Transparan


Oleh: Vinny
 
Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya ia menekan kenop pintu kamar bercat cokelat itu.

Sorot mata lelah berhamburan menyambut dirinya yang masih mematung diambang pintu.

"Aku tidak mengerti."

Ia tidak menghiraukan keluhan itu, dan lebih memilih untuk meneliti kondisi kamar dihadapannya. 

Kedua tungkainya bergerak tenang seraya melihat satu per satu buku yang cukup tebal dengan judul-judul yang membuat ia mengerutkan dahinya.

"Kenapa dia menyukai buku-buku sastra lama Indonesia disaat dunia dikepung oleh vampire, robot, manusia mutan, ninja kura-kura, dan boyband Korea?"

Ia masih bisa mendengar suara sahabatnya itu, meskipun sedikit terganggu suara-suara bising di luar sana. Dan ia nyaris terbahak mendengarnya.

Bola matanya kini bergerak meneliti sahabatnya yang terduduk di lantai dengan bersandar pada tempat tidurnya.

"Aku hampir gila."

Lagi. Ia harus menahan desakan tawa itu. Hingga akhirnya, ia memilih untuk duduk di kursi belajar milik sahabatnya. Posisinya yang lebih tinggi, membuat dirinya seolah sedang mengeksekusi laki-laki di hadapannya itu.

Kacamatanya tergeletak asal dengan setangkai mawar hitam yang nampak sedikit layu.

"Kenapa juga perempuan itu memberikanku mawar hitam?! Apa itu tandanya ia tidak menyukaiku atau apa, Jo?"

Mendengar penggalan namanya disebut, berhasil menarik fokus perhatiannya dari si mawar hitam.

"Setidaknya bukan bunga Lili, Ram. Jadi masih aman." Jawab Jo.

Sorot mata tajam milik laki-laki yang dipanggil 'Ram' itu melesak cepat kearah Jo. Itu Rama Dirgantara, sahabat Jo.

Jo memberikan cengiran sambil bersandar pada punggung kursi, "Jadi, ada apa ini?" Tanya Jo sambil menggerakkan dagunya kearah buku-buku itu.

Rama mendengus pelan sambil menggunakan kembali kacamatanya, "Jangan sok polos, Jo."

Jo terkekeh pelan, "Aku bisa saja salah mengerti Ram. Lagipula, aku lebih suka jika kita berbicara, bukan membaca." Jo memberi penekanan pada kata terakhirnya. "Dan lagi, terlalu berisik. Aku bukan hanya bisa mendengar suaramu saja tahu!"

Jo memijit pelipisnya, seolah-seolah berada disini membuat kepalanya pusing. Kali ini, Rama yang terkekeh.

"Dasar sombong!" Cibirnya. "Bersyukurlah sedikit, disaat seperti ini aku justru ingin memiliki kemampuan itu."

Jo terdiam saat menemukan sorot mata Rama meredup, membuatnya segera mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Yah...terkadang rumput tetangga memang kelihatan lebih hijau kan?"


Komentar

share!