Hilang



Oleh: Venti
 
Satu tahun berlalu, dan kemudian aku telah melewati tiga tahun masa SMA dengan begitu cepat. Semuanya pergi dan tanpa terasa kini aku telah tamat dari perguruan tinggi negeri.

Aku berubah, begitupun dunia saat ini. Semua berubah tanpa disadari. Namun satu hal yang tidak pernah berubah. Aku tetap mengagumimu.


Ahru, namamu begitu unik. Senyummu begitu memikat, dan tawamu masih berbekas di sudut hatiku. Aku tidak pernah bisa melepas bayangmu, bahkan tak sedikit pun aromamu hilang dari ingatanku.

"Anas?"

Dan aku kembali pada duniaku saat ini, menoleh pada sosok pria terbalut kemeja biru tua. "Ah, Bio. Ada apa?" tanyaku sambil tersenyum.

Ia mendekatiku, kemudian mengecup keningku perlahan. "Selamat pagi."

Aku membalas kecupannya dengan senyum tipis. "Makanlah, sarapan pagi sudah siap."

Kemudian lelaki beraroma mint itu kembali meninggalkanku sendiri. Dia Fabio, penyandang status suami dari seorang Anasya Fabella. Entah bagaimana kami bisa menikah, padahal sedikit pun perasaanku tidak berada di pihaknya. Semua terjadi begitu saja. Namun dia tetap menjadi orang asing yang berusaha menjamah hatiku, mencoba menghapus nama Ahru yangnyatanya tidak bisa pergi dari memoriku.

Ahru, oh Ahrulian Magesta. Kapan kau bisa berhenti menyiksaku dengan kepingan masa laluku?

×××

"Andik? Apa kabar?" tanyaku pada sosok pria yang berada di hadapanku.

"Ah, Anas 'kan?" tanyanya kembali, mencoba memastikan bahwa aku benar Anas.

Aku mengangguk. "Kamu ga lupa 'kan sama aku?"

"Ahahah, mana mungkin aku lupa sama kamu." Andik tertawa canggung.

Aku tersenyum. "Masih kerja di New York, Dik?"

"Iya masih," jawabnya sambil menyeruput coffee yang ada di tangannya.

"Lo masih ... kontakkan sama Ahru?"

Dia diam sejenak saat aku menyebut nama Ahru. "Ahru ya?" Entah perasaanku saja atau memang benar, Andik nampak tak enak.

"Kenapa?" tanyaku padanya.

"Lo ga dapat info tentang Ahru ya, Nas?"

Aku menggeleng.

"Sebenarnya"

"Anas! Kamu di sini ternyata."  Suara Bio tiba-tiba saja menyerobot. "Hai, kamu temannya Anas ya?"

Andik tersenyum sambil mengangguk.

"Anasnya aku bawa dulu ya? Soalnya ada acara keluarga."

"Gapapa, bawa aja."

Kemudian Bio membawaku pergi. Ah, kenapa aku sampai lupa dengan acara keluarganya Bio hari ini?

×××

Suasana ramai menghiasi mansion mewah milik ayah dan ibu mertuaku. Acara penyambutan kelahiran cucu dari anak keduanya benar-benar dibuat semeriah mungkin.

Sebenarnya aku bukanlah wanita yang menyukai pesta. Hanya saja, untuk menghormati tradisi keluarga, aku terpaksa mengikuti acara ini.

Di tengah pesta, ku lihat seorang perempuan bergaun merah marun. "Ah, bukannya dia Fani?" tanyaku dalam hati.

"Hai, Fan. Masih inget aku?" Aku menghampiri Fani.

Fani nampak mengerutkan dahinya sebentar, kemudian bergumam ria. "Ah! Anas ya?"

Aku mengangguk gembira. "Pergi sama siapa?"

"Sendiri, heheh." Ia tertawa kecil.

"Lah? Ga sama pacar kamu, Ahru?"

Tubuhnya tiba-tiba menegang. Reaksinya sama seperti Andik tadi siang. Entah kenapa, tiba-tiba Fani menangis kencang. "Ahru, Nas."

"Ahru kenapa?" tanyaku cemas.

"Ahruudah meninggal!"

Dan benar saja, kepingan hatiku yang retak kini sudah menjadi butiran pasir. Aku kehilangannya, untuk selamanya.

Duniaku runtuh seketika.


Komentar

share!