Gadis April



Oleh: Hasna

Gadis itu kembali berdiri di sudut teras kamarnya. Amat sering melihatnya berdiri di teras itu. Kadang aku hanya melihatnya sekilas, terkadang juga cukup lama. 


Rumah kami berseberangan. Aku melihatnya dibalik tirai yang menutupi jendela kamarku. Aku hanya mampu mengamatinya, Tak cukup nyali untuk menyapa atau sekedar berkenalan.

Namanya Elisha. Aku mengetahui, ketika ku dengar teman-temannya memanggil dari luar pagar rumah.

Hampir setiap hari aku mengamati Elisha. Setiap pagi pukul tujuh Ia keluar dari halaman rumah, bersama saudara perempuannya, berangkat ke sekolah.

Elisha tak pernah keluar rumah seorang diri. Selalu ada yang menemaninya entah itu Ayah, Ibu, saudara atau temannya.

Sore ini, Aku masih mengamatinya, tetapi ada sesuatu yang nampak berbeda. 

Sebenarnya sudah seminggu aura kesedihan itu mulai nampak. Namun tak sesedih sore ini. 

Berbeda dari minggu-minggu sebelumnya, wajah itu tampak murung. Benar-benar murung, pasti ada sesuatu. Tetapi apakah gerangan yang membuat wajah indah itu tampak murung, bagai langit biru yang seketika diselimuti awan gelap.

Perlahan tapi pasti, aku yakin sekali, sebuah bulir kristal perlahan menggelinding di pipinya.
 
Tampak seseorang berlari-lari kecil ke arahnya. Itu Ibunya. Aku sering melihat mereka.

Ibunya menyampaikan sesuatu padanya. Tapi apa itu?

Aku terperangah. Tidak, aku tak mendengarkan percakapan mereka. Tetapi hanya dengan melihat, membuatku tahu bahwa gadis itu ....

Gadis itu, Ia seorang tunawicara. Ibunya menyampaikan pesan dengan gerakan tangan.

Gadis April di tahun 2000.


Komentar

share!