Kisah Mencapai Kota Impian

Oleh: Rofikotul

“Mala, selamat ya, lo jadi wisudawan terbaik tahun ini.”

Aku tersenyum pada Gigih, sang reporter dari Lembaga Pers Mahasiswa. Saat ini dia tengah meliput para mahasiswa yang wisuda. Dan aku, terpilih menjadi narasumbernya. Sungguh sebuah kebanggaan untukku.

Thanks ya Gih, kamu kapan dong diwisuda? Jangan organisasi mulu,” ledekku. Tapi ini hanya sebuah candaan, dan Gigih juga tau itu. Dia terkekeh juga malu, terlihat dari ekspresinya.

“Doain aja secepatnya,” balasnya singkat. Aku hanya mengangguk.

Wawancara pun dimulai, dia membuka notes kecil yang berisikan pertanyaan yang akan diajukan. “Ceritain dong, gimana awal lo kuliah ... terus kesulitan lo sampe akhirnya jadi wisudawan terbaik gini?”

Aku tersenyum malu, juga sedikit meringis jika ingat bagaimana sulitnya saat pertama kali lulus SMA.

“Dulu, Ibu nggak ngizinin aku buat lanjut kuliah dengan alasan biaya yang mahal. Memang benar, aku juga mengakui itu. Belum lagi melihat Ibu dan Ayah yang banting tulang untuk kebutuhan hidup juga biaya sekolah Adik aku, rasanya mau kuliah itu hanya ... yah ... 0,5 persenlah,” aku menceritakan awal kisahku. Gigih tampak serius mendengarkan sambil memegang ponselnya.

“Ayah hanya tukang becak dan ibu menjual gorengan. Bagaimana mungkin aku harus egois jika melihat mereka yang pulang sambil mengusap peluh? Sulit banget Gih. Ayahku terus mendukung untuk kuliah, kata beliau ‘jangan bosan untuk belajar’, itu yang buat semangatku berkobar lagi.”

“Aku ikut ujian, Ayah yang biayai dengan tabungannya. Subuh-subuh Ayah udah nganter aku dengan becaknya untuk ujian juga saat pertama kali masuk kuliah. Terkadang juga Ayah harus membuang waktu kerjanya hanya untuk mengantar dan menjemputku, alasannya sedang tidak ada penumpang. Padahal aku tahu, ayah hanya tidak ingin aku kelelahan. Beliau tidak pernah memikirkan dirinya,” mataku mulai memanas, untuk bercerita tentang bagaimana orang tuaku berkorban rasanya aku ingin sekali menangis.

Gigih juga hampir sama sepertiku, namun dia lebih pintar menutupinya. Mungkin karena dia laki-laki.

“Lalu, lo nggak coba beasiswa?”

“Itu sudah pasti Gih. Setelah kuliah, aku gencar mencari beasiswa berprestasi, tapi selalu gagal karena info beasiswa tidak sampai pada kami yang bukan anggota sebuah organisasi jurusan,” aku menghela nafas. Dari sini aku melihat Ayah dan Ibu yang sedang berbincang dengan dosen favoritku. Tawa mereka benar-benar hadiah untukku.

“Benarkah? Iya sih, gue denger gosip itu, terus lo berhasil dapet beasiswa?” tanya Gigih lagi melanjutkan wawancaranya.

“Bersyukurnya aku berhasil mendapat beasiswa karena rekomendasi dari seorang dosen, dia benar-benar adil dan aku sangat berhutang budi pada beliau. Karena beasiswa itulah aku dapat sedikit meringankan beban Ayah dan Ibu, hingga sampai sekarang ini aku dapat wisuda dengan cepat dan menjadi wisudawan terbaik,” aku tersenyum dan tanpa sadar air mataku juga ikut mengalir. Gigih tersenyum, “Duh, jadi terharu gini suasananya. Benarkan Dik Ayda?” tanya gigih ada Ayda selaku kameramen. Ayda hanya tersenyum.


“Yang terakhir nih, apa pesan lo untuk para mahasiswa yang nantinya akan membaca kisah lo di majalah juga yang nonton di youtube?” tanya Gigih. Aku tampak memikirkan kalimat apa yang tepat.

“Apa ya? Ah.. kuliah itu memang melelahkan, lantas bagaimana dengan orang tua kita yang lebih lelah? Saat kalian merasa ingin berhenti, ingat wajah kedua orang tua yang masih sanggup tersenyum menyambut kalian pulang kuliah. Ingat juga bagaimana letihnya pengorbanan orang tua demi kesuksesanmu. Mereka bahkan rela menjadi jembatan untuk anaknya demi sampai di kota impian. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka.”

Aku menjawabnya dengan panjang lebar, tapi aku rasa itu sangat pas. Apalagi untuk mahasiswa perantauan. Bagiku, baik mereka mampu atau tidak dalam kuliah. Jangan sampai membuat sia-sia pengorbanan kedua orang tua. Buatlah mereka tetap tersenyum.


Gigih mengakhir wawancaranya dan aku mengajaknya juga Ayda untuk bertemu dengan Ayah dan Ibuku. Untuk yang terakhir, terima kasih Ayah dan Ibu.

Komentar

share!