Purnama Taman Lavia



Oleh: Sidik

Panji melangkah perlahan memasuki kerumunan itu. Taman Lavia, tempat itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru kota di negeri ini. Pesta malam purnama sedang belangsung. Sesuai dengan tradisi yang berlaku di negeri ini, semua yang datang di pesta purnama tidak boleh menampakan identitasnya. Sebagai salah satu aturanya yaitu mereka harus menggunakan topeng. Topeng dengan bulu warna-warni menghiasi di bagian atas mata topeng. Begitu juga dengan Panji, dia tidak lupa mengenakan topeng hitam dengan bulu warna biru menghiasi bagian atas matanya. Tuxedo hitam yang ia kenakan membuat penampilanya semakin elegan. Namun tidak dengan ekspresi wajahnya yang kini nampak gelisah. Ada yang sedang dicari.


Shit, ramai sekali. Kalau begini situasinya, bagaimana aku bisa menemukanya, rutuk Panji dalam hati. Panji terus berjalan menembus kerumunan orang yang begitu riuh. Meski gelisah, matanya tetap fokus menyapu seluruh wajah yang dilihatnya, berharap segera menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. Tiba-tiba langkahnya semakin pelan bahkan seketika berhenti. Kini panji tepat berada di tengah kerumunan di Taman Lavia saat matanya menangkap sesosok yang membuatnya terpaku. Matanya tak henti menatap, tegak lurus tepat tertuju pada air mancur di tengah Taman Lavia. 

Itu dia, batin Panji sedikit lega. Tersungging senyuman miring dari bibirnya. Kini dia kembali melangkah mendekati air mancur. Namun ternyata bukan air mancur yang ditujunya, melainkan sosok wanita yang begitu anggun berdiri di dekat air mancur. 

“Lavia” ucapanya begitu lirh memanggil wanita yang kini menoleh padanya.

Seketika hening, wanita yang dipanggil Lavia itu tak menjawab. Topeng merah hati dengan bulu-bulu putih mencoba menutupi siapa sosok di balik topeng itu. Namun tidak bagi Panji yang begitu mengenali sosok Lavia bahkan di balik topeng sekalipun. Matanya kini menatap begitu tegas hingga mata dua sejoli itu kini bertemu dalam jarak yang hanya sepersekian centimeter saja. Senyuman pun tak dapat di bendung lagi, mengalir diantara keduanya. Entah seiapa yang memulai, kini dua sejoli itu telah menyatu dalam pelukan kerinduan yang begitu hangat. Sangat erat mereka berpelukan, mengabaikan pandangan dari keramaian orang yang ada di taman itu.  

Teng ... teng ... teng .... suara lonceng menara yang ada di taman telah berbunyi. Ini adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang yang ada di Taman Lavia. Ya, lonceng itu selalu berbunyi secara otomatis saat malam purnama. Entah apa yang membuat lonceng itu berbunyi secara otomatis, yang pasti, bunyi lonceng itu pertanda pesta akan segera usai dan akan ditutup dengan pesta dansa.

Seketika semua orang yang ada di Taman Lavia sudah berpasang-pasangan dan mulai berdansa. Begitu juga dengan Panji dan Lavia yang kini berdiri berhadapan. Perlahan tangan Lavia melingkar di atas bahu Panji, dengan otomatis tangan Panji memeluk pinggang Lavia. Dalam hitungan detik dua sejoli ini juga mulai berdansa mengikuti alunan musik. Kedua pasang mata itu saling bertatapan mesra di balik topeng yang berbulu yang dikenakan keduanya. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Malam ini menjadi milik mereka berdua meskipun pada kenyataanya ribuan orang asing memenuhi pelataran Taman Lavia.

Teng... teng... teng... suara lonceng kembali berbunyi ketika jarum jam pada menara menunjukan tepat pukul dua belas malam. Seketika itu alunan musik terhenti, begitu juga dengan pesta dansa yang dari tadi berlangsung.  

Nampaknya suara lonceng itu juga menghentikan dan juga melepaskan pelukan Panji dan Lavia. Sial, kenapa begitu cepat! Panji kembali mengutuk dalam hati. Matanya kini menatap tajam pada jam tangan yang ia kenakan.

Seulas senyuman yang dipaksakan tersungging dari bibir Panji. “Aku harus pergi Lavia, kita akan bertemu lagi saat purnama tiba” Panji kembali tersenyum meyakinkan pada Lavia bahwa dirinya akan kembali menemuinya saat purnama tiba. Saat pesta dansa bulan purnama di Taman Lavia.


Komentar

share!