Kisah Andiri



Oleh: Hasna

"Ibu, kenapa kisah Andiri begitu terkenal?"


Aku berbalik, menatap anakku yang berdiri tepat di belakang. Aku mendekatinya, mengajaknya duduk bersama di sofa.

Anakku berusia sepuluh tahun. Sejak kecil aku senang membaca dan menceritakan banyak kisah kepadanya.  Mungkin di antara banyak kisah, kali ini ia tertarik dengan kisah Andiri. Kisah yang minggu lalu sempat ku singgung dalam kisah Alif dan kaos kaki ajaib.

Alif dan keluarganya pun tahu tentang kisah yang begitu terkenal, orang-orang menyebutnya kisah Andiri.

Hari ini, anakku sepertinya menagih rasa penasarannya dengan menanyakan perihal kisah Andiri.

"Baiklah, Ibu akan menceritakan kepadamu kisah Andiri," ucapku sambil menyapu puncak kepalanya.
"Di sebuah desa yang amat jauh. Hiduplah seorang gadis bernama Andiri.

Andiri adalah anak yang penyabar, meski mereka hidup sederhana, Ia tak pernah mengeluh. Andiri juga tumbuh menjadi gadis yang periang. Tak pernah sekalipun kedua orang tuanya melihat Ia murung atau bersedih.

Andiri juga anak yang ramah dan mudah tersenyum. Keramahannya tersebar hingga ke pelosok desa.

Suatu ketika, Andiri bertemu dengan seorang pemuda tampan yang tinggal bersama kakeknya di sudut desa.
Pertemuan pertama mereka membuat si pemuda tampan jatuh hati kepada Andiri. Namun, pemuda itu tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.

Pemuda itu menyimpan perasaannya dalam-dalam dan hanya menyampaikannya pada alam. Mencintai dalam diam. Begitu Ia menyebutnya.  Hingga waktu yang amat lama dan waktu pula yang merenggut nyawanya.

Andiri merasakan hal sama, Ia telah jatuh hati pada pemuda tampan sejak hari itu. Namun, Ia tak mampu untuk mengungkapkan isi hatinya.

Hingga hari kematian pemuda itu, Andiri termenung dengan sebuah surat ditanganya. Surat yang baru saja diberikan oleh kakek dari si pemuda untuk Andiri.

Dengan judul surat ~Kepada gadis yang ku cintai dalam diam. Andiri~

Hari itu, Andiri yang periang telah hilang dari muka bumi. Andiri yang selalu tersenyum telah terhapus terganti dengan Andiri yang termenung, sesal tetapi tak bisa menunjukkan penyesalannya.

Sejak hari itu Andiri menjadi pendiam, murung dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Ia mengurung dirinya, memenjarakan pikirannya dengan pemuda itu. Cinta yang Ia pendam selama ini tumbuh lebat dan amat besar. Hingga alam turut bersedih melihat kesedihannya, gadis yang tak pernah bersedih seumur hidupnya.

Kesedihan Andiri bagai pesan yang Ia sampaikan sebagai balasan atas pesan si pemuda kepada alam. Pesan mencintai.

Alam bagai menerima pesan yang disampaikan Andiri. Selama sebulan desa tak pernah terik, setiap hari langit mendung bahkan hujan pun turun dengan lebatnya, beruntung desa tak dilanda banjir. Hingga hari ketiga puluh, langit yang mendung perlahan tersenyum cerah mengantarkan kepergian Andri di sisi-Nya."

Aku terdiam menghentikan kisahku, kulihat Anakku sudah terlelap.

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Aku harus kembali menggendong anakku ke kamarnya.


Komentar

share!