Manekin Penuh Makna


Oleh: Mili
 
“Selamat pagi,” sapa seorang pegawaiku.

“Selamat pagi juga semua,” sapaku pada seluruh karyawan di butikku.

Setelah menyapa seluruh karyawan di toko kaki pun melangkah ke kantor pribadi ku yang terletak di lantai 2. Ku dudukan diriku di kursi yang ada meja kerja seperti hari-hari biasa dan mulai berkutat dengan rancangan gaun pernikahan pesanan pelanggan. Tak berselang lama ada seseorang yang mengetuk pintu ruanganku.

“Masuk!” seruku pada seseorang tersebut.

“Jadi  re...gimana pesanan gaun pengantin klien mu? Sudah jadi?”

Setelah mendapatkan pertanyaan dari asisten sekaligus sahabatku yang bernama Vina ini kualihkan fokusku untuk menatap mukanya.

“Menurutmu?” tanyaku sambil terkekeh 

Dia membalas tatapanku dengan memutar bola matanya malas.

“Haha tampangmu jelek kalau seperti itu, sini aku perlihatkan gaun pengantin itu,”. Ucapku sambil berjalan menuju manekin di sudut ruanganku. “Ini gaunnya menurutmu gimana, vin?”

“Bagus sih cuman...” pandangannya berpindah dari gaun menuju ke arah manekin tempat gaun tersebut dipakaikan. “kenapa harus di manekin itu? Lihat deh ekspresinya gak cocok dengan gaun indahmu itu,” sambungnya.

“Ck, kamu selalu berkomentar seperti itu pada setiap gaun pengantin yang aku selesaikan dan aku pasang di manekin ini. Sebenarnya ada makna kenapa aku memakaikannya di manekin itu”

“Hm.. menarik apa alasanmu?” ucapnya dengan penuh antusias.
“Pertama, kau lihat kenapa wajah di manekin ini seperti orang sedih? Itu alasannya mudah karena di hari pernikahan kamu akan merasakan perasaan yang campur aduk. Bisa sedih karena bahagia, sedih karena harus berpisah dengan orang tua, atau sedih karena dia akan mempunyai tanggung jawab sebagai seorang istri”

“Hm masuk akal juga. Terus...katamu itu cuman alasan pertamamu?” tanya nya dengan rasa penasaran yang semakin bertambah.

“Oke alasan kedua, kau lihat diatas wajahnya ini terdapat sebuah benda layaknya mahkota? Pernah dengar istilah bagai ratu semalam kan? Nah itu maksudku setelah dia mengalami peran batin dia akhirnya berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melalui kehidupan di pernikahannya nanti,” ucapku seraya melihat wajah penuh antusias asistenku.

“Ah..ah..aku mengerti sekarang jadi karena dua alasan itu kamu memakaikannya di manekin itu?” ucapnya sambil menunjuk manekin yang ada di sebelah ku.

Aku yang melihatnya hanya terkekeh melihat ekspresi konyolnya itu “Tentu saja tidak, Vina! masih ada alasan terakhir”. Aku pun berjalan menuju lemari penyimpanan yang ada di ruanganku dan mengambil manekin yang sama tapi yang ini tanpa menggunakan mahkota di kepalanya.

“Untuk apa itu?” tanya Vina.

Aku yang mendengarkan pertanyaan Vina hanya diam sambil mengatur pose manekin yang barusan kuambil, setelah dirasa sudah cukup aku pun menjawab pertanyaannya.

“Oke sekarang kamu lihat kan ada dua manekin di situ yang satu tanpa mahkota yang satu memakai mahkota. Kita ibaratkan yang memakai mahkota adalah si perempuan dan yang tidak adalah si laki-laki. Kemudian kau lihat tangan si laki-laki seperti ingin menghapus airmata si perempuan kan?”

 “Sebenarnya si laki-laki itu juga ingin menangis, cuman emang dasar lelaki ya..yang selalu berusaha kuat di segala keadaan jadi dia hanya menangis dalam hati. Tapi bukan itu poin utamanya, dia ingin menghapus airmata itu dan meyakinkan si perempuan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jadi sekarang kamu mengerti kan alasanku?” tanyaku padanya.

Asisten sekaligus sahabatku itu akhirnya menyetujui perkataanku.

“Ya ya ya aku mengerti alasanmu memang cukup kuat...maaf aku selalu melihat itu dari penampakannya saja dan aku gak menyangka manekin itu penuh makna,” Ucapnya seraya tersenyum 

"Ya kau benar manekin penuh makna" ucapku.


Komentar

share!