Stalker



Oleh: Venti

 Kadang, aku merasa bahwa diriku-lah manusia terbodoh di dunia ini. Berawal dari chatting, kemudian dekat. Namun setelah itu, semuanya hilang.

Perkenalkan, namanya Yodi. Kakak senior yang membuatku gagal move on. Dia tampan, dan dia baik. Meskipun terkadang nakal, tapi belum pernah aku melihatnya masuk ruang BK.


Dan sekarang dia sudah tamat dari SMA, mengadu nasib ke luar pulau Kalimantan, berlabuh ke pulau Jawa untuk menempuh pendidikan selanjutnya.

"Aine?"

Aku tersenyum saat seseorang memanggilku. Tapi saat ini aku benar-benar tidak ingin diganggu. "Aku sedang sibuk, Rin. Bisa 'kan tinggalin aku bentar?"

Arina sahabatku, dia mengerti diriku. Tanpa banyak bicara, Arina pergi meninggalkan kamarku.

Aku masih diam tanpa arah. Membuka akun sosial media milikku, berselancar memanjakan mata dengan berbagai postingan di layar ponselku. Dan aku berhenti saat  melihat nama Yodi tertera di layar ponselku.

Aku tersenyum melihat postingannya, kemudian menekan tombol like untuknya. Oh tidak sampai di situ, jari jempolku sudah meng-klik akun miliknya.

Dia sedang online!

Dan aku sedang mengintip dinding profilnya. Dinding profilnya masih sama seperti kemarin, dan seperti saat-saat aku mengecek profilnya. Yang membedakannya dengan saat ini hanyalah sekarang terdapat update-an terbarunya.

Hatiku menghangat saat melihat notifikasi bahwa dia menyukai statusku. Lucu, tapi aku benar-benar bahagia untuk sebuah hal kecil. Rasanya seperti ada cokelat yang lumer di tenggorokan menuju hati, membuatnya terasa manis dan memikat kupu-kupu untuk menari dalam perutku.

Aku kembali melihat namanya di layar ponselku. Melihat lingkaran hijau yang menandakan bahwa dirinya sedang online, berharap akan ada keajaiban downy bahwa dia tiba-tiba saja menginbox akunku dan memulai sebuah percakapan ringan.

Satu menit. Dua menit. Dan seterusnya sampai hampir dua jam dia online. Selama itu pula mataku terus memperhatikan lingkaran hijau tersebut, sampai akhirnya ada tulisan "Aktif dua menit yang lalu."

Dia offline. Dan aku akhirnya keluar dari aplikasi media  sosial tersebut. Ini bukan kali pertama untukku, karena aku sudah sering melakukannya.

Aku melakukannya, dan aku merasa bahagia hanya karena melihat dia online. Dia oksigenku, dan aku gadis buta yang tidak bisa meraih butiran oksigen di udara. Sama seperti dia, aku tidak pernah dapat meraihnya.

Aku sadar bahwa hidupku selalu seperti ini. Berdiri dalam ilusi yang aku buat, hidup dalam imajinasi dan bayangan tentangnya.

Aku menyadari itu semua, dan aku menikmatinya. Tidak apa berada di sini. Tidak apa tidak terlihat olehnya. Yang penting dia bahagia, aku pun ikut bahagia dengannya. Meskipun, bukan aku alasan dia bahagia.


Komentar

share!