Down



Oleh: Raysha

Aku membiarkan cangkir teh kosong itu jatuh ke bawah. Rasa manis gulanya masih lengket di lidah. Lengkungan tipis terbentuk di bibirku seiring dengan butiran kristal yang jatuh.

"Aku, sudah berhasil mengumpulkan keberanian. Thanks ya, teh hijau." Senyumku makin lebar.


Angin berhembus semakin kencang. Kebebasan yang tidak pernah aku rasakan hampir satu tahun ini. Rasanya seperti baru saja lahir ke dunia. Aku bahagia, saat ini aku benar-benar bahagia.

Ku pejamkan mata sekali lagi. Kaki ini otomatis melangkah, memberi kesempatan pada angin untuk memeluk tubuhku yang mendapat bercak merah-keunguan.

•••

"Maafkan Ayah, Jihan. Tolong, maafkan Ayah dan kembalilah." Air matanya tidak berhenti mengalir. Pria paruh baya itu memeluk tubuh pucat pasi yang ditutup dengan kain putih. Laki-laki yang di sebelahnya juga tak bisa membendung air mata.

"Pak, anda harus kembali ke kantor polisi." Laki-laki yang mengenakan jaket kulit menarik lengan Pria tersebut.

"Cukup, Yah. Dia benci sama hidupnya sendiri karena ulah Ayah." Ucapan dari anak pertamanya itu semakin membuat air matanya tumpah. 


Komentar

share!