Sesalku



Oleh: Rita

"Kamu yakin, Jo?" tanyaku pada sosok yang berdiri di sampingku. Ia tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan tanpa melihatku. Helai rambut panjang nya menari- nari di atas pipi. Dan sekali lagi aku terpesona.


"Aku bisa jaga kamu, Jo, aku bisa sayangin kamu lebih dari dia." Sekali lagi kucoba meyakinkannya. Sungguh, aku tak ingin menyerah pada perempuan ini. Belum pernah aku menginginkan seseorang sedalam ini.

Seperti menganggapku tak ada, dia bahkan tak menoleh. Kulihat ia memejamkan mata, dan dengan tenang menarik napas, seolah menikmati udara di atas jembatan tempat kami berdiri sekarang.

Kuremas rambutku kasar, frustrasi pada keadaan ini, frustrasi pada perempuan yang selalu menolakku meski sudah berulangkali kukatakan sayang padanya. Hening, tak ada lagi yang bicara, aku hanya mampu tertunduk menantinya bicara.

Tak lama kurasakan elusan di tanganku. Dia menatapku intens, seolah mencari sesuatu di mataku. Dan aku paham, apapun yang kukatakan tidak akan pernah membuatnya mengubah keputusan.

"Aku tau kakak orang baik. Aku tau kakak sayang sama aku. Tapi luka, luka yang dulu pernah kakak toreh, nggak semudah itu sembuh kak. Bekasnya selalu ada, bahkan sampai sekarang." Pelan-pelan ia mengucapkan semua kalimat itu, seolah ingin memastikan bahwa aku memahami semuanya.
Ia kemudian menarik napas dalam, dan tangan kecilnya meraih kedua tanganku untuk digenggam.

"Nggak Jo, jangan." Tuhan, aku ingin menangis sekarang. Sungguh, aku tidak rela kehilangannya sekali lagi. Ia mengeratkan genggamannya pada tanganku.

"Terima kasih karena sudah datang lagi dan mencoba memperbaiki semuanya. Aku bersyukur, pernah mengenal orang seperti kakak. Tapi keputusanku nggak berubah kak, kita nggak akan pernah sama lagi kayak dulu. Cukup yang dulu jadi cerita masa lalu, dan sekarang kita punya masa depan kita masing- masing."

"Maaf, karena hati aku ternyata udah berubah." Penantian untuk kakak selama dua tahun, tanpa aku sadari udah mengubah perasaanku. Dan orang itu bukan lagi kakak. Maafin Jo kak.

"Perlahan genggamannya mengendur, tak ada lagi tangan kecil yang membungkus tanganku. Dapat kurasakan langkah kecilnya menjauh dariku. Meninggalkan aku yang terpekur sendiri menyesali semuanya. Kesalahan yang ternyata tak termaafkan baginya.

Aku hancur, menangis dalam diam menyesali semuanya. Maafkan aku, Jo. Maafkan aku.


Komentar

share!