Seandainya Jembatan Kita Tak Rusak



Oleh: Venti

Balo mengembuskan napasnya berat. Dilihatnya langit, terasa begitu terik dan tak henti membuat dirinya bermandi keringat.

"Mak, Balo pergi dulu!" teriaknya sambil berlari menyusul Wiwik dan Sulin yang sudah menunggunya di seberang.


"Lama sekali kau, Balo. Bisa-bisa kita terlambat!" gerutu Wiwik. Perempuan dengan sepatu usangnya itu menampakkan wajah kesalnya.

"Sabarlah, Wik. Balo kan baru selesai membantu Mamaknya kerja. Bukan dia tuh bermalas-malasan." Sulin membela Balo.

Balo sendiri diam, ia tidak ingin membantah ucapan Wiwik, atau pun memperkuat argumentasi Sulin.

"Kau tau, tidak. Ternyata untuk mencari nilai x pada segitiga itu mudah. Kita tinggal memasukkan fungsi trigonometri saja. Kalian sudah mengerjakannya?" tanya Sulin, membuka topik baru.

"Memangnya ada pr, Lin?" tanya Balo kembali dengan wajah cemas. "Aku tak ada belajar semalam. Kau tahulah Mamakku baru pulang jam sepuluh, jadinya aku yang ngurusin rumah."

"Memangnya Mamakmu ke mana, Balo?" Wiwik tak kuasa menahan rasa penasarannya.

Balo tersenyum. "Biasa, habis jualan getah sama Bapak ke kota."

"Oh. Berapa harga sekilo getah tuh sekarang, Balo?"

"Harga getah nih lagi turun, Wik. Cuma enam ribu per kilo. Bapakku jual seratus kilo langsung, lumayan dapat enam ratus ribu. Tapi kau tau sendiri lah kota dengan rumah jauh. Untuk biaya pulang pergi bapak sama mamak aku udah abis lima ratus ribu." Balo menceritakan dengan sedih hati.

Sulin dan Wiwik pun ikutan murung. Mereka sibuk bergumul dengan pemikirannya masing-masing. Lama mereka berjalan, namun belum juga sampai ke sekolah.

Ketiganya berhenti tiba-tiba.

"Balo, duluan lah. Kau kan cowok," perintah Wiwik.

Mau tak mau, Balo mulai maju perlahan. Dengan pelanyang teramat sangatdan disertai oleh degupan jantung keras, Wiwik, Balo, dan Sulin berjalan dengan hati-hati di atas jembatan kayu tua yang sudah rapuh itu.

BRAKK!!!

"Aaaaaa!!!"

"Suliiiiiin!!!"

Balo dan Wiwik panik seketika, sementara Sulin kini hanya memegang ujung jembatan. "Wiwik, Balo! Tolongin!"

Tubuh ketiganya memucat.

"Su-u-lin u-dah ga ku-at!" Sulin terbata-bata dengan sisa kekuatannya.

Buliran keringan semakin membanjiri ketiganya, manakala matahari dan adrenalinnya berkolaborasi.

"Ya Bapa, selamatkanlah kami," pintah Balo di sela-sela kebingungannya. Tak ada satu pun orang dewasa yang melintasi area tersebut, terlebih karena orang-orang dewasa di kampung mereka pasti sedang sibuk bekerja. Jembatan usang tak pernah tersentuh oleh pemerintah menjadi saksi, betapa kerasnya perjuangan anak-anak untuk dapat mencecapi rasanya pendidikan.

Entah apa yang menjadi akhir dari kisah mereka, namun sayup-sayup masih terdengar rintihan mereka, "seandainya jembatan kita tak rusak."


Komentar

share!