May 19, 2017

Gelap, Hitam, Pekat



Oleh: Nurul

Kubiarkan apa yang ada di cangkir putih ini mendingin. Bila beku pun aku tak akan peduli. Hilang rasa untuk merasa lagi. Kubiarkan pula rasaku membeku dan perlahan mati. Berkali-kali aku sudah bertanya kepada kebodohan ini. Tentang apa yang membuatku bertahan terlalu jauh sampai aku lupa jalan pulang untuk kembali.

Kamu tahu, terluka untuk kedua kali bukan lagi membuat hatiku sekedar mati. Melainkan tak lagi peduliku pada apa pun yang telah dan sedang terjadi. Lihatlah, Tampan. Tatap mataku dengan dalam sepenuh hati. Sampai engkau hanya menemukan perih yang bahkan kau tak mau melihatnya atau sekedar melirik.

Masih ingatkah engkau, Tampan, detik di mana seseorang telah menjatuhkan rasa tanpa sesal di depan mata? Masih ingatkah engkau, saat rasa pada dasar kebenciannya telah menemukan titik terang? Dan masih ingatkah engkau, saat benci lambat laun belajar atas kejernihan dari kesungguhan rasa?

Tampan, engkau yang mengajariku untuk berjalan di atas kerintihan hati. Engkau yang mengajariku untuk belajar tak lagi peduli saat rasa kebencianku telah melampaui puncak hanya karena semua tak dapat kembali. Engkau yang telah mengajariku untuk belajar bagaimana aku harus merasa hebat di atas rasa yang orang-orang namai dengan luka dan bukan lagi sekedar membunuh hati.

Terima kasih, Tampan, kini aku mengerti.

Bahwa dusta perasaanku terlalu sulit untuk dimengerti saat engkau mengajariku tentang menjatuhkan rasa tanpa dasar tersakiti.


0 comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...