Never



Oleh: Venti

Terkadang, seseorang harus bisa belajar untuk merelakan. Sama seperti saat ini, saat perasaan harus diuji.

"Udah siap?" tanyaku pada pemilik mata cokelat yang selalu membayangi malamku, Ange.


Gadis itu tersenyum. Senyuman sama seperti hari-hari sebelumnya. Senyuman yang membuatku jatuh hati padanya. "Siap dong kak!" ujarnya bahagia.

Dia bahagia. Berarti aku pun harus bahagia.

Terakhir, aku lihat dirinya duduk bersanding dengan pria pilihannya. Bersandar pada tirai merah, merajut kasih berdua di atas kepingan hatiku yang retak.

Aku tersenyum getir. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa untuknya. Aku hanya seorang kakak laki-laki baginya.

Kakak yang tanpa sengaja jatuh hati padanya...


Komentar

share!