Stage



Oleh: Tina

"Aku tidak mencintaimu! Ku bilang, pergi!!"

"Aku mohon beri aku kesempatan se-"

"Pergi, Ramon! Pergi!!" Ucapku lantang. Aku melihat tatapan sayunya. Tubuh Ramon melemas, dan jika tidak salah lihat, ada yang tergenang di pelupuk matanya.


Aku menatapnya tajam, seseorang yang teramat kucintai, harus rela dilepaskan. Aku dan Ramon tidak mungkin bersama, keluarganya tidak pernah menyetujui hubungan kami sejak awal. Aku hanya wanita yang lahir dari keluarga biasa, tidak pantas bersanding dengan putra Keraton.

Sekali lagi aku menatap Ramon, sedikit iba namun harus cepat-cepat kusembunyikan agar aktingku berhasil.

"Pergilah! Aku membencimu." Ucapku seraya pergi meninggalkannya. Satu langkah, dua langkah. Tanganku tertatik oleh seseorang, tubuh ini limbung, jatuh dalam pelukan.

"Terulah berucap kau membenciku. Beribu kali kau ucapkan itu, aku tetap mengetahui isi hatimu yang sebenarnya." Dan dia memelukku semakin erat.

"CUT! cukup untuk pola lantai hari ini. Semua masuk ke ruang make up. Pertunjukan dimulai 2 jam lagi." perintah Rendra.
"Untuk peran Jannah dan Ramon sudah siap?" lanjutnya. Aku dan Alfa -pria yang memerankan tokoh Ramon- mengangguk. Semua crew dan aktor bersiap ke ruang make up untuk berbenah termasuk diriku. Setting panggung sudah dirancang, tirai pun sudah ditutup. Aku siap untuk pertunjukan hari ini.

"Semoga acaranya nanti sukses ya, Astri." Aku menoleh, mendapati Alfa tersenyum.

"Ya. Aku harap juga begitu, Alfa."

"Semangat, sayang." Ucap Alfa sambil mengacak puncak kepalaku. Dan perkataannya membuatky tertegun. Dia tidak pernah sadar jika ucapan dan tindakannya sering membuat jantung ini berdetak lebih cepat bahkan membuat jari-jariku gemetar. Untuk kesekian kalinya reaksi itu hadir kembali. Menghadirkan perasaan bahagia dan geli dalam perutku. Aku tersenyum, mengingat setiap tindakan Alfa padaku. Ya, hanya padaku.

"Aku sunggung mencintaimu, Alfa." Ucapku dalam hati.


Komentar

share!