Untuk yang Aku Benci



Oleh: Nasrul

Entah harus seperti apa aku menyampaikan atau menuliskannya. Aku bingung dengan perasaan ini.  Perasaan yang bertahun-tahun menemani. Berawal saat aku berseragam putih abu-abu, hingga saat ini bergelar mahasiswa.

Berkali-kali aku usir, campakan, lupakan bahkan bunuh sekalipun, nampaknya perasaan itu kembali lagi, lagi, dan lagi.


Berbagai macam buku aku baca untuk menjelaskan semua ini, nampaknya tak ada satu pun penjelasan. Berbagai tempat aku kunjungi, membuat kenangan baru, nampaknya kenangan kita lebih “indah” daripada kenangan yang kutorehkan itu.  Berbagai orang aku temui berharap bisa membantu, nampaknya tak satu pun yang berhasil melakukannya.

Cinta, nafsu atau sebatas rasa penasaran untuk mendapatkanmu. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan mana yang sebenarnya bertahun-tahun menemani. Yang pasti perasaan ini dibungkus dengan indah, benci sebagai kertasnya dan frustasi sebagai wadahnya.

Berlari sejauh mungkin aku lakukan, sayang tak lama kemudian mataku menoleh ke belakang. Melihat dari jauh apa yang telah ditinggalkan. Tanpa disadari hati ini membawa kembali lagi ke tempat itu. Tempat bernama masa lalu. Diam di sana bertemankan penyesalan.

Siang hari menjadi surga bagiku, kesibukan mencegah untuk mengingatmu. Tak peduli badan lelah, panas menerpa, kesal menjemput, itu lebih baik dibandingkan waktu yang disediakan malam. Kamu tahu bagaimana kejamnya malam? Aku tersenyum, tertawa dan tak lepas dari canda bersama teman-temanku. Sayang, saat semuanya tidur tibalah saat–saat yang paling aku benci. Duduk sendiri di gelapnya malam ditemani perasaan itu, memikirkanmu. Aku lupa kalau tadi tersenyum, lupa kalau tadi bahagia.

Pertanyaan itu selalu muncul. Kenapa aku masih memikirkanmu? Padahal jarak memisahkan begitu jauh, tidak memberi kesempatan untuk bertemu, bahkan sekedar bertegur sapa lewat media sosial pun tak kunjung ada. Kenapa kepingan kenangan itu menjadi kepingan yang begitu istimewa? Padahal ribuan kenangan telah aku goreskan, bersama seseorang yang tulus  membuatku tersenyum. Kenapa aku masih menyayangimu? Padahal sudah berkali-kali aku berusaha membunuh perasaan itu.

Bodohnya aku pernah putus dengan seseorang yang jauh-jauh datang menemuiku gara-gara selembar foto. Foto lusuh yang sudah lama kusimpan, ya itu foto kamu. Tidak warasnya aku menelantarkan dia, yang selalu berupaya menghapus air mataku namun aku malah berusaha membuat orang lain tersenyum.

Membuatmu tersenyum. Betapa gila diriku menyia-nyiakan dia yang bahagia saat kusapa, lalu menangis gara–gara kutinggalkan begitu saja. Dan memilih tersungkur dalam jurang penderitaan mengharapkan cintamu.

Entah apa alasannya, sehingga kamu begitu tidak suka padaku. Bertahun-tahun bersama nampaknya tidak mampu menggoresan kenangan yang istimewa bagimu. Entah bagaimana sebenarnya perasaanmu, menjauh begitu mudah denganku namun mudah untuk dekat yang lainnya. Kenapa kamu tidak menerima perasaanku? Sebegitu burukkah aku?

Aku benci. Sangat benci. Benci untuk mengakui, “Aku masih MENYAYANGIMU hingga detik ini.”


Komentar

share!