambilnya kemudian tersenyum.
"Jari telunjuk," aku bergumam.
Sebuah bayangan kembali hadir dalam otakku, memenuhi rongga kepalaku sampai membuat kepalaku sakit. Bayangan itu, ketika anak berumur tujuh tahun harus menyaksikan pembantaian keluargannya. Dengan jelas dia melihat beberapa mayat bersimbah darah dengan luka tusukan dan tembakan. Semuanya terasa jelas saat aku mengingat orang-orang yang melakukannya. Pembunuhan ini belum apa-apa mengingat keluarga mereka harus membayar mahal atas perbuatan yang mereka lakukan sebelumnya kepada keluargaku. Ini harus dibayar tuntas, tidak usah membalas dendam pada para pelaku, cukup membalaskan dendam kepada anak-anak mereka dan aku cukup puas. Aku tersenyum miring, membayangkan satu orang lagi akan jatuh ke dalam tanganku. Pelahan, aku menaruh jari itu ke dalam stoples yang berjejer dengan stoples lain. Aku melirik stoples yang berisi potongan telinga.
"Sebentar lagi kau akan kedatangan teman baru," gumamku.
"Dan kau...." Kulihat foto Ridwan yang berada di layar komputer.
"Aku menyesal harus melakukan ini…." Aku berhenti sejenak.
“Tapi ini hutang yang harus kau bayar karena telah mencampuri urusanku. Kau pikir, kau dapat membodohiku dan memberitahu polisi dengan cara menduplikatkan gantungan kunciku yang tertinggal hm? Sayang sekali, kau masih perlu banyak belajar,” ucapku sembari mengambil pisau lipat dari laci, lalu kuselipkan di tanganku yang tertutup jaket.
"Tunggu sebentar lagi, setelah ini pasti giliranmu," ucapku sambil mengelus mata Ridwan di layar.
Aku tersenyum lagi sambil melihat jejeran stoples berisi organ tubuh manusia di samping komputer kemudian pergi membukakan pintu untuk tamuku.
END

Komentar

share!