Si Pemungut Ilmu



 
Si Pemungut Ilmu
(Arena Nur – Tyataya)

Buuukkk!!!
Setumpukan kertas dilemparkan ke meja, tepat di hadapan Namira yang duduk penuh ketegangan. Namira terperanjat. Wajah semakin ia benamkan dalam kesal yang tak tertuang dengan bebas di hadapan Profesor Og Ikeda.

“Kau yakin ini adalah tugas yang dibuat oleh seorang mahasiswa?” tanya Profesor Og. Wajahnya dengan sengaja didekatkan pada wajah Namira.
“Iya, Prof,” jawab Namira singkat.
“Payah!” Profesor Og membuang muka, tangan kanannya ia simpan di saku celana. “Sempurnakan lagi tugasmu!” imbuhnya.
Dengan rasa kesal dan kecewa berbaur di hatinya, Namira meraih kembali tumpukan kertas yang dihempaskan Profesor Og. Ia berpamitan dan melangkah gontai keluar ruangan.
“Gimana, Nam? Tugas lu oke?” tanya Adler yang juga tengah dirundung kecemasan akan nasib tugasnya.
Namira menggelengkan kepalanya. “Lu siap-siap aja deh, Er,” ujar Namira lesu.
Tidak berlama-lama meladeni kecemasan Adler, Namira melanjutkan langkahnya yang terkimbang-kimbang, pulang ke tempat kost. Di sepanjang jalan, sesekali tumpukan kertas itu ia lihat dan baca, lalu kembali ia dekap. Batinnya terus berkomat-kamit. Logikanya aktif bergerak rumit, sampai ia tiba di puncak kekesalan.
“Dosen sial!” gerutu Namira seraya menghempaskan lembaran-lembaran kertas yang membuatnya hampir gila ke tempat sampah yang berdiri kokoh di halaman depan kostnya.
Beberapa langkah tak jauh dari Namira, berjalan seorang lelaki muda. Ia adalah seorang penjual gorengan. Pakaiannya sedikit kumal dengan sandal jepit bermotif cacat. Di kedua tangannya bergelayut beberapa kantong plastik besar. Ah! Ia sudah seperti kuli panggul yang dibayar tak seberapa oleh orang lain.
Lelaki muda itu menghampiri tong sampah, tempat Namira membuang kertas-kertas tugasnya. Sementara Namira sudah tak nampak lagi, menghilang di balik bangunan berpetak. Ditaruhnya kantong-kantong plastik itu. Tangannya ia gerakkan dengan ringan memungut kembali tumpukan kertas yang telah Namira campakkan. Keadaannya masih bersih. Lelaki muda itu kembali melanjutkan perjalanannya dengan membawa kertas-kertas itu tanpa dibaca terlebih dahulu.
***
Ribuan senja telah ia lewati dengan sangat melelahkan. Kerja keras menjadikan takdir sebagai sore yang memeluknya hangat. Lelaki muda penjual gorengan itu kembali bergeliat. Tak terhitung sudah berapa putaran ia gerakkan roda gerobaknya, tapi langkahnya selalu mantap. Di sebuah lahan kecil pertigaan jalan, lelaki muda itu memangkalkan gerobaknya. Menjajakan kudapan sederhana bagi mereka si penikmat makanan siap santap.
Sore ini, Namira menjadi sosok pemalas yang keterlaluan. Gadis itu tidak mandi, juga tidak memperhatikan penampilannya. Wajahnya yang biasa ia poles dengan sedikit bedak kini nampak kusut muram. Mungkin, jika bukan karena perutnya yang kelaparan, ia juga tidak akan bangkit dari kasur empuknya. Entah kenapa hari ini Namira ingin sekali makan gorengan hangat di pertigaan jalan, tidak jauh dari kostnya. Kakinya beranjak melangkah. Untunglah, sore ini si penjual gorengan itu masih ada. Tapi sayang, keadaanya sedang banyak pembeli. Namira melipatkan kedua tangannya di dada, menunggu gilirannya untuk dilayani. Matanya tetap fokus pada gorengan-gorengan yang membuat perut semakin bersuara. Kepiawaian si penjual gorengan dalam melayani konsumen menarik perhatian Namira.
Hey, tunggu.
Saat si penjual itu menarik bungkus gorengan, ada sesuatu yang membuat mata Namira terperangah. Bukankah di samping bungkus gorengan itu ada kertas-kertas milik Namira?
Namira Araitunnisa? Fakultas Hukum? hati Namira menggerutu. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, rasanya ingin sekali ia bertanya. Tapi gengsi yang membumbung tinggi ditambah banyaknya pembeli saat itu membuat Namira mengurungkan niatnya.
Mau pesan apa, Mbak?” tanya si penjual gorengan saat giliran Namira tiba.
“Eh, iya. Saya pesan bala-bala sama tahunya aja. Lima ribu,” jawab Namira setengah kaget.
Namira memperhatikan gerak gerik si penjual gorengan saat pesanannya mulai disiapkan. Ia yakin, pasti kertasnya akan dijadikan bungkus gorengan. Hati Namira terasa panas. Tapi bukankah dengan begitu, kertas-kertas itu akan menjadi lebih berguna ketimbang tergeletak begitu saja di tempat sampah?
***
Di tengah remang-remang malam, Namira masih bertahan dengan penantian dan keyakinannya. Bukan! Ia bukan tengah menanti kekasihnya atau orang tuanya yang akan berkunjung, melainkan si penjual gorengan di pertigaan jalan yang ia temui sore tadi bersama dengan kertas-kertas miliknya.
Pandangannya sibuk mencecar setiap wajah yang lewat di hadapannya. Namun, barulah setelah lima jam lamanya, ia menemukan sosok yang dicari.
“Hei!” tegur Namira ketika lelaki muda yang ditunggunya berada tak jauh darinya.
Lelaki muda itu terus berjalan tanpa memberi sedikitpun respons atas sapaan Namira. Ia tak menyadari bahwa yang Namira sapa adalah dirinya.
“Hei! Penjual gorengan!” tegasnya sekali lagi.
Lelaki muda itu menghentikan langkahnya dan menoleh pada Namira. “Saya?”
“Ya.” Namira menghampiri lelaki muda itu yang sudah berjalan jauh darinya. Ia terkejut, ternyata tugas-tugasnya masih terlihat utuh di gerobak. “Dari mana kamu mendapatkan kertas-kertas ini?” tanya Namira sembari mengambil tumpukan kertas itu.
“Di situ.” Lelaki muda itu menunjuk ke tempat sampah di halaman. “Siang tadi, ada seorang mahasiswi yang membuangnya. Setelah saya lihat, ternyata kertas itu cukup berarti.”
“Berarti?” tanya Namira dengan nada yang ganjil.
 “Ya.” Lelaki muda itu menyunggingkan senyum. “Mau saya tunjukkan sesuatu?” tanyanya kemudian.
“Apa?”
“Sesuatu itu ada di ujung jalan ini.”
“Baik. Kasih unjuk ke gue!”
Tanpa basa-basi lagi, lelaki muda itu mengajak Namira berjalan bersama ke suatu tempat yang tak lain adalah gubuk tempat si penjual gorengan berteduh dan melampiaskan lelahnya. Letaknya cukup jauh dari tempat kost Namira. Kumuh? Sudah pasti. Di sekelilingnya banyak berdiri bangunan semi permanen dan bergunung-gunung barang rongsokan. Rumah penjual gorengan itu berukuran paling kecil, tapi paling terang di antara bangunan lainnya.
Tanpa rasa takut, dengan tumpukan kertas miliknya yang masih ia genggam, Namira terus mengikuti lelaki muda penjual gorengan itu.
“Nama saya Muhammad Alfan.,” ujar si penjual gorengan memperkenalkan diri. “..dan itu adalah rumah saya. Sebentar lagi akan ada pesta di sana.”
“Emh.. nama yang bagus. Tapi tunggu!” Namira menatap wajah Alfan. “Pesta?”
Alfan tak menggubris pertanyaan Namira. Ia malah meninggalkan Namira yang masih mematung memandangi rumah Alfan. Ia menyapa sekumpulan bocah yang memang sudah menunggu kepulangannya. Baru setelahnya, ia membuka pintu rumahnya. Kain-kain lusuh yang menutupi jendela ia singkap-singkapkan. Rumahnya pun semakin bercahaya.
Satu per satu bocah-bocah itu masuk ke dalam rumah Alfan. Namira yang masih memperhatikan akhirnya tergerak untuk mendekati rumah Alfan.
“Pesta apa ini? Ulang tahun? Perayaan Halloween? Atau..?” tanya Namira rentet.
“Besok adalah tanggal merah yang berarti sekolah-sekolah akan libur dan aku pun akan meliburkan diri. Ini adalah ritual kami apabila libur. Aku membuka rumahku 24 jam untuk mereka,” jelas Alfan.
“Lalu? Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku?” Bahasa Namira mendadak sopan.
“Ini. Ini semua yang ingin aku tunjukkan. Coba lihat, mereka begitu bahagia di hadapan lemari-lemari buku itu. Kau tahu dari mana aku mendapatkannya?”
Namira menggelengkan kepala.
“Tempat sampah. Ya, walaupun tidak semua, tapi sebagian besar aku dapatkan dari memungut. Dan lihat ini…” Alfan membuka sbuah lemari kaca, “..ini semua adalah hasil karya kami dari membaca kertas-kertas yang kamu anggap sampah.”
Namira dibuat terpukau hebat. Ia tak menyangka dengan apa yang didapatinya kini. Alfan ternyata bukan hanya seorang penjual gorengan biasa, ia adalah penggerak yang dermawan nan hebat. Barisan lemari buku dan robot-robot itu adalah buktinya.
“Apakah kalian sekolah?” tanya Namira.
“Ya, mereka bersekolah,” jawab Alfan sembari menyeringai bangga.
“Kamu? Pasti sedang menempuh S2,” imbuh Namira yakin.
Alfan tertawa. “Aku? Hahaha… kamu ini lucu! Bagaimana mungkin aku bisa bersekolah setinggi itu, jika untuk mengisi perut saja aku harus menjauh dari masa remajaku?”
“Apa kamu tidak ingin melanjutkan sekolahmu?”
“Tentu aku ingin sekolah. Tapi untuk kaum sepertiku, ilmu mungkin lebih berguna. Karena untuk membeli ilmu, cukup dengan mengulurkan tangan ke tong sampah setiap mahasiswa dan cendekia. Sementara untuk besekolah, aku harus membunuh perutku sendiri.”
Jika tadi Alfan membuat hati Namira terpukau hebat, kali ini Alfan berhasil membuat hati Namira tertampar. Namira teringat akan keluhan-keluhannya selama menyandang status pelajar di Indonesia. Jelaskan, kurang beruntung apa Namira yang hari ini masih bisa bebas menuntut ilmu, berprestasi, atau sekadar berdiskusi tentang tugas bersama teman-temannya? Sedangkan Alfan? Seseorang yang tidak lagi berharap besar pada janji-janji pemerintah. Betapa orang-orang seperti Alfan ingin sekali bersekolah. Meluapkan harapannya dengan menabung ilmu. Alfan tidak pernah peduli apakah ilmu yang didapatnya itu dari tong sampah atau bukan. Baginya, itu adalah sebuah ilmu yang bisa menerangi jalannya.
Malam itu, di hadapan Alfan juga bocah-bocah yang lugu, Namira melihat  kembali tumpukan kertas yang masih berada dalam genggamannya. Dan untuk pertama kalinya, tumpukan kertas itu terlihat begitu mempesona. Namira mendekap erat kertas itu, berjanji akan belajar segigih mungkin. Dan tentu saja, akan memungut ilmu dari Profesor Og sebanyak-banyaknya.

TAMAT


Komentar

share!