A Cup of Marriage




A Cup of Marriage
(Oleh Ryie Anh)

            Aliyah mengusap wajahnya kasar. Jejak-jejak keringat yang masih menghiasi wajah kusutnya, ditambah dengan lingkaran hitam yang entah sejak kapan sudah menempel di bawah matanya, menimbulkan kesan lelah di paras gadis ayu itu.

            Lelah.
            Itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Aliyah sekarang ini. Bekerja sebagai seorang sekretaris di salah satu perusahaan terkenal membuatnya harus bekerja penuh menemani bosnya rapat dimana saja dan kapan saja. Belum lagi lembur hampir tujuh hari dalam seminggu bila perusahaan tempatnya bekerja sedang menghadapi proyek; dan karena kehebatan sang bos, perusahaan mereka selalu mendapat proyek-proyek besar. Itu berarti Aliyah selalu bekerja lembur.
            “Al, kamu capek ya?” Aliyah menoleh saat seseorang bertanya.
            Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang mengenakan setelan jas secara acak-acakan dengan wajah yang tidak kalah lelah dengan Aliyah. Nama laki-laki itu adalah Alvin Indrajaya anak tunggal pengusaha sukses Indrajaya dan merupakan penerus sang ayah.  Atau bisa dikatakan, Alvin Indrajaya adalah bos dari seorang Aliyah Sufiyah.
            Alvin duduk di sebelah Aliyah, mereka sekarang sedang berada di lobi hotel setelah menghadiri rapat dua jam yang lalu. Aliyah diam-diam melirik ke arah Alvin dan pura-pura melihat ke arah lain saat Alvin menengok ke arahnya.
            “Al, kok diam? Nggak enak, eh, diam-diaman gini,” celoteh Alvin.
            Aliyah tersenyum, bekerja sama dengan Alvin selama kurang lebih tiga tahun membuatnya hapal kelakuan Alvin, terlebih saat pemuda itu sedang lelah seperti ini. Alvin akan senang sekali mendengar orang berbicara dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.
            “Nggak ah, nanti kamu ketiduran lagi,” tolak Aliyah dengan nada bercanda.
            Alvin memanyunkan bibirnya. “Ya, itu nggak sengaja, Al. Habis, suara kamu itu merdu. Jadi tiap kali kamu ngomong rasanya damai banget gitu,” goda Alvin tanpa sadar membuat Aliyah merona malu. Memang selama ini, sebelum tidur Alvin akan menelpon Aliyah dan meminta gadis itu untuk bercerita.
            “Kayak suara mbak-mbak operator. Bedanya kalau mbak-mbak operator omongannya bisa bikin sakit hati.”
Aliyah mencubit Alvin gemas. Ternyata godaan Alvin masih ada sambungannya. Sementara Alvin tertawa karena sudah berhasil menggoda Aliyah, dan tidak menghiraukan pandangan aneh orang-orang di sekitar mereka.
            “Ampun, Al, ampun.”
Kali ini Aliyah memasang wajah ngambek, membuat Alvin makin ingin tertawa lebih kencang. Tapi mengingat mereka bukanlah anak remaja lagi membuat Alvin menahan keinginanya dan kembali menjadi seorang laki-laki yang berwibawa.
            “Al, kamu nggak lapar? Gimana kalau kita ke cafe yang biasa aja?” tawar Alvin. Aliyah mengangguk dengan semangat. Cafe langganan mereka memiliki suasana yang nyaman dan sangat cocok untuk menjadi tempat pelepas penat. “Ayo, kebetulan lagi pengen ngadem,” jawab Aliyah. Tapi saat ingin melangkah, kaki Aliyah tersandung dan untuk sesaat Aliyah merasa melayang di udara sebelum sepasang lengan kekar menangkapnya.
....
            Alvin dan Aliyah duduk berhadapan dengan canggung, bahkan saat pelayan cafe menghampiri meja mereka sekalipun. Kejadian di lobi hotel tadi masih membuat mereka salah tingkah dan rona merah tampak menghiasi wajah kedua insan itu. Aliyah sendiri tidak berani menatap Alvin secara langsung, di dalam pikirannya masih terbayang wajah cemas Alvin saat menangkap tubuhnya yang hampir saja berbenturan dengan dinginnya lantai. Tatapan Alvin yang dalam seolah-olah menembus hati Aliyah. Dan itu semua membuat Aliyah ingin berteriak.
            Sementara tanpa Aliyah sadari Alvin juga merasakan hal yang sama. Sebenarnya sudah lama Alvin memendam suka pada gadis ayu dihadapannya itu. Bekerja sama selama tiga tahun membuatnya sudah terbiasa bersama Aliyah. Alvin menyukai senyum gadis itu, suaranya, untaian kata yang selalu menyemangati dirinya, bahkan lirikan matanya saat Aliyah menatap Alvin diam-diam. Usianya sudah cukup untuk menikah, tapi jangankan menikah, pacaran saja dia belum pernah. Dan sekarang saat Aliyah, gadis yang dicintainya, selalu ada di hadapannya Alvin masih saja tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Apalagi untuk mengajak Aliyah menikah. Dan itu semua membuat Alvin ingin berteriak.
            “Hah...” keduanya menghela nafas berat secara bersamaan. Membuat keduanya mendongak dan saling menatap secara bersamaan. Rona merah di wajah keduanya semakin nampak dan entah kenapa mereka berdua malah terpaku. Musik yang mengalun lembut menjadi suara latar yang mengiringi  tatapan mereka.
            “Permisi, pesananya sudah datang.”
            Mereka berdua terhentak kaget. Si pelayan tersenyum dan meletakkan secangkir coffee latte, guava juice, rainbow cake dan sepiring pancake dengan toping ice cream di atas meja. “Silahkan dinikmati”, Aliyah mengangguk kikuk dan mulai menyuap pancakenya. Sesaat kemudian dahi Aliyah mengkerut.
            “Kapan aku pesan ini?”
            “Aku yang pesan, Al.”
            Aliyah mendongak. Menatap Alvin dengan pandangan bertanya.
            “Aku refleks aja, Al,” jelas Alvin sambil tersenyum canggung. “Kita sudah tiga tahun kerja sama, aku jadi hapal makanan kesukaan kamu. Kamu juga gitu kan?” Aliyah menggigit bibir. Tiga tahun baginya sudah mengukir banyak sekali perasaan.
            Alvin menghela nafas berat saat melihat Aliyah terdiam. Merutuki dirinya yang masih seperti seorang pengecut dan tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
“Makasih ya sudah jadi sekretaris yang baik buatku selama ini.”
Spontan Aliyah kembali menatap Alvin saat mendengar nada putus asa di kalimatnya. Apa Alvin ingin memecatnya? Padahal tidak ada masalah yang diperbuatnya. Hanya insiden kecil tadi yang membuat suasana menjaadi buruk. Apa itu yang membuat Alvin ingin memecatnya? Aliyah kembali menggigit bibirnya dan perasaan tidak rela menguar di hatinya hingga membuat air matanya ingin keluar. Jujur, Aliyah tidak ingin berpisah dengan Alvin. Bahkan hanya status di pekerjaan saja sudah cukup.
Alvin mengangkat secangkir coffee lattenya. “Al, sebenarnya aku takut ngomongin ini. Tapi aku nggak mau bikin kamu nggak enak gini.”, ekspresi Alvin saat berbicara benar-benar ingin membuat Aliyah menangis seketika. “Aku takut semuanya menjadi terlambat dan aku bakal kehilangan kamu.”
“Nggak apa-apa, Vin. Kamu ngomong aja. Aku siap kok dengerinnya,” kata Aliyah pasrah, yang membuat Alvin makin mantap.
“Aliyah, apa kamu mau nggak kalau tidak hanya menjadi teman kerja tapi juga teman hidup buatku?”
Aliyah ternganga. Sementara Alvin menatapnya dengan yakin. Suara Alvin yang lantang membuat pengunjung cafe yang lain menatap mereka dan secara bersamaan menahan nafas menunggu kelanjutan adegan tersebut.
“Apa kamu mau menjadi isteriku?” tanya Alvin dengan pandangan memohon sekaligus takut.
“Tapi kalau kamu nggak mau aku juga,” perkataan Alvin terputus saat Aliyah dengan lembut mengambil cangkir yang dipegang Alvin dan menyeruputnya.
“Mau. Aku mau, Vin.”
Sontak pengunjung yang lain bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Alvin yang tengah tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan Aliyah yang sedang menangis terharu.
Sementara itu di counter kasir dan pelayan, “Akhirnya pelanggan kita yang itu jadian juga,” kata seorang pelayan sambil mengusap air matanya. “Semoga mereka bahagia ya,” sambut yang lainnya. Selama tiga tahun belakangan ini mereka dan juga cafe tersebut telah menjadi saksi akan cerita mereka, tatapan diam-diam, dan harapan yang mereka tuliskan di dinding saat datang sendiri-sendiri.
Dan kini cerita cinta Alvin dan Aliyah dituliskan di secangkir coffee latte yang disajikan di sebuah cafe sederhana dengan suasana yang nyaman dan cocok untuk melepas penat. Dan kini mereka siap menunggu cinta lainnya yang akan bersemi di dalam secangkir pernikahan.  


Komentar

share!