Harapku Pada Tuhan

Harapku Pada Tuhan
Oleh: Nurul Diah

Mungkin ini terdengar gila di telingamu tapi percayalah bahwa ini yang ada di pikiranku saat ini. Mungkin aku yang memang gila, tapi percayalah aku seperti ini karena semua apa yang telah terjadi di antara kita berdua. Mungkin aku mulai tak waras saat aku mulai tak melihatmu di balik pintu rumahku. Mungkin juga aku jadi setengah manusia seperti ini karena aku tak biasa melakukan hal-hal kecil tanpa ada kamu yang mendampingiku. Atau mungkin juga aku jadi paranoid semenjak aku melihat kamu berkhianat di depan mataku.


Kamu, aku, juga secuil kenangan. Kini, kamu memang tak mengerti lagi atau kamu memang tak acuh akan semua yang pernah terjadi di antara kita. Kini, kamu telah melupakan semua yang dulu selalu menjadi kata manis di antara kita berdua. Kini, kamu telah lupa atau lebih tepatnya kamu tak tahu. Kini, kamu tak lagi tahu apa-apa yang dulu pernah menguatkan kata “kita”.

Jika aku diberi kesempatan yang tak akan terulang kembali oleh Tuhan, aku akan memohon untuk bertatap denganmu. Dan kini pun aku merintih agar mendapat kesempatan itu. Tak apa jika ada sedikit cerita yang kubumbui agar pertemuan kita kembali ada. Karena bagiku, kesempatan itu yang dapat menguatkan apa yang ada dalam diri ini bahwa kamu tetap yang dulu dan tak berbeda.

Barangkali dengan begitu, aku bisa meyakinkan diri bahwa orang yang aku cintai adalah dirimu yang dulu, kini, dan seterusnya. Pun aku bisa menenangkan kekhawatiran yang terus menerus mengejarku hingga aku terjaga setiap malam. Barangkali pula dengan begitu, aku bisa menjadi diriku yang baru dan akan ada kata “kita” untuk kedua kalinya.

Maka dari itu, aku memohon kepada-Mu, Tuhan. Bahwa aku mencinta seseorang yang dulu adalah setengah jiwa dan kini yang bahkan ia tak mengerti ia siapa. Berikan aku kesempatan di mana aku bisa membawanya kepada dirinya yang dulu. Dan takdir-Mu yang akan menyatukan kami seperti sedia kala saat pertemuan kecil di antara kami yang begitu lucu dan selalu ingin dikenang.

Pasti aku akan tergeragap saat harus mengatakan “hai” untuk pertama kalinya setelah sekian lama kepadamu. Pasti aku akan menahan tangis di saat senyumku tak bisa berhenti untuk disembunyikan. Pasti aku akan dengan sekuat tenaga untuk tidak meraih tubuhmu dan membenamkannya di dadaku. Juga untuk menahan segala apa yang ingin aku ucapkan namun hanya bisa sampai di ujung lidahku tanpa ada kata yang keluar. 

Mungkin kalimat “di sini adalah tempat favoritmu saat memelukku” adalah sebagai awal cerita di antara banyak cjiijo,llerita yang masih kusimpan dan kutata rapi. Yang kuharap dengan begitu kamu mulai membuka mata dan hatimu. Hingga jarak mulai mengerti bagaimana perjuanganku yang telah kukerahkan hanya untuk sekedar mengemis. Hingga waktu mulai memberikan sedikit imbalan atas segala rindu yang selalu kumuntahkan dengan tangisan. Hingga mereka berdua sama-sama menolongku atas segala yang telah kuberi tanpa kau tahu apa-apa melalui kesakitanku.

Tuhan, jika memang apa yang dulu kami katakan takdir adalah kami, mudahkanlah aku dalam bercerita untuk pertemuan kedua yang mungkin tak akan terjadi untuk kali kedua. Yang kuharap dengan begitu, aku bisa menyelesaikan kesalahanku dan tak lagi menangis dalam keheningan yang bahkan malam tak mau mendengarnya.



Komentar

share!