Azalia



Oleh: Rofikotul

Dulu...


Aku suka memperhatikannya, setelah kejadian pahit yang mampu meninggalkan trauma. Dia menjadi teman kecilku meski hanya untuk waktu yang sangat singkat sebelum aku mengabdikan diriku sebagai santri di pondok pesantren. Dia adalah gadis kecil yang tetap tegar saat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat yang sama dengan ibuku. Tak satupun kulihat air matanya menetes jatuh, dia hanya berdiri sambil menenangkan seorang wanita tua yang terus menangis didepan salah satu batu nisan. Tak jauh beda dengan wanita tua itu, aku juga menangis histeris di depan makam ibuku. Kejadian pahit itu, pula yang mempertemukanku pada gadis kecil nan bijak sepertinya. Dia benar-benar membuatku kagum dalam waktu singkat.

Dan kini, setelah 20 tahun aku berada di pondok pesantren milik guru ayahku. Aku kembali bertemu dengannya. Hati yang tertutup tirai sekian lama, bahkan mungkin dapat diibaratkan seperti rumah tua yang penuh sarang laba-laba demi menjaga benda berharga didalamnya. Kini terbuka, pemiliknya telah kembali. Gadis kecil itu tumbuh seperti bunga yang merekah, indah dan harum. Kepribadiannya yang lembut membuatku jatuh hati untuk segera memetiknya.

Dia bukan lagi seorang gadis yang datang sementara waktu untuk menghiburku, melainkan seorang gadis yang akan menjadi perhiasan duniaku untuk selamanya.

“Azalia, kau bunga yang kucinta.”

(Songfict, Ali Sastra-Azalia)


Komentar

share!