Setelah Hai



Oleh: Kartini

Pada titik tertentu, aku mensyukuri keberanianku. Jika bukan karena kukesampingkan ego dan gengsiku, aku tidak mungkin berani menyapamu siang itu.


Tidak banyak basa-basi. Kita hanya butuh menatap mata satu sama lain, sembari tersenyum tipis--dan aku berani bertaruh aku merasakan hangatnya semu merah di wajahku, mungkin kau juga melihatnya, dan fakta itu seharusnya membuatku malu. Namun aku tetap senang, senyumku merekah tanpa bisa kutahan.

Kita membicarakan banyak hal. Dari kabar, kuliah, sampai buku dan anime. Lancar dan berkesinambungan, kita terkoneksi satu sama lain. Kau mengerti gurauanku dan aku menangkap leluconmu.

Kita seakan sudah sangat lama saling kenal, dan kita menyimpan begitu banyak cerita untuk suatu saat dibagi satu sama lain.

Aku seperti pulang ke rumah, dan menemukan semua mainan masa kecilku masih berfungsi, dan aku masih senang memainkannya. Aku seperti menemukan baju favorit yang kebetulan sudah usang yang tersimpan di sudut lemari. Tapi saat kupakai masih memberikan kenyamanan yang sama saat pertama kali kukenakan.

Aku, menemukan kembali apa yang bisa menerbitkan senyum lebar dan tawa renyahku.

Terima kasih, kawan.


Komentar

share!