Doa yang Mengalah ~ Part 1

Karya: Sayogand


Pito lebih dari sekedar penggembala. Ia tak hanya memberi makan itik ternaknya tetapi juga mengajak bicara. Itu pula yang menjadikannya anak sebatang kara. Batang kara yang benar-benar sebatang. Tak punya sanak saudara dan tak punya teman karena dianggap gila.

Pito lebih dari pekerja keras. Ia bekerja sebelum cahaya mencairkan embun, dan baru mau berhenti setelah bulan lelah berdiri. Itu pula yang membuatnya menjadi manusia yang tak takut apapun -ia berkali-kali selamat dari serangan anjing hutan-, dan pula tak mengenal senyum sebagai sahabatnya, meski usianya masih sekelas benih jagung.
Bila kujelaskan Pito lebih lanjut mungkin aku lebih suka menggambarkan penyanyi cilik yang melompat-lompat di atas panggung, diliput televisi karena diperintah mamanya, lalu berangkat ke sekolah supaya tidak dianggap pemalas. Tapi lebih dari itu, Pito menjadikan alam sebagai sekolahnya, dan menjadikan gembala-gembalanya sebagai penonton pidato pagi harinya.
"Sesungguhnya anak-anak Yesus itu menyesal karena perbuatannya yang tergesa-gesa." matanya tajam menatap seluruh pendengar setianya, itik-itik lapar. "Manusia itu berjerih payah di bawah matahari, sibuk berlelah-lelah menjaring angin untuk sukacita yang melahirkan dukacita."
Itik-itiknya berlarian mengobok lumpur-lumpur sawah. Dan Pito mengakhiri pidatonya, "Siapa yang memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan."
Closing yang memukau tersebut mendapat apresiasi dari terik siang dan angin muson. Alam bertepuk tangan melalui cara-cara yang hanya Pito mengerti. Lantas ia bergeser ke lumbung, untuk duduk tersungkur sembari mengeluarkan buku sekolahnya. Sebuah buku yang besarnya tak lebih dari kepalamu. Kertasnya berlarian, serta halaman depan yang tersisa tulisan "Al-Kit" karena huruf-huruf sisanya pulang kampung, terseret hujan pekan lalu.
Memang ini yang paling aku kagumi dari Pito. Dia tak kenal tidur sekalipun kesempatan itu ada. Dia pikir tak apa menjadi sebatang kara, karena batang kara juga berhak untuk bermimpi menjadi batang besi.
Aku lupa untuk bicara lebih lanjut soal asal muasal Pito. Pito anak tunggal dari sepasang suami istri yang bermimpi punya anak, Yunus dan Rachel. Pito kecil lahir di kegelapan, mendahului kokok ayam. Ia tak menangis, itu yang membuat Rachel menemukan Pito sebegitu mudah. Mereka bertemu bukan karena kebetulan, tetapi karena hati yang sama-sama menjerit dalam hening.
Sayangnya Pito kecil hanya bisa hidup di bawah payung hingga masa balitanya lewat dua tahun. Sisanya, ia dihadapkan pada pilihan untuk menunduk agar bisa melihat atau menengadah agar bisa minum tetes-tetes air pemberian Tuhan Yesus.
Rachel sakit keras hingga tubuhnya seperti ranting siap patah. Hidup tanpa suami selama dua tahun membuatnya tumbuh menjadi wanita karir yang berkarir di perkebunan. Pada musim panen dia ikut menumbuk dan menebar benih baru. Pada musim kemarau dia ikut memetik pucuk teh, dan malamnya ia sibuk berkeliling perkebunan sembari menghisap asap tembakau.
Sayangnya Rachel tak sadar jam kerjanya membuat tubuhnya cepat membusuk. Sehingga kelumpuhannya sekarang harus ditopang oleh keringat Pito agar ia tetap bisa berdiri.
****
Pito berhenti membaca. Lalu kembali mengarahkan gembala-gembalanya mendekati jalan raya menggunakan pelepah pisang. Lantas menggiring mereka naik ke atas mobil colt bertepikan kayu-kayu meranti keropos bagai asap yang tertiup angin muson. Ia habis karena disantap rayap.
Masa kecil Pito habis untuk menjadi dewasa. Hidup dengan remeh koin setiap harinya, menempanya menjadi manusia yang berbakti pada bumi dan menghamba pada langit.
Di saat anak-anak seusianya memilih tertawa sendiri di lapang kosong dan dahan pohon, ia memilih bertaruh dengan perasaan kurang dan menyesal yang hangus karena hirau tak menyambutnya. Nyatanya menyesal pun bisa kesal.
Sekedip mata, tahu-tahu mobil Pito sudah bersatu dengan benda lain diirigi suara benturan yang membelalak mata. Pito keluar. Dan hitungan satu waktu, Pito dikepung orang-orang bergamis, berjanggut lebat dan berpeci.
"ALLAHUAKBAR! ANCUR BEGINI!" seseorang berteriak keras melihat dinding masjid hancur setinggi pinggang orang dewasa.
"Adek yang bawa mobil?" tanya seseorang pada Pito. Pito menganggung, dengan wajah menyesal. Lalu pertanyaan berikutnya kembali melayang, "Siapa nama kamu?"
"Pito." jawab Pito dengan pita suara bergetar.
Seseorang bergamis hitam muncul dari belakang dengan mata terbelalak bak melihat Jibril mampir. Seseorang mendekatinya dan membisikkan sesuatu. Lantas kepala lelaki itu bergeleng-geleng, "Astagfirullah ... kenapa bisa bocah SD nyetir mobil?". Kakinya mendekati Pito. "Kamu gapapa?"
Di sudut utara, segerombol anak menyimak. Mematung bagai batu karang di hutan mangroove. Terpana bagai jantan bertemu betinanya.
"Maaf Pak, saya tadi sambil ngantuk. Saya janji ga akan ngulangin lagi ....." Pito mengemis.
"Kamu pikir ngancurin tembok kayak gini cukup pakai kata maaf? INI RUMAH ALLAH! Kamu berdosa! Barangsiapa yang menghancurkan rumah Allah maka ia akan menerima laknatNya!"
Pito menunduk, "Maaf Pak, saya janji ga akan ulangin lagi."
"Astagfirullah ... tanggung jawabmu mana? Ini kamu baru ngelakuin dosa. DOSA! Bayar ganti ruginya, 500 ribu, atau kamu jadi pengurus masjid ini, dua bulan."
"Bener Pak, saya orang miskin. Ibu sakit, ayah sudah mati. Tolong lepasin saya, Pak. Saya harus cari uang buat hidup ibu saya." Pito memelas dengan wajah mengerut. Semua ulama membuang muka.
"Klise. Kami ini utusan Allah untuk menjaga rumahNya di muka bumi. Untuk menebar islam di muka bumi. Masjid ini tempat ibadah, tempat berdakwah, tempat santri menuntut ilmu islam! Kamu tempatnya dosa! Kamu syetan! Kafir!". Seketika Pito terlempar ke tanah diiringi dengan segenap suara takbir di sekelilingnya.
Pito menengadah, mengeluarkan Injil dari dalam tasnya, yang kemudian kertasnya menghambur ke udara.
"Bilang sama saya, kapan Tuhan Yesus tidak memaafkan! Ceritain juga kapan Tuhan yang bapak sembah itu tidak memaklumi anak-anak manusia yang bertingkah salah!" Pito berapi-api.
"DIAM KAMU BOCAH!"
"Kalau ini rumah Tuhan kalian harusnya Tuhan kalian lah yang menghakimi saya!"
"Kami ini utusanNya, kami berhak mengambil keputusan asal itu demi kebaikan!" seorang ulama kembali mendaratkan gempalan tangannya di wajah Pito. Sayangnya kemiskinan Pito menempa Pito agar tubuhnya lebih kuat dari tubuh badak. Tanpa kesakitan, Pito kembali menatap wajah ulama-ulama itu satu-persatu.
"Jadi ini yang kalian sebut kebaikan? Saya cuma orang miskin yang nggak sengaja nabrak dinding masjid karena saya ngantuk. Saya hanya tidur satu jam setiap harinya dan ...."
"KAMU YANG KURANG AJAR! INJIL KAMU LEMPAR-LEMPAR KE TANAH! INI KITABMU, K.I.T.A.B.S.U.C.I! KAMU NGGAK NGEHARGAIN AGAMAMU SENDIRI! DASAR KAFIR!"
Melihat keadaan yang semakin tidak layak dipertontonkan, gerombolan anak-anak di sudut utara lantas diusir menggunakan pelepah pisang. Anak yang memaksakan diri untuk diam di tempat akan tertebas tanpa maaf.

Lantas tangan Pito ditarik kuat oleh salah satu dari ulama itu. Pito kuat memberontak, tapi yang mampu berkutik hanya kata-katanya, "Yang harus diperlakukan suci dari kitab adalah ilmunya, bukan kertasnya." 

Bersambung ....

Komentar

share!