Hati Sewarna Senja



Oleh: Alia

Ini sudah bertahun-tahun lamanya, Arya sendiri tak terlalu ingat berapa lama tepatnya. Entah sejak kapan ia selalu berdiri setia seperti ini. Mungkin sejak mereka pertama kali bertemu atau mungkin ketika hatinya berdebar tak karuan untuk pertama kalinya. Yang pasti Arya memang sudah seperti ini sedari lama. Menggenggam sebelah tangan seorang gadis yang memiliki separuh jiwanya. Berjalan bersama melewati segalanya walau tahun-tahun yang terlewat masih belum sanggup membuat gadis itu memandang ke arahnya.


"Kau jadi pergi hari ini?" Suara di seberang telepon hanya bergumam tak jelas. Membawa kedua alis Arya tertekuk karenanya.

Untuk kesekian kalinya jeda kembali hadir di antara mereka. Gadis di seberang telepon rasanya masih terlalu enggan untuk berbicara dan Arya pun tak jauh beda, ia masih terlalu sibuk dengan proyek baru kantornya.

"Tentu. Tapi, apa kau sedang tidak sibuk?" Setelah sekian menit berlalu, akhirnya suara lemah lembut itu kembali terdengar. Diam-diam membawa senyum di wajah Arya. Sedikit geli dengan pertanyaan yang baru saja gadis itu tanyakan kepadanya. Ayolah, Arya akan selalu punya waktu untuk gadis itu sesibuk apa pun dia.

"Tidak. Lagipula deadline proyek ini masih lama. Kau tak perlu khawatir, Vin." Lagi-lagi senyum tak mau hilang dari wajah Arya.

Arya bisa mendengar pekikan senang di ujung telepon. Dan lagi-lagi obrolan mereka berlanjut begitu saja hingga Vina memutuskan sambungan telepon mereka. Beberapa jam selanjutnya pun hanya Arya habiskan dengan setumpuk proposal dan laporan anggaran dana sama seperti sebelumnya. Walau kali ini senyum simpul itu masih menghiasi wajahnya. Rasanya ia sudah tak sabar menunggu untuk melihat Vina dengan senyum manisnya. Dan di sinilah mereka berada.

Berjalan beriringan dengan pohon rindang yang menaungi mereka. Semilir angin sore masih setia menggerakkan ranting-ranting kering untuk memperdengarkan nyanyian mereka. Sang mentari pun sedari tadi sudah mulai beranjak turun dari singgasananya.

Entah sudah berapa lama waktu yang mereka lewati. Berjalan di jalan yang sama, menuju tempat yang sama. Deretan batu kelabu yang berjajar rapi nampak memenuhi lautam hijau luas yang kini berwarna lembayung. Tak jauh lagi mereka akan sampai di sana. Sebuah makam dengan batu nisan kelabu dan taburan bunga yang menghiasinya.

Mereka berdiri diam di sana. Berdiri begitu dekat dengan si batu kelabu hingga kini kedua tangan mungil Vina sibuk mengelusnya sayang.

"Halo Adam. Bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama sekali sejak aku terakhir kali menemuimu."

Senyum tipis telah terbit di wajah rupawan Vina. Menggambarkan ekspresi yang sudah tak bisa Arya tebak lagi apa artinya. Sedih, rindu, sesal, dan duka. Segala awan mendung yang kembali menghiasi wajah gadis di depannya.

Ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan setiap tahun pemandangan ini selalu mampir di sudut pandangnya. Menatap Vina yang nampak begitu rapuh kini memandang rindu pada batu nisan kelabu di depannya.

Tentu Arya tahu siapakah yang tubuhnya terbaring di bawah taburan bunga itu. Dia Adam, pria yang telah merebut seluruh hati milik gadis yang begitu ia cintai sedari lama. Sejak dulu hingga saat ini ketika dirinya telah tenang di surga sana.

"Hari ini begitu melelahkan, kau tahu? Ibu lagi-lagi memintaku mencari seorang pria yang bisa kukenalkan padanya."

Vina masih sibuk bercerita. Terus berbicara seakan ia sejenak lupa jika Arya masih setia berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan wajah sendu yang tak bisa ia sembunyikan. Arya memang tak pernah mempermasalahkan hal ini. Tak peduli seberapa menyakitkannya ini. Ia akan tetap berdiri di sisi Vina apa pun yang terjadi. Entah hatinya harus menyesap perih setiap detiknya atau bahkan wajahnya yang sudah terlalu lelah tersenyum menyembunyikan duka. Ia akan tetap seperti ini. Berdiri dekat-dekat dengan Vina. Menggenggam sebelah tangannya dan selalu berjalan bersama. Bukankah melihat seseorang yang kau cintai bahagia sudah lebih dari cukup? Arya selalu percaya itu. Jika kebahagiaan Vina adalah prioritas terbesarnya bahkan di atas kebahagiaannya sendiri.

Entah sudah berapa lama waktu yang terlewat. Vina masih sibuk dengan ceritanya dan Arya hanya diam memandanginya. Mentari terlihat semakin menghilang di ufuk barat. Menyisakan berkas-berkas cahaya jingga yang terselip di balik bayang-bayang pohon.

"Sepertinya aku sudah terlalu lama di sini." Vina menatap Arya sebentar. Yang hanya dibalas senyuman sebelum ia kembali menatap batu nisan kelabu di depannya.

"Sebenarnya aku datang ke tempat ini untuk mengatakan sesuatu padamu." Entah mengapa jeda kembali hadir di sana. "Aku mencoba untuk tak lagi datang menemuimu, Adam." Suaranya terdengar semakin lirih hingga Arya tak lagi bisa mendengarnya. Seakan takut angin menerbangkannya jika ia berbicara terlalu keras.

"Kau telah begitu banyak mengisi kenangan indah dalam hidupku. Kini biarkan aku mencoba untuk terus menatap ke depan dan melanjutkan hidupku tanpamu."

Vina kembali tersenyum. Kedua belah bibirnya yang terpoles gincu itu masih terus berbicara. Begitu pelan, sepelan angin yang membelai wajahnya. Hingga sebuah elusan terakhir ia berikan pada batu kelabu itu sebelum beranjak bangkit.

Senyum lagi-lagi tak mau hilang dari wajah cantiknya. Seakan begitu banyak beban yang kini telah terlepas dari punggungnya. Membuat tubuhnya begitu ringga hingga rasanya sanggup melangkah dengan mudahnya. Dan Arya hanya bisa menekuk kedua alisnya bingung. Menatap bimbang pada senyum indah yang kini Vina tujukan kepadanya.

Entahlah, ini tak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah sekali pun Arya melihat senyum lebar di wajah Vina ketika ia beralih dari batu nisan kelabu di belakangnya. Dan kini semua terasa semakin berbeda saat jemari lentik itu sudah terpaut dengan jemari miliknya. Menggenggam tangannya erat dan membawa dirinya melangkah menjauh. Arya bisa merasakan detak jantungnya semakin berpacu tak terkendali. Seakan sengatan listrik dan rasa hangat itu mengejutkan setiap inchi tubuhnya. Membawa terlalu banyak kehangatan yang langsung menjalar begitu cepat. Membuainya dalam kenyamanan yang telah ia dambakan sejak dulu.

Sungguh, tak pernah ia sangka sebelumnya jika jemari lentik itu terasa begitu pas dalan genggamannya. Seakan mereka memang diciptakan untuk saling menggenggam. Membuat Arya sama sekali tak mampu mengalihkan pandangannya dari tautan tangan mereka berdua. Menimbang-nimbang benarkan ini nyata atau tidak. Namun, sebuah suara lembut seakan membawa seluruh jiwanya kembali dan memandang gadis di depannya.

Vina berdiri tepat di depannya. Tersenyum begitu lebar dengan lembayung senja yang menambah keindahannya. Tangan mereka masih bertaut. Entah kenapa membawa Arya kembali dalam bayang-bayang indahnya. Untuk yang kesekian kalinya mempertanyakan mimpi yang tersaji di hadapannya.

"Apa kau ingat, Arya? Saat kau berkata bahwa kau akan menungguku sampai aku bisa membuka hatiku kembali." Senyum di wajah Vina semakin bertambah lebar hingga mata bulatnya tenggelam di balik kelopak mata. "Kurasa mungkin kini adalah saat yang tepat."

Arya selalu ingat kata-kata itu. Sebuah permintaan yang dia ucapkan bertahun-tahun lalu. Adakah yang lebih membahagiakan selain ini? Saat seseorang yang berharga bagimu kini balas memandang ke arahmu.


Komentar

share!