Bayang yang Hilang



Oleh: Rita

Aku melirik pada bayang di sebelahku.

"Apa kamu butuh bantuan?" Seketika bayangan itu terdiam, tidak lagi bergerak- gerak seperti tadi.


"Hey, aku nggak punya niat jahat kok. Jangan takut." kali ini aku merubah posisi ku jadi duduk menyamping, tempat tidur yang kududuki bergoyang sedikit hingga menimbulkan suara "kriet" ala besi tua. Sungguh, punggungku rasanya panas karena berbaring hampir seharian.

Kuamati sosok di balik tirai di samping ruanganku. Aku jadi semakin penasaran pada bayangan itu. Tirai yang membatasi kami membuatku tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa sosok di baliknya. Dia perempuan dengan gaun selutut, rambutnya sepunggung, dan saat dia berdiri seperti ini aku baru tau ternyata ia berjalan dengan bantuan dua buah kruk.

"Aku tau kamu juga mengamatiku sejak tadi." hening, gadis itu terdiam lagi. Ya, aku tau gadis itu sedari tadi mungkin juga mengamatiku. Karena sejak sore tadi, aku melihat bayangannya duduk menyamping ke arahku. Seolah memperhatikanku.

"Oke, silakan kalau kamu ingin pergi." beberapa detik setelah ucapanku, kulihat kepalanya mengangguk, lalu dengan bantuan kruk gadis itu mulai bergerak meninggalkan ruangannya. Tiba- tiba sebuah ide melintas di kepalaku. Sedikit berlari, kubuka tirai di antara kami.

"Hey, boleh aku ikut?" Aku terkejut saat kudapati ternyata tidak ada siapapun di balik tirai yang masih kupegang ini.

"Bara, kenapa berdiri di situ? Kamu harus banyak istirahat." suara suster Ana membuatku tersadar dari keterkejutan. Jujur aku masih bingung, apa secepat itu dia berjalan? Barusan aku masih melihat bayangannya di sini.

 "Sus, pasien yang di sebelahku kemana? Suster ketemu sama dia nggak waktu tadi mau kesini?" aku berjalan kembali ke tempat tidur, sekali lagi memasang posisi duduk menyamping, sementara suster Ana melakukan tugasnya memeriksa keadaan tubuhku.

"Pasien mana? Di ruangan ini kamu itu satu- satunya pasien Bar."

 "Hah?" aku jadi semakin terkejut karena jawaban suster Ana.

 "Jangan berlebihan begitu ekspresimu." Ia melepaskan perban di kepalaku sambil tertawa, aku tidak tau apa yang lucu.

 "Tadi ada cewek di sebelahku sus. Jalannya pake kruk." kali ini aku serius bertanya padanya.

"Masa? Suster nggak liat siapapun tadi pas jalan ke sini. Lagipula emang nggak ada pasien lain di sini." suster Ana membereskan peralatannya.

"Ayo, kamu suster bantu pindah ke bangsal yang di depan, udah ada ruang kosong buat kamu." suster Ana memegang tiang infusku, aku masih bingung, namun dengan patuh mengangguk mengikutinya berjalan.

Di sepanjang lorong, kami berjalan berdampingan. Suster Ana harus mengimbangi langkahku yang berjalan pelan karena luka di perutku yang belum kering.

"Jadi, tadi beneran nggak ada siapa- siapa sus di ruangan itu selain aku?" sekali lagi aku harus meyakinkan diriku sendiri. Entah kenapa sekarang aku mulai merinding, rasanya tak nyaman. Dan kepalaku masih terus berpikir karena penasaran.

"Iya Bara. Suster pasti tau kalau ada pasien lain di ruangan kamu." suster Ana melirik santai ke arahku. Dan aku semakin merinding.

"Buat apapun yang kamu lihat tadi, udah jangan dipikirin. Lupain aja."

"Kok suster ngomong gitu?" alisku bertaut tidak suka dengan kalimatnya. Aku kan penasaran.

"Bukan cuma kamu yang ngalamin kejadian seperti tadi Bar, banyak pasien yang seperti itu. Bahkan suster sendiri dulu juga pernah ngalamin itu di ruangan kamu tadi."

Astaga, suatu kesadaran melintas di kepalaku. Kali ini rasanya seluruh bulu kudukku berdiri, merinding dan takut.

"Jadi, jangan dipikirin lagi." Suster Ana tersenyum santai. Sembari berjalan, aku bersyukur sudah dipindahkan dari ruangan itu. Semoga tidak ada kejadian seperti ini lagi yang akan menimpaku.

***

Aku beberes kamar dan membetulkan kembali posisiku. Sampai saat itu tiba, aku hanya bisa menduga-duga, apakah lelaki di seberang tirai itu tetap menyapaku meski aku tidak menghadap ke arahnya? Apakah dia melakukan aktivitas seperti biasanya, atau kini dia punya beberapa kebiasaan baru?

Apa boleh buat. Aku hanya action figure yang kini disimpan di kusen jendela sebab warnaku sudah memudar dan ukiranku sudah tidak semulus yang dulu lagi.


Komentar

share!