Wanita



Oleh: Nadia

Aku terus menangis sesenggukan di atas kasur. Mbak Ratih, saudara sepupuku terus mengusap punggung dan memelukku.


"Mungkin kau terluka, menangislah jangan ditunda, kau tahu habis luka datang suka kan? Kau pun tahu setelah wanita terluka ia akan berubah menjadi wanita yang begitu kuat, karena memang wanita itu diciptakan untuk menjadi kuat. Sebelum wanita itu menjadi kuat perlu kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani ini semua.

Perbanyaklah memohon pada Allah semoga kau selalu diberi kekuatan, kau tau kan kekuatan yang mampu mengalahkan segalanya di dunia ini? Yaitu keikhlasan dan kesabaran. Aku yakin dia juga terluka selepas sidang tadi. Namun ini yang terbaik. Bangkitlah perlahan dan tetap rendah hati. Menangislah dan ceritakan semua kegundahanmu pada Allah. Kau tau alasan Allah memberimu kesedihan? Agar kau dapat belajar, agar kau bersedia mendekatkan diri pada-Nya dan kesedihan itu sebenarnya adalah penebus dosa-dosa. Semoga dengan kesedihan yang menimpamu ini kau bisa kembali fitrah. Ambil positifnya dalam setiap kejadian karena sesungguhnya tak ada yang sia-sia di dunia ini percayalah."

Air mataku terus mengalir. Aku semakin memeluk mbak Ratih erat. Aku terbayang tentang dulu bagaimana aku bisa bertemu dan akhirnya menikah dengannya. Namun sekarang harus berakhir seperti ini. Mengapa aku dipertemukan jika akhirnya seperti ini? Artinya, selama ini yang aku jalani hanya sia-sia? Hatiku terus bergejolak.


Komentar

share!