Di Balik Tirai



Oleh: Siti

"Ayo teman-teman, kita harus semangat. Jangan loyo! Besok jadwal pengambilan gambar kita mulai. Jangan sampai ada yang telat. Menpro juga jangan sampe telat buat ngebangunin all crew dan para aktor! Okeeee semuaaa?" teriak seorang laki-laki yang baru setahun kukenal.

"Oke, semangat untuk kita semua!" teriak salah seorang crew yang diikuti oleh crew lain dan para aktor. Semua serempak menyebut kata "oke".


Oke, sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Melisa, orang awam yang baru kukenal pasti menyangka nama panggilanku adalah Ica. Tapi salah. Nama panggilanku adalah Imel, meskipun nama depanku bukan Imelda atau semacamnya. Hari ini aku sedang menggarap sebuah film untuk diikutkan dalam lomba yang diadakan oleh salah satu kementerian di Indonesia ini. Digarapan ini aku memegang peran sebagai manajer produksi atau disingkat menpro. Aku ditunjuk langsung oleh sutradara. Jujur saja, ini kali pertama aku ikut terlibat dalam dunia perfilm-an.

Esok harinya aku bangun pukul setengah 7. Aku terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidur. Kemudian aku membangunkan seluruh crew dan aktor. Ketika semuanya sudah bangun dan sarapan sudah siap, sutradara menegurku karena aku telat membangunkan 30 menit. Kemudian tanpa ceramah panjang dia langsung membawa seluruh aktor dan crew ke lokasi syuting. Aku hanya merasa minder disana dan sang sutradara mengacuhkanku. Aku merasa ini adalah kesalahanku yang kesekian kalinya. Jujur saja, aku merasa mempunyai banyak kesalahan ketika pra produksi sampai produksi pada hari ini. Kemudian sang sutradara memanggilku, "Menpro, kamu siapkan makan siang saja. Masalah di lapangan biar kami yang bereskan. Oh ya, masalah keuangan, keuangan kita masih ada kan?". Lalu spontan aku jawab, "Keuangan masih stabil. Oke, saya pamit dulu." kataku sambil berlari menuju rumah seorang warga yang kami sewa untuk tempat tinggal kami selama produksi.

Di perjalanan, aku menangis sambil berpikir. Ternyata membuat film itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada senang dan duka yang terkandung di dalamnya. Sekarang aku menjadi menpro bukan karena kemauanku. Kalau karena  kemauanku, pasti aku sudah menyesal dan mengundurkan diri lebih dulu. Terlintas juga sesuatu dalam pikiranku bahwa membuat film itu tak mudah, namun sebanyak apapun perjuangan orang dibalik tirai, yang nantinya terkenal di mata publik pasti aktornya. Beginilah proses di balik tirai. Kataku dalam hati seraya menghapus air mata di pipi.

Komentar

share!