Maaf Kak, Sudah Terlanjur



Oleh: Mili

Kakak perempuannya sudah sering memperingati sang adik laki-laki untuk jangan berbuat hal bodoh. Seperti pagi ini, kakak perempuan yang baru saja pulang dari belanja di depan rumah itu sedang melihat dengan matanya sendiri bahwa adiknya kini sedang merencanakan hal yang aneh dengan langkah yang tergesa-gesa sang kakak menghampiri adiknya yang berada di dapur.

"BERHENTI DISITU DEK !!"


"Ta-tapi kak."

"Kakak bilang diam disitu dan jangan ngelakuin hal bodoh."

"Huh... baiklah."

"Sekarang jelaskan ke kakak kenapa kamu di dapur?"

"A-aku lagi buat minuman kak. Aku tadi cari kakak gak ketemu jadi aku nekat ke dapur buat masak sendiri." sang adik menunduk tak berani menatap mata kakaknya karena dia tahu kalau dia sudah berbuat salah.

Kakak perempuan itu akhirnya menghela napasnya dan mencoba untuk meredakan emosi yang sudah di ubun-ubun. "Oke kali ini kamu berbuat apa lagi dek?"

"Aku buat kopi buatku dan teh buat kakak minum, aku tau kakak mau berangkat kerja kan?" Sang adik berujar dengan sangat ceria seakan-akan hal itu bisa dibanggakan.

"Tadi kakak ke depan rumah buat beli sayur. Baiklah sekarang mana teh untukku?"

"Ini kak, silakan diminum semoga kakak suka." Sang adikpun menyerahkan cangkir teh tersebut kepada kakaknya dengan sebuah senyuman yang sengaja ia tunjukkan.

Kakak perempuan itu dengan senang hati menerima teh buatan sang adik walaupun tak dapat dipungkiri bahwa masih ada rasa khawatir di benaknya dan dia berpikir apakah teh buatan sang adik tidak seperti insiden telur dadar yang dibuatkan adiknya dua hari yang lalu dengan bermodalkan do'a, diapun meminum teh buatan si adik sedikit demi sedikit.

"Bagaimana kak? Enak kan?" si adik bertanya setelah melihat kakaknya telah meminum seteguk teh yang dibuatnya dan berharap semoga rasanya tidak mengecewakan.

Kakak perempuan itu menghela napas dan menatap adiknya dengan tatapan tajam seakan berkata 'sudah berapa kali kakak bilang untuk tidak menyentuh dapur'.

"Jadi bagaimana kak?" sang adik mengulangi pertanyaannya karena belum mendapatkan jawaban dari sang kakak.

"Sekarang coba rasakan sendiri kopi yang kamu buat itu bagaimana rasanya?" Bukannya menjawab langsung pertanyaannya, si kakak malah memberikan pertanyaan lagi.

Si adikpun menurut dan meneguk kopi yang dibuatnya dan berkata, "enak kok kak, rasanya pas gak kurang dan gak lebih."

Sang kakak yang mendapatkan jawaban seperti itu dari si adik mulai mengernyitkan dahinya dan berpikir bagaimana bisa kopi sang adik rasanya enak sedangkan tehnya keasinan. Setelah lama berfikir dan kini mulai sadar jika ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini.

"Sekarang jawab kakak yang jujur, kopi yang kamu minum itu instan atau kopi bubuk?" sang kakak bertanya dengan nada mengintimidasi.

"E-eh...i-itu kak aku minum kopi instan yang ada di lemari."

Mendengar jawaban dari si adik membuat emosi yang sengaja ia redam sedari tadi menjadi sia-sia dan rasanya tidak lama lagi akan meledak. Sang adik yang melihat ekspresi sang kakak yang akan meledak pun mulai bergerak menjauhi dapur sebelum mendengarkan teriakan yang akan menghancurkan atap rumah dan mungkin ledakan itu akan terjadi dalam lima.... empat.... tiga... dua.... satu....

"DASAR ADIK GAK TAU DIRI SELALU AJA GAK PERNAH MAU BELAJAR DARI KESALAHAN DUA HARI YANG LALU UDAH DIBILANGIN JUGA MANA GULA MANA GARAM MASIH AJA KETUKER !!"

Tapi semua teriakan yang dibuatnya mungkin percuma saja karena sang adik sudah masuk ke dalam kamarnya dan kini sang kakak menatap cangkir teh di tangannya dan tak habis pikir kejadian dua hari yang lalu terulang kembali karena ulah sang adik.


Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!