World


Oleh: Alia

Kelopak mata itu langsung terbuka. Memperlihatkan iris coklat gelap yang nampak begitu menawan. Mengerjap pelan sebelum pemiliknya mampu membiasakan diri dengan bias cahaya dari sela gorsin yang terbuka.

Tubuhnya bangkit perlahan. Menyibak selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ia bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Manik matanya kembali mengerjap. Menatap dalam-dalan tiap inchi ruangan bercat sewarna krim yang nampak asing baginya. 

Sebuah lemari berplitur coklat. Pintu di sudut ruangan. Dan sebuah jendela dengan gordin merah bata yang bergoyang pelan. Raut bingung nampak jelas di wajah bulat gadis itu. Rambut hitamnya bergoyang pelan saat ia bangkit dari duduknya. Kembali menatap seluruh isi ruangan hingga ketukan terdengar dari pintu di sudut ruangan. Sejenak menatap bimbang pada daun pintu yang bergerak pelan ke dalam. Menampakkan seorang wanita paruh baya yang kini menatapnya dengan alis berkerut.

"Ya ampun, sayang. Sudah jam segini, ayo mandi dan siap-siap. Nanti kamu terlambat jika tak cepat-cepat." 

Wanita paruh baya itu beranjak masuk. Membuka lebar-lebar lemari di samping pintu dan mengeluarkan kemaja putih serta rok kotak-kotak warna biru tua. Meletakkannya di atas ranjang sebelum ia kembali menatap dirinya yang hanya bisa berdiri diam.

"Sayang, jangan melamun. Ayo siap-siap. Mama tunggu di ruang makan."

Namun ia hanya bisa berdiri diam di sana. Memandang pintu yang telah membawa pergi wanita yang baru saja ia temui.

Ia sama sekali tak mengerti. Wanita itu begitu asing. Senyuman itu, tingkah laku itu. Seakan tak ada satu pun hal yang membuatnya mengetahui siapa dia. Namun, entah kenapa rasa itu diam-diam menyusup. Menjalarinya dengan rasa nyaman yang menggelitik seakan kehadiran wanita itu bukanlah hal yang asing baginya. Hanya bagian dari kehidupannya yang telah lama ada.

Sebuah bisikan hadir dalam kepalanya. Berbisik pelan dan menuntunnya memasuki pintu lain di dalam ruangan hingga tubuhnya bergerak begitu saja menurutinya. Membasahi dirinya dengan air dan mematut diri di depan cermin. Memandang seorang gadis remaja dengan kemaja putih dan rok biru tua yang menatapnya dari balik cermin. Sama sekali tak mengenal sosok yang kini menatap balik ke arahnya. Rambut lurusnya bahkan senyum itu terasa bagai sosok asing yang tak ia ketahui.

Bisikan itu kembali terdengar. Membawa tubuhnya mengikuti tiap gerak yang suara itu perintahkan kepadanya. Melewati lorong rumah hingga tubuhnya berhenti di sebuah ruang dengan meja makan di tengahnya. Seorang pria yang duduk di kursi dengan koran di tangan serta seorang wanita yang tadi ia temui telah sibuk menata piring di atas meja. 

"Akhirnya siap juga. Ayo duduk, sayang. Kita sarapan."

Perasaan nyaman itu untuk kedua kalinya menyusup. Membawa kehangatan yang tak ia pahami hingga bisikan itu kembali menggerakkan tubuhnya untuk duduk bersama mereka. Memasang senyum di wajah dan menggerakkan tangannya untuk menyendokkan makanan di atas piring.

Namun ia hanya diam. Tubuhnya bergerak begitu saja tanpa pernah ia perintah. Menyesap rasa yang ada tanpa pernah bisa melakukan apa pun. Seakan bisikan itulah yang menggerakkan tubuhnya bukan dirinya. Merasa hanya sebagai penonton yang diam memandang pertunjukan di hadapannya.

Tubuhnya seakan tak pernah ia miliki. Mengkhianati pikirannya yang mencoba untuk diam dan berhenti. Namun sesuatu dalam dirinya langsung menggelora. Melumpuhkan dirinya hingga ia hanya bisa diam. Memandang tubuhnya yang kembali bergerak tanpa terucap. Mulutnya yang berucap entah apa dan tubuh yang entah bergerak kemana. Ia tak tahu. Ia hanya bisa diam memandang ketika tubuhnya beranjak pergi.

Dimana ia sebenarnya?

Rumah-rumah asri berjajar di setiap sisinya. Jajaran pohon rindang sedang sibuk memayunginya. Kakinya kembali melangkah. Membawa dirinya semakin jauh meliwati bangunan demi bangunan hingga ia berhenti di sana. Sebuah gedung berlantai dua yang nampak asri dengan gerbang besi melengkung yang menghiasi pintu depannya. Orang-orang nampak berdiri tak jauh darinya. Berarak masuk dengan penampilan yang serupa dirinya.

Tubuhnya kembali bergerak tanpa ia perintah. Melewati gerbang lengkung dan masuk menuju lorong dengan deretan kelas yang tertata rapi. Lagi-lagi ia hanya diam. Memandang tiap gerak tubuhnya dan mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Semua seakan bergulir begitu saja. Terus seperti itu hingga ia tak lagi memahami waktu yang terus bergulir melewatinya.

Semua terasa begitu lambat seakan sedang mengejek ketidakberdayaannya. Ia hanya bisa menonton dalam diam ketika dirinya sama sekali tak mampu memerintahkan tubuhnya. Semua di luar kendalinya. Bisik-bisik itulah yang mengatur segalanya. Tiap inchi tubuhnya. Tiap gejolak rasa yang hatinya rasakan. Itu semua telah diatur.

Ini sudah terlalu memuakkan. Ia jengah hanya diam melihat. Ia memiliki kehendaknya sendiri. Ia tak ingin hanya diam dan menonton.

Langkah kakinya kembali membawanya pergi. Melewati jalan-jalan yang tak ia ketahui. Terus berbicara dengan kata-kata yang tak sanggup ia pahami.

Dimanakah ia sebenarnya?

Bagaimana ia bisa berada di sini? Di dalam tubuh yang bahkan tak bisa ia kendalikan.

Dimanakah ia?

Namun lagi-lagi bisikan itu terdengar. Begitu keras dan penuh penekanan. Memaksanya untuk kembali diam dan menurut. Membawanya meringkuk hingga kini ia berada di tepian.

Ia tak ingin. Gelora itu lagi-lagi menghimpitnya. Menyesakkannya dalam kegelapan yang tak berujung. Merenggut tiap napas yang coba ia hirup.

Ia ingin bebas. Berhenti menjadi seseorang yang menyedihkan yang hanya bisa diam meringkuk dan menjadi penonton. Ia ingin merasakan tiap inchi tubuhnya. Bergerak bebas tanpa harus terkekang dengan rasa sesak yang menyiksa

Bisik itu kembali hadir. Bukan sebagai bisikan yang terdengar pelan, namun penuh amarah. Semakin menghimpitnya hingga ia tak sanggup lagi bergerak. Kegelapan telah menyebar. Menenggelamkannya hingga ke dasar yang paling gelap. Menimbunnya hingga tiap rasa telah hilang darinya. Dan untuk terakhir kalinya suara itu kembali berbisik. Menghantarkan kegelapan lain untuk menghilangkannya.

"Akulah penciptamu. Kau hanyalah tokoh dalam dunia yang kuciptakan. Dalam bukuku. Jadi diamlah dan menurut."


Komentar

share!