Erina



Oleh: Alia
 
Nama gadis itu Erina. Gadis manis berkulit sawo matang yang senyuman selalu hadir menghiasi wajahnya. Yang selalu membuka pintu pertama kali saat kau datang ke tempat ia selalu berada. Sebuah salon sederhana dengan peralatan seadanya yang letaknya tersembunyi di ujung deretan ruko. Kau akan sulit menemukannya jika tak melihatnya dengan teliti. Bagai dibuat hanya untuk mengisi sudut kosong dekat pagar saja. Namun saat kau datang ke sana, mungkin kau tak akan sanggup menahan senyum saat melihat Erina tersenyum lebar menyambutmu. Ya, sama seperti diriku kini.


Aku tak sanggup menahan senyum saat mendapati Erina sudah berdiri menyambutku. Mata bulatnya mengerjap pelan seakan bertanya apa yang kuinginkan. Dan aku lagi-lagi tersenyum, mengangkat rambutku yang sudah mulai memanjang dan menjepitnya dengan jari telunjuk dan jari tengahku.

"Potong seperti biasa." Erina lagi-lagi tersenyym. Menarik sebuah kursi dan memintaku untuk duduk di sana.

Ini sama seperti minggu sebelumnya. Aku selalu datang ke tempat ini. Duduk di tempat yang sama dan meminta Erina melakukan apa pun yang bisa ia lakukan kepadaku. Entah memotong rambutku atau mengeramasinya. Selalu sama, tak ada yang lain. Dan tak pernah seorang pun bertanya alasannya kepadaku.

Kenapa kau selalu datang ke tempat itu? Bukankah kau baru saja ke sana minggu lalu?

Mereka terus bertanya. Lagipula apa salahnya jika aku pergi ke tempat saudaraku sendiri. Itu tak pernah menjadi hal yang salah sama sekali. Erina memang adikku, anak dari bibiku. Tentu saja aku dekat dengannya. Kami sudah menghabiskan masa kecil bersama bahkan sejak waktu yang tak lagi bisa kuingat. Itu bukan waktu yang sebentar hingga aku bisa begitu tak acuh melangkah menjauh karena kata-kata orang lain atau bahkan kekurangannya. Erina tetaplah Erina. Saudara sepupu yang kukenal semenjak dulu.

Erina nampak masih sibuk dengan rambutku. Menatanya sedemikian rupa dan memotongnya sana sini. Sesekali tangannya berhenti memegang gunting dan bergerak lincah dengan mata yang menatap ke arahku. Aku kembali tersenyum. Kedua tanganku ikut bergerak. Membalas setiap kata yang coba ia sampaikan. Dan untuk kesekian kalinya kami tertawa bersama. Entah apa yang lucu, aku hnya bisa menangkap sedikit. Cerita tentang harinya, pelanggan yang datang, dan hal-hal lainnya.

Ia memang selalu seperti itu. Bercerita tentang apa pun dan aku hanya diam mendengarkan. Menjawab dengan gerakan tangan sebisaku yang entah mengapa selalu bisa ia pahami.

Waktu sudah terlewat begitu saja, aku tak ingat. Aku hanya tahu bahwa rambutku sudah tertata rapi dan kami duduk berhadapan untk kembali melanjutkan cerita. Rasanya waktu tak lagi mampu mengusirku. Seakan setiap detiknya hanya menambah kenyamanan yang kurasa.

Selalu saja kenyamanan itu membuaiku dan diam-diam menguatkanku. Mata bulat yang selalu memandang dunia dengan binar keyaKinan. Wajah yang selalu memandang ke depan tak peduli tiap kata yang terlontar untuknya. Dialah gadis terkuat yang pernah kutemui. Satu-satunya manusia yang memandang semuanya dari sisi positif yang begitu polos.

'Tuhan tak pernah pergi.'

Itu yang selalu ia katakan setiap kali aku bertanya mengapa ia begitu kuat. Hanya sebuah gerakan tangan dan senyum di wajah, semua itu sudah mampu menamparku telak.

Sebenarnya siapa yang lemah di sini?

Erina berkata bahwa aku tak boleh menangis apa pun yang terjadi, sesakit apa pun itu. Dia berkata aku harus selalu menjadi sosok yang kuat.

Ketika semua orang meninggalkanmu. Ketika duka terus datang mendera. Ketika tubuhmu tak sanggup lagi bertahan. Ingatlah bahwa Tuhan tak pernah pergi meninggalkanmu. Dan itulah yang  selalu Erina lakukan. Mempercayai segalanya dan berharap ada kebahagiaan yang menantinya di ujung jalan.

Sedangkan orang lain, yang mereka lakukan hanya terus bertanya dan mengeluh. Tidakkah mereka melihat? Gadis di depan mereka bukanlah manusia yang terjebak di dunia tanpa suara. Yang bahkan kedua belah bibirnya tak mampu berucap. Ia tak terjebak di dalam gelas hingga indahnya dunia tak sanggup menggapainya. Ia manusia bebas, sama seperti aku dan kau.

Erina mampu melihat dunia seindah kau memandangnya bahkan mungkin lebih. Gadis yang selalu berdiri tegap tak peduli badai yang menghadangnya. Dan dialah yang memberikan kekuatan padaku untuk mampu bertahan hingga detik ini. Hingga jika kalian kembali bertanya mengapa aku selalu datang ke tempat ini, maka jawabanku akan selalu sama.

"Ia memiliki hal terindah di dalam dunianya. Hal yang bahkan tak bisa kalian kira sebelumnya. Jadi, jangan salahkan aku jika aku ingin duniaku seindah miliknya."


Komentar

share!