Terima kasih


Oleh: Vidya

"Halo, Van! Udah lama nunggu?"

Seseorang baru saja menarik kursinya di sampingku lalu mendudukinya.

Aku terkekeh dalam hati tanpa ada hasrat untuk menoleh kepadanya. Pandanganku masih terpikat pada bait-bait skenario dari sang penulis novel yang sedang kuselami. Namun, hatiku berontak menyuruh mataku untuk menoleh ke arahnya.
"Stupid Question. Jelas cukup lama untuk menunggu kamu sadar bahwa ada aku disini yang selalu mengharapkanmu disetiap lembar kehidupanku. Tapi sayangnya, kamu tak pernah sadar akan hal itu," ucapku getir di dalam hati.

Hanya saja, nyaliku tak seberani itu untuk mengatakannya. "Eh? Engga biasa aja ko."

Ya, sudah biasa dalam arti kamus yang sebenarnya adalah 2 jam menunggu dia untuk membuan waktu selama itu dengan calon pacar barunya. Dan bodohnya aku, aku malah mau menunggunya.

"Yuk mulai."

Aku mulai mengikuti kata hatiku untuk perlahan menoleh kepada salah satu ciptaan Tuhan yang mampu membuat hatiku jatuh bangun karenanya. Ia tersenyum kepadaku.

"Jangan! Kumohon jangan," tolakku dalam hati namun mulutku berkata lain.

"Sekarang?"

"Yap kapan lagi? Udah siap kan?"

Belum. Aku belum siap untuk patah kesekian kalinya.

"Udah." Lagi dan lagi mulutku terus saja menyuarakan kedustaan.

"Gak salah aku ngandelin kamu. Makasih ya. Kamu emang terbaik deh. Aku yakin dia pasti 100% nerima aku."

Dan aku akan kembali menjadi layaknya perempuan dengan hati yang cukup rapuh untuk bersandiwara.

"Aku juga."

Senyum yang kupaksakan terukir di wajahku saat orang yang ada di depanku malah memelukku erat.
Namun, rasa nyeri di hati ini tak bisa tertahankan lagi.

Kuat, Van. Kuat. Lo pasti bisa, ucapku dalam hati berupaya untuk mensugesti agar cairan bening di mata ini tidak jatuh membasahi pipiku.

***

Sekiranya percakapan seperti itulah yang masih terukir di benak ini beberapa bulan yang lalu. Aku merebahkan punggungku pada kursi kayu di lantai 3 dekat jendela di timur perpustakaan universitas dan menutup mata sejenak untuk menguapkan emosi yang sudah bergumul di otak ini.

Hari ini, kejadian itu kembali terulang untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini entah mengapa rasa kekecewaanku lebih mendalam dari sebelumnya.

Dari sini, aku bisa melihatnya walau hanya setitik. Namun, efek yang ia berikan kepadaku lagi-lagi berhasil meruntuhkanku.

Tanganku mulai menggerakkan pena untuk mengukir kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga menjadi sebuah pesan.

Tak terasa beberapa butiran air mata ini membasahi kertas yang sedang kutulis. Berbagai macam emosi negatif kini mulai menyerbu emosi positif yang selama ini kupertahankan. Baik, aku mengakui kekalahan telak ini.

"Selamat, kamu menang lagi, Ram."

Aku pun menyobek kertas itu lalu meremukkannya dan melemparnya ke luar jendela.

Komentar

share!