Sesuatu yang Membuatmu Senang Ketika Sedih dan Membuatmu Sedih Ketika Senang



Oleh: Ditania

"Diminum dulu tehnya," aku menyodorkan segelas teh yang masih mengepulkan asap kepada gadis itu.

Sudah lebih dari sepuluh kali gadis itu datang ke saung ini. Aku sering melihatnya selepas bekerja di sawah. Anehnya, dia tidak pernah terlihat gembira. Jika dia duduk di saung ini, yang dilakukannya pasti hanya merenung, menulis-nulis sesuatu di buku hijaunya, atau bahkan menangis.

Jangan tanya siapa namanya. Setiap kali aku bertanya, dia hanya diam. Dia hanya diam sepanjang waktu. Jangankan menjawab pertanyaanku, melihatku saja dia tidak mau. Tetapi sudah menjadi adat kami, orang-orang desa, untuk menjamu tamu dengan baik. Maka seburuk apapun dia memperlakukanku, aku tetap ramah padanya.

Awalnya kupikir gadis itu bisu. Tetapi prasangkaku terpatahkan, karena aku sering melihatnya memakai seragam sekolah, tertawa bahkan bercanda dengan teman-temannya. Tentu aku melihatnya di luar saung ini. Dan ketika aku melihatnya lagi di saung ini, wajahnya kembali sedih. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalaku. Apakah gadis itu mempunyai kembaran? Yang satu si periang dan yang satu si malang? Bagaimana mungkin satu orang bisa terlihat begitu berbeda sikapnya?

"Sudah hampir malam, kau harus pulang," kataku kepada gadis itu.

Tanpa sepatah kata pun, dia berdiri,  memakai sandalnya dan pergi begitu saja.

Aku melihat buku hijau di pojok saung. 

***

"Laras, ini sesuatu yang bisa membuatmu senang ketika sedih dan membuatmu sedih ketika senang." Lebih dari tujuh kali aku berlatih untuk mengatakan ini.

Ya, aku membaca buku hijaunya. Namanya Laras. Katanya, dia ingin sekali memiliki hal yang bisa membuatnya senang ketika sedih dan membuatnya sedih ketika senang. Malamnya aku tidak tidur. Aku membuat sebuah gelang yang bertuliskan "WAKTU TERUS BERJALAN, SEMUA AKAN SEGERA BERLALU".

"Ambillah, Laras."

Dia melihat gelang yang aku pegang. Sepertinya dia sedang mengeja kata-kata yang tertulis. Aku mulai melihatnya tersenyum. Dia mengambil gelangnya dan memakainya. Kemudian dia berdiri, memakai sandal, dan pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan apapun.

Setelah kejadian tersebut, Laras tidak pernah lagi datang ke saungku. Aku masih sering melihatnya bersama teman-temannya. Pernah suatu saat kami bertemu, tetapi sepertinya dia tidak mengenalku. Yang selalu kupastikan adalah, dia selalu memakai gelang itu.

Sekarang hatiku kosong. Yang separuh aku titipkan pada gelang itu dan yang separuh telah dicuri oleh Laras. Aku tahu dia tidak akan pernah menyadarinya.


Komentar

share!