Kontradiksi Dalam “Aku”



Oleh: Eni

"JELEK!" kataku. 

Kebiasaanku memang tak berubah, mematut diri paling lama di toilet sekolah. Sudah biasa, begitu kata teman-temanku.

"Hitam, rambut kusut, ditambah...."

"Sudah, Haura. Cukup!" Seseorang berteriak, suara yang amat kukenal. Ah, dia datang lagi, dia... mengusikku lagi.

"Kamu nggak bisa ya, satu kali aja bersyukur sama Tuhan yang sudah menciptakanmu. Lihat, yang ada padamu itu sempurna."

Aku tertawa, sudah bosan rasanya mendengar ocehan gadis yang mengaku satu raga denganku ini. Kita berbeda, jalan pikiran kita saja selalu bertolak belakang.

"Diem kamu, Rara! Nggak usah sok nasehatin. Aku udah muak. Bisa nggak jangan campurin urusan orang dan jangan ngikutin aku terus!"

"Tapi aku benar, kan? Kalau bersyukur itu melegakan, kenapa memilih gelisah dengan terus mengeluh?"

Aku diam. Rara kalau dilayani tidak akan berhenti, dia akan terus-terusan bicara. Membuat kepala pusing!

"Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu bersyukur? Bukankah saat itu adalah kali terakhir kamu merasa tenang?"

"Diam!" kataku.

"Aku nggak akan diam, Haura. Sampai kamu sadar!" katanya. "Kamu tidak boleh diperbudak oleh penilaian orang. Pendapat mereka justru menggambarkan siapa mereka. Bukankah, yang menyayangimu tak butuh sebagus apapun rupa yang kamu miliki? Mereka hanya ingin kamu menjadi kamu yang istimewa. Kamu punya bakat. Tunjukkan! Fisik bukan satu-satunya penilaian mutlak. Lima puluh tahun lagi juga akan berubah."

"DIAM!!!"

"Tidak, Haura. Ini kenyataan. Ibu kita, keluarga kita, semuanya baik-baik saja dengan fisikmu. Kenapa harus berusaha jadi orang lain untuk diakui? Pengakuan dari mereka karena fisik tidak akan habis dan tidak akan bertahan lama. Bukankah ketika ada yang lebih cantik mereka akan menjadi pemujanya juga. Atau sebaliknya, akan ada yang lebih jelek dan mereka akan memperlakukannya sama sepertimu. Begitulah mereka. Jadi...."

PRAANGHH!

Kupecahkan ia, yang sedari tadi tak berhenti berbicara. Perdebatan ini tidak akan selesai kalau dia masih berdiri di depanku.

Tubuhku berguncang hebat. Mataku kemudian sembab. Lantas jiwaku rasanya lemas.

Aku lelah berdebat dengan diriku sendiri.


Komentar

share!