Kedai Teh

Oleh: Silvia

 Beberapa tumpukkan kertas memenuhi meja kerjanya. Teronggok tak berguna tanpa dipedulikan sang pemilik. Sebuah kursor berkedip-kedip dalam layar komputernya. Menunggu sang penulis membuat satu kalimat yang membuatnya lebih berguna.


Gadis itu hanya melihat ke arah jendela. Menikmati bunyi gerimis air hujan. Matanya menatap pilu ke seberang jalan, tempat dimana sebuah kedai teh itu berada.

Ingatannya penuh ke masa lalu. Saat ia minum secangkir teh melati hangat pada musim hujan tahun lalu, bersama lelaki itu.

 

Komentar

share!