Doa yang Mengalah ~ Part 2

Oleh: Sayogand

Pito diseret pasrah menuju sebuah sel di belakang masjid. Seperti Yesus Nazarelem yang pasrah ketika diseret ke bui hingga bertemu dengan perasaan dingin dan tenang di dalam sel , hingga Ia dapat kembali menerima wahyu. Wahyu tak pernah datang kepada orang yang banyak bicara dan banyak bertikai.

"Yaa Tuhan Yesus, apakah salah apabila anak manusia melakukan kesalahan? Bukankah kami tercipta berbeda karena tak ada yang sempurna? Lantas mengapa kau ciptakan anak-anak manusia yang lahir ke bumi dengan cara yang sama, tetapi menganggap dirinya suci hanya karena dia senang berlama-lama di tempat ibadahnya?
Wahai bapa, mereka menyakitiku atas namaMu untuk kesalahan yang tak mampu kutebus karena kemiskinanku. Mereka juga menyakiti anak-anak manusia yang lain menggunakan pelepah pisang. Mereka memperlakukan manusia seperti gembala atas nama pendidikan agama.
Tuhan yang selalu aku rindukan, mereka mendengung-dengungkan nama besarMu dengan lantang, memakai pengeras suara. Agar mereka tak bisa mendengar jeritan hati rakyat jelata di luar sana.
Tuhan, kemiskinan mereka anggap hiasan meja. Mereka menghambur harta untuk istana ibadah mereka, tanpa memahami ada perut-perut yang berteriak. "
Orang-orang di sel yang sama kemudian terbelah menjadi dua. Pendukung dan pemaki.
"Aku rasa apa yang dia bilang itu bener. Kalau ulama itu deket sama Allah terus kenapa mereka malah ngajarin kekerasan sebagai bagian dari pendidikan? Bukannya kita beragama supaya tau caranya berkasih sayang?"
"Ya, bocah itu emang bener. Tapi kan ulama itu utusan Allah, ga boleh dicela. Kalau kita salahin ulama, kita kena dosa."
Orang-orang yang tadinya bertabur kini mulai berkoloni. Mulut mereka tak berhenti berkomat-kamit dengan gerakan tangan penuh pendapat. Siang itu santri-santri dalam sel yang seharusnya membersihkan halaman belakang masjid, kini sibuk berpolitik.
****

Di seberang jalan, Rachel berjalan pelan dengan tulang punggung lebih tinggi dari ubun-ubun. Rachel belum berjumpa dengan usia paruh baya tetapi jam kerja yang tak henti membuatnya kini menjadi lansia sebelum waktunya.
Seorang ulama bergamis hitam menyambut kehadiran Rachel dengan rokok di ujung bibir.
"Tolong Pak, lepasin anak saya. Anak saya itu memang terkenal lemah akal, saya juga sering lihat dia ngomong sendiri sama bebek-bebeknya. Kami hidup hanya berdua, dan dia satu-satunya harapan saya untuk bisa makan."
"Ibu ... bukannya saya jahat ya sama anak ibu. Tapi saya memang punya prinsip bahwa islam harus ditegakkan. Islam punya hukum. Yang salah harus disalahkan, yang benar harus dibenarkan, tanpa pandang bulu entah itu dia rakyat jelata ataupun konglomerat ibukota.  Untuk itu kami minta uang ganti rugi sebesar 500 ribu untuk dana perbaikan masjid. Anggap saja itu adalah biaya hukuman agar Pito jera, anggap ini biaya pendidikan agamanya Pito." ulama itu berbicara dengan santun dan bijak seperti desis ombak malam hari.
Rachel mengeluarkan berlembar-lembar uang lusuh dan juga setumpuk koin dari tas kainnya. "Kami orang miskin. Pito hanya bantu-bantu tetangga ngurus ternak, dan digaji lima ribu rupiah sehari. Ini isi semua tabungan saya, mohon lepasin Pito, Pak ...."
Dengan cekatan ulama itu menghitung uang pemberian Rachel. 450 ribu.  "Kurang sedikit tapi tidak apa-apa lah. Terimakasih ibu, jazakallahu khairankatsiran, dana ini kan jadi dana pembangunan masjid sehingga insyaallah berkah." Lantas ia masukkan saku kanan. "Oh iya ibu, kami prihatin dengan kelakuan anak ibu yang sangat jauh dari ajaran agama. Kalau ibu mau Pito mendapat pendidikan agama, menjadi santri di pesantren kami, kami bisa berikan potongan harga sebesar...."
"Nggak, Pak. Terimakasih."
****

Setelah menuntun Rachel kembali ke kasurnya, Pito membuka kunci bak belakang colt. Itik-itik berhambur.
"Tumben sampe hampir sore gini, Pit?" panggil Endang, pria paruh baya berperut buncit, pemilik ternak yang dikelola Pito.
"Maaf ya, Pak ... tadi nabrak, ini depannya jadi dekok gini."
"Kamunya ga apa-apa tapi?" Endang melihat tubuh Pito dari atas kebawah lalu ke atas lagi. "Yang penting kamunya gapapa, mobil dekok mah bisa diketok magic."
"Ga apa-apa pak gaji saya pake aja buat benerin mobil bapak ...."
"Haduh, kamu ini ... ntar mbok mu makan apa? Udah gapapa ini mah saya yang urus, kamu urus ini aja nih ... masukin kandang." ucap Endang sembari menunjuk ke itik-itik di kebunnya.
Pito mengambil pelepah pisang dan itik-itik langsung berbaris rapi.
"Cukup pakai pelepah pisang ya, langsung pada nurut." Endang terkekeh sendiri.
"Iya, Pak. Saya harus pake pelepah pisang biar itik-itik bapak beragama."
****

Di perbatasan senja, Pito duduk di tepi jurang. Matahari bercumbu dengan kuncup pinus, dan tubuh kurus Pito terhuyung angin sedikit-sedikit.
"Siapa yang memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan."
Pito pergi meninggalkan senja, karena ia harus segera salat maghrib.



Ramadhan 2017
Menanti makanan gratis di masjid.

Komentar

share!