Takdir Kamu atau Sepatu?



Oleh: Ditania

Aku masih ingat, bagaimana sepatu mengantarkan takdir kita. Ketika aku menyembunyikan sebelah sepatu merahmu sepulang solat tarawih. Aku pikir itu sepatu abangku, karena aku memiliki dendam kasih sayang pada abangku. Tanpa wajah berdosa, aku tenteng sepatu itu sampai rumah.


Sampai di depan rumah, aku lihat abangku duduk santai di depan rumah dan memakai sepasang sepatu merahnya. Lalu sepatu siapa yang kubawa? Tawa abangku membuatku kesal. Aku berniat mengembalikan sepatu tersebut ke masjid besok ketika solat tarawih, malam ini aku lelah sekali. Alasan sebenarnya aku takut pada si pemilik sepatu.

Tak disangka, di pagi menjelang siang kau datang ke rumahku. Mencari sepatumu. Bagaimana mungkin kau bisa tahu? Berkali-kali aku minta maaf, berulang-ulang aku menjelaskan alasannya. Tapi kau tak mau memaafkanku. Sampai aku hampir putus asa.

"Apa syaratnya?"

"Kau harus menikah denganku."

"Syarat macam apa itu?"

"Kalau begitu, aku tidak akan memaafkanmu."

"Saya masih kuliah."

"Lalu kenapa?"

"Seseorang yang menuntut ilmu, bagaikan orang yang sedang berlayar. Ketika dia menikah di tengah menuntut ilmu, mulailah perahunya bocor. Dan dia mulai disibukkan untuk mendayung perahu sekaligus mengeluarkan air."

"Kalau begitu, biarkan aku bocorkan perahumu. Aku yang akan mengeluarkan air dari perahu, aku juga akan membantumu mendayung."
###

Aku tertegun melihat mahar yang kau berikan. Sepasang sepatu berwarna krem, disandingkan dengan sepatu merahmu. Tapi hari ini, sepatumu baru. Tidak buluk seperti dulu.

Begitulah takdir, tidak ada yang tahu. Tapi tunggu, ini takdir kami atau takdir sepatu?


Komentar

share!