Ngopi Doeloe: Ketika semua orang bisa menulis, siapa yang akan jadi penulis?


x


Oleh: Sayogand



Kini kita sudah memasuki era digital. Berbagai aspek kehidupan sudah masuk ke dalam ranah digital tak terkecuali dunia kepenulisan. Namun, apakah kemajuan teknologi ini juga memberikan kemajuan di dunia kepenulisan?

Saya ingin mengupas teknologi yang paling mengevolusi dunia kepenulisan di abad-21, internet. Munculnya blog di awal 2000-an menggegerkan dunia kepenulisan karena semua orang bisa mempublikasikan tulisannya secara gratis dan praktis. Tidak hanya itu, muncul pula website-website yang menyediakan fasilitas untuk mengembangkan kemampuan menulis orang-orang. Katakan saja website kaskus yang menjadi ruang untuk berlatih menulis artikel, website “wattpad” yang mengkhususkan diri menjadi ruang berekspresi para penulis fiksi, dan sosial media. Seberapa sering orang berbagi melalui facebook? Twitter? Blog bahkan website pribadi? Jawabannya: sudah menjamur. Terlalu menjamur.

sumber gambar: wattpad.com

Saya melihat berbagai tingkah laku orang-orang yang “gatal” ingin memanfaatkan media internet sebagai ruang untuk menulis. Banyak dari mereka yang menulis, menulis, menulis selama berjam-jam setiap harinya demi menggali “vote”, “cendol”, “Comment”, dsb. Menurut mereka, untuk menjadi penulis yang hebat itu harus mendapatkan feedback sebanyak-banyaknya, dan harus menulis sebanyak-banyaknya. Namun, benarkah begitu?

Saya menyimak cerita beberapa orang penulis kenamaan Indonesia. Katakan saja Chairil Anwar. Penulis puisi yang beken karena karyanya yang berjudul “Aku” ini ternyata bukan orang yang diam, menulis berjam-jam di dalam kamar. Bahkan seumur hidupnya, puisinya tak lebih dari 100 judul. Ia menulis sesekali, mungkin saat ia sedang kesal dengan keadaan politik bangsa, sedang jatuh cinta, atau sedang berada pada momen-momen tertentu yang ia rasa pantas untuk ditangkap dalam susunan kata yang apik. Hal ini berbanding terbalik dengan kelakuan mayoritas “penulis digital” masa kini yang rela menulis ribuan paragraf karena haus tanggapan netizen.

Kita lihat Dee Lestari. Dee juga bukan orang yang menulis berjam-jam setiap hari lantas dipublikasi tanpa jeda napas. Debutnya di dunia sastra dimulai dari novel “Supernova” pada tahun 2000. Berikutnya, ia rutin menulis satu judul buku setiap dua tahun. Ia memang bermimpi menjadi penulis, tapi ia tidak menulis setiap saat, hanya karena ingin dibaca. Lebih dari itu, Dee berkata bahwa ia menulis karena ia punya misi untuk mencerdaskan masyarakat. Berkat prinsipnya itu, Dee telah menghasilkan 1,5  miliar rupiah dari seluruh tulisannya. Padahal judul buku yang ia publikasikan masih bisa dihitung jari. Cerpen-cerpennya juga jumlahnya tak seberapa.

Sumber gambar: Hardrockfm.com


Lucunya, yang menerbitkan judul cerita setiap hari, tak jadi apa-apa. Karyanya hanya jadi pajangan di internet dan dikomentari netizen yang kualitas komentarnya dipertanyakan. Lantas dengan pasrah ia disetir kemauan netizen, sehingga pembacanya loyal bukan karena ceritanya berkualitas tapi karena Sang Penulis mau menulis sesuatu yang sesuai dengan selera dan keinginan netizen.
Ah ... sudahlah. Ketimbang mendengarkan para penulis pemula yang bilang “menulislah terus”, saya lebih suka mendengarkan prinsip para penulis cerita di Pixar, bahwa bila kita ingin handal bercerita, just live a life.

Semua orang bisa menulis, tapi siapa yang akan jadi penulis?


Punya opini juga? Yuk kirim ke redaksi Kafe Kopi!

Komentar

share!