Tersenyum



Oleh: Vinny

Dari tempatnya, ia bahkan masih bisa merasakan antusiasme yang timbul dari gadis yang tengah duduk di depannya sambil memegang sebuah kotak makan.

"Kamu benar-benar membawa roti itu, ya?"


Gadis yang duduk di depannya itu menarik kedua sudut bibirnya, "Iya. Kita kan buat ini susah payah kemarin! Aku mau kasih—Eh? Dia datang!"

Kepalanya menoleh mengikuti arah pandang gadis di depannya.

"Jo!" Serunya.

Ia melirik kearah gadis di depannya yang kini tersenyum sumringah, sedangkan pria yang dipanggil Jo hanya memasang wajah datarnya sambil berjalan mendekati mereka.

Ia mengalihkan pandangannya begitu mata laki-laki itu mengarah padanya.

"Jo, kamu mau coba ini gak?"

"Woah, kamu bawa roti ya, Kei?" Rama tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Jo. "Aku boleh coba?"

Belum sempat Keisha menjawab. Tangan Rama yang terjulur untuk mengambil roti tiba-tiba saja berhenti di udara, "Pagi, Rama."

Rama nyengir, "Pagi juga, Nara."

Keisha nampak terkekeh pelan, sedangkan Jo hanya bisa mengulum senyumnya.

"Ambil aja, Ram. Tadi juga anak-anak yang lain sudah ambil ko." Ucap Keisha. "Kamu juga ya, Jo."

Rama memicingkan matanya kearah Nara sambil menyeringai, membuat Nara hanya menatapnya datar. Bukannya mengalihkan pandangannya, Rama justru membalas tatapan Nara dengan semakin memicingkan matanya dengan tangannya yang mengambil roti di kotak bekal Keisha.

Hal itu, justru membuat Nara ikut memicingkan matanya. Hingga mata mereka menutup rapat dan tawa mereka terlepas.

Keisha ikut tertawa, meskipun ia tidak mengerti apa yang membuat hal itu lucu, sedangkan Jo hanya menggelengkan kepalanya.

"Kamu buat sendiri, Kei?"

Suara Jo seolah menjadi penenang situasi, karena kini mereka terdiam. Keisha menatap kearah kotak bekalnya dengan berbinar, kemudian kembali menatap Jo dan menganggukkan kepalanya, "Aku yang buat roti itu."

Sisa-sisa tawa Nara kini benar-benar menghilang dari wajahnya, dan menatap kearah Keisha, kemudian terganggu dengan roti berbentuk hati yang dipegang oleh Jo.

"Nara juga membantuku kemarin." Keisha menoleh ke arah Nara, membuat Nara harus menarik kedua sudut bibirnya.

"Aku yang membentuk roti itu." Tambah Keisha.

Nara mengalihkan pandangannya, kemudian menatap kearah Rama.

"Rasanya bagaimana, Ram?"

"Kayaknya, karena ada tangan kamu deh." Jawab Rama dengan mulut yang masih mengunyah rotinya. Nara menyibakkan rambutnya dengan sedikit berlebihan. Namun detik selanjutnya, gadis itu justru merasa ingin membalikkan mejanya.

"Jadinya, kurang enak, Nar."

Keisha terkekeh pelan, sedangkan Rama kembali nyengir. Nara yang pada awalnya menyorot tajam kearah Rama, kini tertawa pelan.

Bola matanya entah kenapa kembali bertabrakan dengan bola mata hitam legam milik Jo lagi.

Untuk sesaat, ia menikmati bola mata hitam milik Jo itu, namun ia segera mengalihkan pandangannya.

"Bagaimana rasanya, Jo?" Keisha bertanya penuh minat.

Nara hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi dengan tangannya yang saling terpaut.

"Kayaknya, karena ada tangan Nara, nih." Jo menatap Nara, membuat ia mendapatkan perhatian dari gadis itu. "Jadi, kurang enak."

"Tuhkan!" Rama kembali bersuara sambil menunjuk-nunjuk Nara.

Nara menghembuskan nafas kasar. Kini tangannya terlipat di dadanya.

Keisha kembali tertawa, namun terhenti ketika Jo kembali membuka mulutnya.

"Bercanda." Jo sedikit menyunggingkan bibirnya dan mengangkat sisa rotinya. "Ini enak, kok. Terima kasih."

Nara menatap kearah Jo, sebelum akhirnya beralih pada Keisha yang menatapnya.

Ia membalas senyum Keisha, meskipun dadanya terasa panas dan dingin disaat yang bersamaan.


Komentar

share!